Walter Bentley Woodbury: “Pahlawan” Fotografi Indonesia (Bagian ke-2)
Pada 1857, Walter Bentley Woodbury bersama James Page, tiba di Hindia Belanda bersama-sama, setelah menempuh perjalanan dari Australia. Sebelum bertemu Page, Woodbury diketahui berada di Australia karena ingin kaya raya sebagai pencari emas, dengan meninggalkan passion-nya terhadap fotografi. Namun dia gagal kaya dari bahan tambang itu, dan kembali menekuni fotografi. Ketika akhirnya Woodbury pulang ke negerinya pada 1863 karena sakit, untuk tak kembali lagi ke Hindia Belanda, dia disebut-sebut membawa istri Jawa-nya.
Pada 1857, Walter Bentley Woodbury bersama James Page, tiba di Hindia Belanda bersama-sama, setelah menempuh perjalanan dari Australia. Sebelum bertemu Page, Woodbury diketahui berada di Australia karena ingin kaya raya sebagai pencari emas, dengan meninggalkan passion-nya terhadap fotografi. Namun dia gagal kaya dari bahan tambang itu, dan kembali menekuni fotografi. Ketika akhirnya Woodbury pulang ke negerinya pada 1863 karena sakit, untuk tak kembali lagi ke Hindia Belanda, dia disebut-sebut membawa istri Jawa-nya.
![]() |
| Woodbury berkunjung ke Bandung. Dia mampir ke rumah wedana Banjaran. Sang wedana,beserta rombongannya, difoto di depan rumahnya. Foto ini diambil oleh studio “Woodbury & Page” yang didirikan pada 1857 oleh fotografer Inggris Walter Bentley Woodbury dan James Page. Foto ini merupakan koleksi KITLV, Institut Kerajaan Belanda untuk Studi wilayah Asia Tenggara dan Karibia, Leiden, Belanda. (Sumber foto: wikimedia.org) |
Meski
hanya sekitar enam tahun berada di Indonesia, Woodbury sempat
berkeliling Nusantara. Waktu yang singkat ini begitu pentingnya bagi
sumbangan sejarah fotografi dunia karena kedatangan mereka di Indonesia
hanya 18 tahun sejak teknologi fotografi pertama ditemukan oleh Louis
Daguerre pada tahun 1839.
Sebetulnya,
sebelum Woodbury dan Page datang ke Indonesia, teknologi fotografi yang
sama telah lebih dulu diperkenalkan oleh Juliaan (ada juga yang
menulisnya Jurrian) Munnich pada tahun 1841. Dikutip dari yahya.or.id, Munnich datang ke Batavia atas undangan gubernur jenderal Hindia-Belanda kala itu.
Dia
ditugaskan memotret cagar budaya dan karya jejak kolonial di daerah
administrasi Jawa Tengah, untuk memberitahukan kepada dunia akan
keberhasilan dan superior bangsa penjajah. Namun misi ini gagal.
Karya-karya foto Munich pun seperti menguap entah kemana; nyaris tak
tersisa.
Woodbury dan Page lah yang kemudian berperan menggelorakannya, terlebih
sejak mereka membuka studio fotografi pada 5 Juni 1857 di rumah milik
Nyonya Bain, seorang wanita Skotlandia, yang berlokasi di Weltevreden
(sekitar Monas). Mereka menamai usahanya “Woodbury & Page”. Pada 8
Desember 1858, mereka mulai mengiklankan usahanya di harian berbahasa
Belanda, Java Bode, yang menawarkan jasa pemotretan bagi umum.
Woodbury
dan Page bekerja sama hingga akhir tahun 1860. Pada Desember 1860, Page
pulang ke Inggris dengan alasan memperdalam ilmu fotografinya,
sementara Woodbury tetap menekuni bisnisnya di bidang fotografi
komersial bersama dengan saudaranya Henry James. Bersama James, Woodbury
mendirikan studio foto yang disebut didirikan di Chiribon (Cirebon);
Java, dengan nama “Atelier Woodbury”.
Bagaimana
tidak diteruskan, dengan konsumen kelas atas; antara lain para sultan
dari kerajaan di seluruh Nusantara dan juga pengunjung dari Eropa
(terlebih sejak dibukanya terusan Suez, 1869), bisnis fotografi mereka
semakin mendatangkan kemakmuran bagi Woodbury bersaudara (dari Hatmanto
Sri Nugroho/fotografer.net).
Salah
satu konsumennya misalnya adalah Sultan Riau-Lingga VIII, Sultan
Sulaiman Badrulalamsyah, yang berfoto bersama pengiringnya saat
berkunjung ke Batavia.
Alison Demorotsky dalam imagearts.ryerson.ca menulis, Woodbury lahir 26 Juni 1834 di Manchester, Inggris. Merupakan tertua dari enam anak. Ketertarikan Woodbury pada fotografi dimulai 1884, di usia 12. Pada 1851, Woodbury menjadi praktisi fotografer amatir. Namun pada 1850-an, Woodbury malah tertarik berlayar ke Melbourne, Australia, untuk berburu emas.
Ketika emas tak berhasil membuatnya kaya, dia kembali mengakrabi cinta lamanya; membeli kamera dan lensa dan membuka studio. Ketika itulah dia bertemu Page, yang kemudian menjadi mitra bisnis dalam petualangan yang akan membawa mereka mendapatkan reputasi di Hindia Belanda atas keahlian fotografi mereka.
Mereka menjadikan
Jawa sebagai ladang hasrat mereka terhadap fotografi. Tak hanya membuka
jasa memotret di studio untuk mendapatkan uang, mereka bahkan mengubah
arah bisnisnya menjadi mengompilasi hasil jepretan mereka tentang budaya
dan pemadangan alam Nusantara dalam bentuk album foto, untuk pasar
Eropa.
Menurut
Demorotsky, Woodbury pulang ke negerinya pada 1862, (bukan 1863)
didampingi “Javanese wife”-nya. Sementara itu, bisnisnya diteruskan
Henry James bersama Page yang telah kembali ke Jawa.
Mengenai istrinya ini sumber lain menyebutkan,
tak jelas apakah istri yang dibawanya kembali ke Inggris ini wanita
Jawa, atau istri yang pernah dinikahinya di Indonesia pada 1959 yang
bernama Marie Olmeyer. Marie ditulis lahir di Banjermassing
(Banjarmasin), Borneo (Kalimantan), pada 1847. Dari Marie dia dikaruniai
satu anak laki-laki dan empat perempuan.
Kisah
dari satu setengah abad silam ini, rupanya barang yang sulit
dipertahankan kemurnian sejarahnya. Padahal jika benar Woodbury menikahi
wanita Jawa, tentu jejak keturunannya menarik untuk terus diendus.
Woodbury meninggal pada 5
September 1885. Dikuburkan di Abney Park Cemetery, Stoke Newington,
London, Inggris, di lokasi terpencil dan bersemak di taman makam
tersebut; nyaris seperti tidak terurus. Kendati begitu, namanya
bertengger di posisi terhormat kancah fotografi dunia dengan mewariskan
30 paten proses fotografi yang dinamainya Woodburytype; yang menjadi
bahan pembelajaran fotografi di seluruh dunia hingga kini (Ruri Andayani/dari berbagai sumber/tamat)
Tulisan bagian ke-1: Ketika Wallace Mengapresiasi Foto Jepretan Woodbury
Sumber pendukung:

No comments:
Post a Comment