Walter Bentley Woodbury: “Pahlawan” Fotografi Indonesia (Bagian ke-1)
Tidak
ada negara mana pun di dunia yang keindahan dan kelebatan vegetasi
tropisnya ditampilkan lebih baik daripada di Jawa. Di dataran rendahnya,
hutan besar yang pernah menutupi seluruh negeri memang telah hilang,
namun bahkan tepian sungainya saja sering menyajikan potongan menawan alam tropis.
![]() |
| Sumber gambar: wallace-online.org |
Puja-puji tersebut dilontarkan Alfred
R.Wallace (1823-1913), si peletak garis imajiner transisi fauna Asia
dan Australasia di kepulauan Indonesia (yang kemudian dikenal dengan
nama Garis Wallace), demi melihat foto buah “jepretan” Walter Bentley
Woodbury (1834-1885) di atas.
Pemandangan
semacam yang tampak di foto tersebut, bahkan di abad ke-21 ini pun
sebenarnya masih sering bisa dijumpai, misalnya di lokasi agak hilir
dari Sungai Citarum, Jawa Barat. Tak ada ketajaman rasa terlibat ketika
mengamatinya. Namun ketika para “bule” begitu apresiatif terhadap
pemandangan yang diabadikan Woodbury di era akhir 1800-an ini, sisi
sensitivitas kita menjadi ikut melebar.
Begitu
bangganya Woodbury pada foto ini sehingga dia memajangnya sebagai satu
dari beberapa hasil jepretannya (antara lain juga di Inggris dan
Australia) dalam bukunya yang diberi judul “Treasure Spots of the
World”; buku yang kemudian menjadi bahan pembelajaran fotografi di
seluruh dunia. Laman Getty.edu, mengambil contoh gambar ini ketika
membahas teknik fotografi yang diciptakan Woodbury yang kemudian
dipatenkan dengan nama Woodburytype.
Penggambaran
oleh orang asing, apalagi sekaliber Wallace, memang dapat memberikan
sudut pandang obyektif terhadap apa yang sudah terlalu biasa kita lihat.
Sebagai naturalis, antropologis, geografer, dan ahli biologi yang
pernah menjelajah alam Indonesia di akhir abad ke-19 ini, Wallace tahu
bagaimana suasana ketika buah-buah pohon kapuk, yang disebutnya
“silk-cotton trees” alias bombaceae, meledak terbuka lalu kapas-kapasnya
yang putih berjatuhan ke tanah. Dia mendeskripsikan ini untuk
mengomentari kehadiran pohon kapuk pada gambar tersebut (di kanan pohon
kelapa).
Wallace
juga membahas pohon sukun alias “bread fruit”; Artocapus insica; yang
dedaunannya tampak melebat di kiri atas foto. Pohon ini, sebut Wallace,
berasal dari pulau-pulau di Pasifik namun telah lama dibudidayakan di
kepulauan Melayu.
Terhadap
pohon-pohon bambu yang kata dia tampak seperti bulu-bulu; berjuntaian
di kaki dua pohon kelapa (tengah atas gambar), Wallace menyebutkan bahwa
“rerumputan tropis raksasa” ini mungkin yang paling indah dan anggun
dari semua tanaman.
Di sebelah kanan
pohon kapuk, Wallace “menemukan” pohon kelapa jenis lainnya, yakni
aren. Dia mengatakan, para ahli botani mengenalnya dengan nama Arenga saccharifera.
Pohon ini, jelas Wallace, sangat dihargai oleh orang-orang Melayu
karena dapat menghasilkan “wine” (tuak), gula merah, dan ijuk yang dapat
ditenun menjadi tali. Wallace juga dengan jelinya menemukan ada pohon
sagu di posisi paling kanan gambar; di sebelah rumpun pohon pisang.
“Tak kurang (pada gambar ini) ada tujuh tanaman topis yang berguna, indah, dan menimbulkan rasa penasaran. Semua itu tumbuh subur di daerah dengan hujan yang turun konstan dan sinar matahari yang kerap; di mana burung cemerlang melayang di antara pepohonan, kupu-kupu beterbangan dengan malas, kadal yang mengilap merayap tanpa suara, dan dengung serangga yang memenuhi udara. Mereka (binatang-binatang tersebut) akan lebih mampu membayangkan sendiri realitas hidup dari lanskap tropis, yang bahkan foto paling jujur pun tidak dapat mewakili kesempurnaannya.” Demikian sang botanis menuturkan.
Mari
kita lepas dulu “sihir” sanjungan Wallace terhadap isi foto tersebut,
karena tulisan ini sebenarnya lebih ingin membahas sang pemotret, Walter
Bentley Woodbury. Setidaknya, hasil jepretan Woodbury ini telah
mendapat apresiasi penuh emosi dari “rival” Charles Darwin ini.
Foto
yang disebut-sebut dipotret Woodbury di Pulau Jawa ini (tidak
disebutkan lokasi tepatnya), seperti telah disebutkan sebelumnya, adalah
satu dari banyak foto yang dimuat dalam buku “Treasure Spots of the
World”. Buku ini memuat foto-foto bidikan Woodbury saat berada di
Australia pada 1952, di Hindia Belanda 1857-1863, dan di negerinya
sendiri, Inggris, dari 1863 hingga meninggal 1885.
![]() |
| foto raksasa (artsearch.nga.gov.au) |
Di masa kini, foto-foto jepretan Woodbury (dan koleganya, James Page) dapat dilihat pada buku “Indonesia: 500 Early Postcards” karya Steven Wachlin dan Leo Haks. “Ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda (Dutch/Netherland East Indies), gambar-gambar pada kartu pos kala
itu membuat banyak orang asing melihat untuk pertamakalinya apa yang
dimiliki tanah yang memesona ini; negara kepulauan terbesar di dunia.”
Demikian ulasan Goodreads.com mengenai buku ini.
Sementara Amazon.com menulis: buku ini menyajikan gambaran yang jelas tentang sejarah dan budaya Indonesia yang unik, mulai pakaian dan upacara adat, seni dan monumen, melalui pedesaan-pedesaan yang menakjubkan dan masyarakat yang dinamis.
Ke-500
gambar kartu pos yang dimuat dalam buku tersebut, menurut Wachlin dan
Haks, berasal dari perusahaan studio foto Woodbury & Page di Batavia
dan Chephas di Yogyakarta. Steven Wachlin adalah sejarahwan dari
Universitas Amsterdam, penulis buku “Woodbury & Page, Photographers
Java” (1994), dan penulis pendamping dari buku “Toekang Potret: 100
Years of Photography in the Dutch Indies 1839-1939” (1989).
![]() |
| Kassian Chephas (wikimedia) |
Dalam
buku itu, duo penulisnya tersebut menyebut sumber-sumber fotonya selain
berasal dari perusahaan studio foto Woodbury & Page di Batavia,
juga Chephas di Yogyakarta. Chephas mengacu pada nama Kassian Cephas
(1844-1912), yang disebut-sebut sebagai anak pasangan Indonesia bernama
Kartodrono dan Minah.
Jika dilihat masa aktifnya, Kassian boleh dibilang termasuk orang
Indonesia pertama yang mengaplikasikan teknik foto ala abad ke-19 ini
(fotomekanikal). Ketika itu Kassian dikenal sebagai fotografer khusus
Keraton Yogyakarta di masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VII.
Nama
Woodbury tentu merujuk pada nama Walter Bentley Woodbury, sedangkan
Page adalah James Page; teman seperjuangannya. Terlepas dari muram dan
kelamnya sejarah Indonesia di masa pendudukan Belanda, betapa
beruntungnya Indonesia ketika duo fotografer ini memilih datang ke
Hindia Belanda kala itu, dan mengabadikan isinya.
Tanpa
mereka, Indonesia tak akan memiliki banyak gambaran mengenai suasana
negeri ini di tahun 1800-an akhir, misalnya suasana candi Borobudur
ketika puing-puing candinya masih berserakan. Atau gambar suasana
perkotaan di masa itu ketika jalanan masih berkalang tanah; lengkap
dengan jejak-jejak roda pedati, dengan sebagian bangunan atau lanskapnya
masih bisa dikenali hingga kini.
Woodbury adalah Batavia, Jawa, dan Hindia Belanda
![]() |
| Walter Bentley Woodbury |
Mungkin
tak terbayangkan oleh Woodbury dan Page ketika itu bahwa foto-foto
karyanya kini bakal sangat penting bagi dokumentasi perjalanan sejarah
fotografi Indonesia bahkan dunia. Pasalnya kala itu Woodury dan Page
lebih dikenal sebagai fotografer yang menawarkan jasa pemotretan
komersial.
Bisnis studio foto mereka bahkan sempat sukses hingga akhirnya mendirikan studio foto di Batavia. Nama
Woodbury sendiri kemudian menjadi lebih mendunia, hingga kini, karena
dia berhasil mempatenkan karya dan teknik fotografinya dengan nama
Woodburytype.
Hingga kini, hasil karya Woodbury masih berseliweran di dunia lelang
barang antik dan dihargai dengan harga sangat tinggi. Di rumah lelang
Bonham, satu paket album berisi 248
gambar/potret figur orang-orang Indonesia terkemuka, foto bertema
etnografi di masa Hindia Belanda, foto kehidupan di Indonesia era
kolonial Belanda, dan pemandangan topografi mulai dari Sumatra hingga
Maluku, dilelang dengan harga mencapai Rp 1,1 miliar (Rp 1.102.049.538). Foto-foto antik ini diabadikan Woodbury dan Page dalam kurun 1857-1863; periode Woodbury menetap di Indonesia.
Karya-karyanya,
khususnya Woodbury, hingga saat ini tak habis-habis diapresiasi dunia,
khususnya di kalangan penikmat/pegiat fotografi. Jadi, selain berjasa
mewariskan gambar-gambar yang menggugah emosi para penikmat sejarah
mengenai suasana kehidupan Indonesia di abad ke-19—yang sebagian
karyanya kini bisa dinikmati di dunia maya—Woodbury juga selalu
“membawa-bawa” nama Indonesia dalam setiap percakapan, pembahasan,
diskusi; atau apapun namanya; tentang dia.
Satu
buku yang boleh dibilang terbaru tentang Woodbury adalah “The History
of Woodburytipe” terbitan Carl Mautz Publishing, Amerika Serikat, 2006.
Dalam bagian tulisan tentang biografi Woodbury, ditulis bahwa Woodbury
adalah fotografer penting asal Inggris yang berkiprah di Australia dan
di Pulau Jawa pada 1860-an.
Carl Mautz mengatakan, buku ini satu-satunya buku modern tentang Woodbury dan Woodburytype; ditulis oleh Barret
Oliver. Oliver adalah seorang fotografer sekaligus pengajar fotografi
di California, AS, yang memiliki keahlian di bidang fotomekanikal dengan
teknik Woodburytype. Sekadar selingan, menurut informasi yang
berseliweran di internet, Barret Oliver adalah aktor cilik AS era
1980-an, yang antara lain bermain dalam film D.A.R.Y.L. dan Cocoon.
Karenanya
tak mengherankan jika melakukan pencarian di internet, semua yang
terkait sejarah Woodbury ataupun karya-karyanya, tak luput menyebut nama
Batavia, Java (Jawa), atau Dutch/Netherland East Indie alias Hindia
Belanda; nama Indonesia kala masih dijajah Belanda. Karya-karya foto
yang muncul pun nyaris lebih banyak menggambarkan suasana Indonesia di
akhir abad ke-19 tersebut: wajah-wajah melayu; kadang dengan atribut
pakaian sangat khas Indonesia seperti kebaya, pangsi, ikat kepala, baju
kemben, dll.
Begitu
juga dengan gambar-gambar sungai lebar yang tenang dengan sampan-sampan
bambu dan vegetasi khas Indonesia seperti pohon pisang dan rumpun bambu
(seperti yang telah dibahas di awal tulisan). Tanpa diimbuhi keterangan
pun, sebagai orang Indonesia kita bisa mengenali, ini pasti di Indonesia.
Foto-foto
karya Woodbury tersebut, kini banyak kita temukan atas nama/kepemilikan
KITLV atau Tropen Museum. Tampaknya kedua lembaga yang berbasis di
Amsterdam, Belanda, ini, memang mengoleksi foto-foto jepretan Woodbury
(tak heran).
Di tangan Woodbury, fotografi menjadi media yang bisa menggambarkan, menjelaskan, dan mungkin untuk berdamai dengan sisi kelam sejarah Indonesia kala dijajah Belanda. Fotografi menjadi alat yang penting dalam mendefinisikan suatu periode dari suatu era, dari negeri ini. Woodbury (dan Page) sesungguhnya telah menjadi pahlawan sendiri bagi dokumentasi perjalanan sejarah Indonesia. (Ruri Andayani/dari berbagai sumber/bersambung ke SINI)
Sumber pendukung:




No comments:
Post a Comment