Jalan
Rajawali, adalah satu jalan yang cukup besar dan penting di Kota Bandung.
Sebelum ada tol Cipularang, jalan ini merupakan akses ke kota Bandung dari
Jakarta. Tapi percaya tidak? Di selokan, atau bahasa kerennya drainase di satu
segmen jalan ini, pejalan kaki bisa saja memergoki seseorang yang sedang
nongkrong di dalamnya. Alih-alih si “penongkrong” yang malu, para pejalan kaki
yang terpaksa memalingkan wajah ke arah lain. Dan ini bukan terjadi di zaman
kuda gigit besi, tapi di 2000-an ini.
Dari
pengamatan dan pengalaman penulis, pemandangan seperti ini tak hanya pernah terlihat
di Jalan Rajawali yang masih termasuk pesisir Bandung, melainkan juga di
kawasan-kawasan elit dan penting lainnya di kota ini, seperti misalnya di Jalan
Cipaganti atau Jalan Siliwangi.
Bukan
saja BAB yang mereka lakukan, melainkan mandi dengan air selokan tersebut yang
pastinya bukan berasal dari mata air, melainkan antara lain dari air buangan rumah-rumah
besar yang ada di sekitarnya. Mereka yang dimaksud pada tulisan ini tentunya
adalah para tunawisma, atau yg lebih kita kenal juga dengan sebutan gelandangan.
Para tunawisma ini bisa “berprofesi” pengemis, pengamen, atau tukang becak—yang
pasti, mereka memang umumnya bukan warga asli Bandung.
Timbul
pertanyaan, mengapa mereka tidak
menggunakan fasilitas toilet umum, misalnya di pom bensin? Keberadaan satpam
yang tidak membiarkan para tunawisma ini menggunakan fasilitas tersebut
(apalagi jika rutin), adalah salah satu alasannya. Alasan lainnya, bisa jadi
karena mereka memang tidak memiliki pemahaman tentang pentingnya gaya hidup
bersih untuk kesehatan, apalagi untuk memikirkan kesehatan orang lain.
Ada
syarat untuk satu selokan (drainase) bisa digunakan sebagai tempat “MCK” oleh
para tunawisma ini yakni berair cukup banyak, tidak perlu deras.
Syarat pelengkapnya, kalau belum kepepet, kondisi selokannya harus agak dalam
supaya bisa menyembunyikan wajah (bagaimana pun juga mereka ternyata masih punya
malu). Kalau sudah memenuhi syarat
seperti ini, tak peduli lokasinya di kawasan elit apalagi pinggiran, sudah
pasti akan menjadi “destinasi” nyaman untuk para tunawisma ini melangsungkan
kebutuhan biologisnya. Perlu dicatat mengenai pemilihan selokan yang berair dan bahwa mereka masih punya rasa malu, merupakan modal penting bahwa pada dasarnya mereka masih bisa diajak untuk berubah.
Jika
di kota semacam Bandung saja masih begitu mudah ditemukan orang BAB
sembarangan, entah bagaimana di gang-gang dan perkampungan-perkampungan kumuh di daerah-daerah. Seorang rekan yang pernah tinggal di Rangkasbitung, Banten, dengan
entengnya menceritakan ihwal kebiasaan warga di sana BAB sembarangan, baik di saluran-saluran air maupun di kebun. Warga (laki-laki, perempuan, besar, kecil) misalnya hanya tinggal datang
ke selokan/sungai berair dangkal, lalu jongkok deh. Mungkin mereka pikir bekas “sisa-sisa makanan” mereka itu akan
hilang tertelan bumi.
Pemandangan
semacam ini juga lazim terlihat di jalur jalan raya Rajamandala-Cianjur.
Orang-orang tua sepertinya membiarkan anak-anaknya BAB di saluran-saluran air
(irigasi) yang membentang di jalan raya kelas provinsi tersebut. Setidaknya begitulah yang terlihat saban melalui jalan tersebut, selalu saja ada anak kecil yang sedang “jongkok”.
Cerita Lama
Perihal
BAB sembarangan di Indonesia, sebenarnya merupakan cerita lama. Ini pun kadang
tidak terkait langsung dengan masalah kesejahteraan, melainkan kebiasaan dan
ketiadaan pengetahuan saja. Kebiasaan ini bahkan masih bisa kita temukan sampai
sekarang dimana warga desa jika ingin melakukan aktivitas mandi, mencuci, dan
buang hajat, cukup pergi ke sungai-sungai, kolam, atau pancuran. Bahkan kalau
untuk BAB saja, cukup pergi ke kebun. Tak ada itu pengetahuan mengenai septic tank.
Orang-orang
Belanda pada masa mereka menjajah Indonesia, telah dibuat risi oleh kebiasaan
ini. Mereka melihat sendiri bagaimana kaum pribumi jika ingin buang hajat, tinggal
pergi ke sungai-sungai atau selokan-selokan kecil di sekitar permukimannya,
atau juga di kebun. Jikapun ada kakusnya, namun tanpa septic tank.
Salah
satu contoh reaksi atas kebiasaan jorok ini, di kota Solo bisa ditemukan
bangunan untuk fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) yang dibuat pada tahun 1936.
MCK umum tersebut didirikan dengan sponsor
KGPAA Mangkunegara VII, dengan diarsiteki seorang Belanda, untuk memberi contoh
gaya hidup bersih kepada warga di sekitarnya yang terbiasa BAB sembarangan.
Bagaimana
dengan Jakarta, ibukota negara ini? Kondisinya nyaris tak ada bedanya. Tak perlu
susah-susah mencari contoh. Jika Bandung memiliki sungai Cikapundung sebagai septic tank raksasa, maka Jakarta punya
kali Ciliwung. Berkenaan dengan pernyataan pemerintah yang menargetkan “Indonesia
bebas perilaku BAB Sembarangan 2014”, Ciliwung dapat menjadi monumen keberhasilan
atau malah kegagalan bagi tekad pemerintah tersebut.
Seperti dilansir voaindonesia.com pada 10 September 2012 (indonesia-targetkan-bebas-perilaku-buang-air-besar-sembarangan), Pemerintah Indonesia menargetkan tidak akan ada lagi penduduk Indonesia yang buang air besar sembarangan pada 2014. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, 109 juta orang di Indonesia diperkirakan belum mendapatkan akses kepada fasilitas sanitasi yang layak dan air bersih, dan 40 juta orang di antaranya masih buang air besar sembarangan.
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi
mengatakan, tidak adanya akses tersebut antara lain karena rendahnya tingkat
pengetahuan dan karena tingkat ekonomi masyarakat yang tidak mampu untuk
membangun fasilitas sanitasi. Untuk mendukung pencapaian target tersebut,
dengan bekerjasama dengan Bappenas, saat ini pemerintah tengah berupaya
melakukan “percepatan pembangunan sanitasi permukiman” (PPSP), yakni antara
lain dengan membangun jamban-jamban di permukiman penduduk.
Akan
tetapi, seiring kesejahteraan masyarakat yang tidak juga menampakkan perbaikan
(bahkan ada kecenderungan memburuk jika melihat harga-harga kebutuhan hidup
yang terus merayap naik semantara daya beli tetap, bahkan menurun), rasa-rasanya target 2014 bebas perilaku BAB sembarangan ini
hanya akan menjadi pernyataan politis belaka. Logikanya, seperti juga
disiratkan Nafsiah Mboi sendiri, kesejahteraan akan berbanding sejajar dengan perilaku
peduli lingkungan, seiring juga dengan terjadinya pemerataan pengetahuan
mengenai pentingnya gaya hidup bersih.
Jika
upaya ini tidak diselaraskan dengan perbaikan kesejahteraan dan pemerataan
pengetahuan, akhirnya target tersebut lebih tampak seperti upaya kejar setoran
pencitraan dari para pejabat saja supaya dianggap ada kerjanya, dan bahwa komitmen
Indonesia terhadap target MDG’s—yang merupakan janji kepada dunia internasional—seolah-olah
telah dilaksanakan. Terlebih karena target MDG’s (Millenium Development Goals)
memang jelas tanggalnya.
Yang
menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah pemerintah menargetkan Indonesia
bebas perilaku BAB sembarangan pada 2014 ini hanya dengan melihat dari jumlah jamban yang berhasil dibangun? Tanpa menargetkan
pada perubahan mental/perilaku warga? Padahal sudah bukan cerita asing lagi di
negeri ini bahwa jamban-jamban yang sudah ada saja kadang kondisinya tidak
terawat dan jorok. Kadang bahkan tidak ada airnya. Sementara itu, mengubah
kebiasaan juga bukan hal yang akan mudah dicapai dalam hitungan dua, tiga, atau bahkan lima tahun, apalagi waktu yang tersisa untuk mencapai
target itu tak lebih dari dua tahun lagi.
Meneladani Sriyatun Djupri
Kisah Sriyatun
Djupri seharusnya bisa dijadikan acuan oleh pemerintah jika mereka
sungguh-sungguh ingin menjadikan Indonesia bebas perilaku BAB sembarangan, tak perlulah pakai target-targetan segala. Sriyatun, yang hanya seorang ibu
rumah tangga biasa, butuh waktu dari 1973 hingga 1986 untuk mengubah
kebiasaan jorok warga di sekitar tempatnya tinggal di kelurahan Jambangan,
Surabaya, yang terbiasa buang sampah dan BAB langsung ke Kali Surabaya. Ya,
Sriyatun butuh waktu 13 tahun untuk mengubah kebiasaan buruk warga, yang lingkupnya hanya kelurahan, bukan kota
apalagi negara.
Apa yang
dilakukan wanita asal Trenggalek ini sederhana saja, yakni terus-menerus
melakukan penyuluhan tentang hidup sehat dan bersih ke warga sekitar. Yang
menjadi tidak sederhana bagi kebanyakan orang adalah kesabaran, ketulusan, dan
keikhlasannya bekerja hingga terjadinya perubahan perilaku tersebut (atas kepeduliannya
yang tinggi kepada lingkungan, Sriyatun diganjar penghargaan Kalpataru, kategori
perintis lingkungan).
Nah,
untuk para pejabat Depkes yang berkantor di Jakarta dan sedang dikejar-kejar
tenggat oleh program MDG’s, Jakarta dengan Ciliwung-nya akan menjadi contoh
sempurna untuk mengukur, apakah target 2014 bebas perilaku BAB sembarangan bisa
tercapai atau tidak.
Seandainya
pemerintah hanya sebatas retorika dan sekadar target-targetan fisik saja dalam
mengupayakan Indonesia “bebas perilaku BAB sembarangan pada 2014” tersebut, sungguh sayang jika pernyataan itu mudah disangsikan
seperti biasanya. Jangan sampai alih-alih ingin menciptakan lingkungan yang
lebih baik dengan kehidupan warganya yang lebih beradab, target ini malah akan
jadi lelucon: “Indonesia 2014 bebas BAB sembarangan, di mana pun dan kapan pun juga". Kendati begitu, bukan berarti kita harus apriori terhadap segala upaya yang dilakukan pemerintah, bagaimanapun sangsinya kita. Daripada sama sekali tidak ada usaha, bukan? ***
sumber foto ilustrasi:
http://www.shnews.co/foto_berita/95buangairsembarangan.jpg
sumber foto ilustrasi:
http://www.shnews.co/foto_berita/95buangairsembarangan.jpg
2 comments:
talk less do less...
:P
namun sebagai warga negara yg baik kita hendaknya mendukung dan mensukseskannya..
:)
masalahnya saya bukan warganegara yg baik :P :D
kalo buat saya, gak berlaku itu omongannya kennedy agar kita melihat apa yg kita berikan pada negara, sementara negaranya aja ngorupsiin terus duit rakyat, dan membodohi rakyat terus dengan janji-janji waduks (yu kenow de mining of waduks?)
Akan tetapi, makasih yaa udah mampir ke blog-ku. Kupikir, kritik tetap penting untuk negara kayak indonesia. Dikritik aja korupsi jalan terus, apalagi didiemin.
Post a Comment