Kalau saja bukan Mohtar Lubis (alm) yang memberi pengantar pada buku ini, saya mungkin tidak akan pernah tertarik membelinya. Padahal ketika itu, di suatu pameran buku di gedung Landmark-Bandung pada Februari 2009, buku ini cuma dibandroli Rp 10.000. Kenapa buat saya pengantar dari Mohtar Lubis menjadi penting di buku ini?
Elie Wiesel, nama y
ang seringkali saya dengar, namun makin terngiang-ngiang di kepala gara-gara nonton salah satu episode “Oprah Winfrey Show”. Dalam episode tersebut, Oprah—di tengah cuaca bersalju—berjalan-jalan sambil menggandeng mesra lengan Wiesel, mengunjungi tempat-tempat yang disebut Wiesel dalam “Night” sebagai ladang pembantaian kaum Yahudi, di mana Wiesel pernah menjadi penghuninya. Tempat tersebut antara lain Kamp Auschwitz yang masyhur itu.Jelaslah, mengapa buat saya yang seorang muslim (meskipun muslim pas-pasan, heu!) menjadi penting siapa yang memberi pengantar pada buku tersebut. Saya sebenarnya tidak terlalu mengenal Mohtar Lubis seperti halnya saya “kenal” pada Nurcholis Majid (alm). Namun saya tahu, Mohtar Lubis adalah salah seorang sastrawan yang diperhitungkan pada masanya di negeri ini. Dan yang lebih penting lagi dalam kaitannya dengan buku yang diterjemahkan ke dalam
Membaca “kata pengantar” Mohtar Lubis dalam “Malam”, saya merasa dibantu menginterpretasikan penuturan Wiesel di bukunya itu. Apa yang ditulis ML (Mohtar Lubis), telah dengan cukup tepat merepresentasikan apa yang ada dalam pikiran saya (kecuali beberapa hal, seperti mengenai jumlah korban holocaust). ML menulis: membaca buku ini… seakan kaum Nazi bukan lagi manusia ciptaan Tuhan, akan tetapi makhluk-makhluk mahabuas yang menjelma menyerupai manusia.
Padahal seperti juga ditulis ML, Wiesel menuturkan pengalamannya dalam buku ini dengan cara bersahaja. “Seakan ia menulis pengalaman biasa yang se
tiap hari dialami manusia,” tulis ML. Bahkan menurut saya, Wiesel seolah-olah menceritakan kembali pengalamannya ini dengan menggunakan pikiran remaja 15 tahun, usia saat Wiesel mengalami kejadian tersebut, yang mungkin belum terlalu memahami gonjang-ganjing politik apa yang sedang terjadi saat itu. Bahkan saya pikir, ini kekuatan
Misalnya saja pada bagian saat Wiesel melihat dengan mata kepalanya sendiri, anak-anak dan bayi-bayi dibuang ke dalam api, ke dalam suatu liang, dan "dunia hanya membisu". Dia berharap, ini hanya suatu mimpi buruk dan dia akan segera terbangun. “Apakah heran bahwa aku tidak dapat tidur sesudah melihat itu,” tulis Wiesel, seperti polos.
Belum lagi ketika pengucapan umur menjadi penting, karena orang Yahudi di bawah 18 tahun dan di atas 40 tahun, akan disisihkan. Dan menurut desas-desus yang didengar Wiesel, mereka yang disisihkan itu akan menjadi “bahan bakar” krematorium. Saya lantas menginterpretasikan: mungkin karena umur di bawah 18 tahun dan di atas 40 tahun dianggap tidak produktif. Wiesel sendiri tidak menjelaskan mengenai apa maksud dari diskriminasi umur tersebut.
Atau pada bagian saat para “tahanan” Yahudi —tak peduli sudah tua atau sakit— diharuskan berjalan, setengah lari, tanpa henti, untuk jarak 70 kilometer, di bawah ancaman tentara SS yang akan menembak siapa saja yang berhenti, di tengah guyuran salju yang
pekat. Di situ, Wiesel hanya mengisahkan bagaimana dia berusaha untuk tetap lari, bagaimana dia memohon pada teman di sebelahnya yang tiba-tiba terserang sakit perut agar tidak berhenti berjalan. Atau harapannya yang sebisa mungkin selalu dekat dengan ayahnya, meskipun kadang dia menjadi tak peduli pada ayahnya karena sangat fokus dengan penderitaannya sendiri. Kondisi kejiwaan ini digambarkan Wiesel terjadi pada semua anak yang ditahan bersama ayahnya. (foto kiri: buku "Night" versi lain. Saya temukan di Gramedia beberapa bulan lalu. Saya agak lupa penerbit buku yang ini, apakah Yayasan Obor atau bukan).Wiesel tak membumbui tulisannya dengan amarah, dengan melontarkan kata-kata kasar, atau misalnya mengutuk tentara Jerman, dsb. Dia seolah hanya manusia yang kebetulan bernasib buruk —saat itu— karena dilahirkan sebagai Yahudi. Justru di dalam buku ini dikisahkan bahwa keimanan mereka mulai gamang—betapa pertolongan Tuhan tak juga datang. Sehingga baik Wiesel maupun sejumlah Yahudi lainnya, bahkan seorang rabbi, mulai mempertanyakan, apakah Tuhan ada?
Mungkin dibutuhkan ideologi yang merasuk hingga sum-sum tulang macam yang dimiliki para pembom bunuh diri, untuk mengamini peristiwa yang dialami Wiesel itu. Suatu ideologi yang bisa membalikkan sesuatu yang benar jadi salah dan sebaliknya.
Pertanyaan serupa dengan ML muncul di benak saya. Apakah benar ada orang sebiadab Dr Josef Mengele (dan Nazi secara umum)? Mengele adalah sekutu Hitler yang sempat diidentifikasi Wiesel berada di Birkenau, suatu wilayah yang oleh Wiesel disebut sebagai “tempat penerimaan tamu” bagi
Kita tahu, peristiwa ala holocaust & genocide tidak terjadi pada kaum Yahudi saja. Tahun 1990-an, ribuan Muslim
Dengan kata lain, holocaust & genocide bukanlah “monopoli” kaum Yahudi. Kejadian seperti ini bisa menimpa suku mana saja, agama apa pun, dan bangsa mana pun. SARA --dalam terminologi Indonesia-- tampaknya memang barang yang tak bakal hilang selama umat manusia masih menghuni Bumi. Hanya saja peristiwa pembantaian Yahudi oleh Nazi memang yang paling besar menyita perhatian dunia di abad yang belum lama berlalu ini.
Terlebih lagi kemudian diduga ada dramatisasi atas peristiwa ini, termasuk isu pembengkakan jumlah korban. Mahmud Ahmadinejad (saat tulisan ini dipublikasi masih Presiden Iran) misalnya menyebut bahwa peristiwa holocaust Nazi tak seheboh yang digaungkan selama ini.
Bahkan hal ini dibenarkan oleh seorang Amerika berdarah Yahudi, Norman Filkenstein dalam bukunya “Holocaust Industry”. Norman bahkan menyebutkan bahwa korban-korban genosida yang selamat, telah dimanfaatkan oleh elit-elit Yahudi di Amerika untuk kepentingan tujuannya sendiri. Dia bahkan tidak yakin bahwa korban genosida Yahudi oleh Nazi mencapai enam jutaan, karena dia melihat bahwa kapasitas Kamp Auschwitz tak sebesar itu.
***
Akan tetapi sungguh mengherankan bahwa seolah-olah, dengan meminjam kembali kalimat ML dalam kata pengantarnya, betapa mudahnya bagi orang
Suatu waktu saya pernah menyimak satu berita mengenai korban bom-bom
Namun coba bayangkan, bagaimana traumanya orang-orang Yahudi-Israel mendengar propaganda bahwa pemimpin-pemimpin negara Islam di dunia, semisal Mahmud Ahmadinejad atau Hasan Nasrallah (Sekjen Hizbullah), menyerukan bahwa darah yahudi halal? Apakah ancaman seperti itu akan membuat Israel angkat tangan dan gantung senjata? Atau malah kian ketat bertahan bahkan melebarkan zona aman mereka dengan kian gencar membangun perumahan-perumahan bagi warganya hingga melewati batas wilayahnya.
Mengenai hal ini, tokoh Islam Liberal (atau mungkin mbeling bagi sebagian orang), Ulil Abshar Abdala mengatakan, orang-orang Israel (yang berdarah Yahudi dengan agama Yahudi-nya), mengalami fobia berkepanjangan menjadi bangsa yang selama berabad-abad dibenci dua agama besar (Islam dan Nasrani). Maka tak heran, kata Ulil, bila kini mereka menjadi defensif. Mereka tak ingin negeri “yang dijanjikan Tuhan mereka ini” terlepas lagi dan kembali membuat mereka tercecer-cecer di berbagai negeri.***
Catatan tentang Penerbit
Salah satu yang cukup membuat saya ragu apakah ingin membeli buku ini atau tidak, adalah penerbit buku ini, Yayasan Obor. Saya tak tahu banyak mengenai profil Yayasan Obor, namun saya bisa melihat paradigmanya dalam menerbitkan buku. Kebetulan desas-desus yang saya dengar pun (*praduga tak bersalah) Yayasan Obor didanai Amerika, negeri yang reputasinya di kalangan para paranoider terhadap yang namanya Yahudi, pastilah buruk rupa (saya sendiri pada dasarnya bukan termasuk golongan ini). Jika benar, tak heran buku-buku yang diterbitkan pun cenderung Amrik punya. Misalnya saja buku-bukunya George Soros, atau buku-buku mengenai kisah tentara-tentara Amerika seperti “Band of Brother”. Awalnya memang ada semacam rasa gengsi, takut pikiran ini rada "terbrain-wash" mungkin.
Sebagai bahan bacaan yang dapat memperkaya wawasan, seharusnya tak masalah membaca buku dari “aliran” apa pun. Yang jadi masalah adalah, dari beberapa buku terbitan Yayasan Obor yang pernah saya baca (selain “Malam”, juga pernah sekilas membaca “Band of Brother” dan "Open Society"-nya Geprge Soros), penerjemahannya ini loh. Sayangnya, “modus” penerjemahan berantakan seperti ini terjadi hampir pada banyak buku-buku terjemahan penerbit lain juga. Misalnya saja saya pernah tertarik membeli buku “Mein Kamf” (lupa nama penerbitnya), tapi tidak jadi beli karena setelah sekilas membaca, tata bahasa Indonesia-nya bener-bener bikin puyeng. Penerjemahan serampangan yang sama juga terjadi pada buku “Holocaust Industry” (Ufuk) atau Henry Ford (Mizan). Beginilah kalau penerbit buku sekedar mengejar kuantitas ketimbang kualitas. Buku diproduksi bagaikan di pabrik saja.***
No comments:
Post a Comment