Friday, April 1, 2016

Ngayogyakarta Setelah 10 Tahun

Setiap habis Lebaran, keluarga besar saya punya tradisi jalan-jalan. Karena Bandung sarat tujuan wisata alam, biasanya jalan-jalannya hanya sekitaran Bandung saja seperti ke Pangalengan, Ciwidey, Gunung Puntang, dsj.

Namun 2015 kemarin, idenya agak out of the box (halah) dan anehnya semua menyanggupi. Hanya seorang yang tidak bisa ikut. Banyak orang bilang, sebuah ide kalo diputuskan mendadak lebih mungkin terjadi daripada direncanakan terlalu lama. Maka, jadilah kami seminggu setelah Lebaran berjalan-jalan ke Yogyakarta.

Alhasil, ketika orang lain justru berada dalam gelombang arus balik, kami malah baru berada di jalanan pada hari-hari terakhir cuti bersama Lebaran 2015 itu, lebih tepatnya memenuhi hampir setengah dari salah satu gerbong kereta fakultatif Lodaya.Bagi saya, ini adalah kunjungan lagi ke Yogyakarta setelah 10 tahun.

Yogyakarta Juli 2015, terasa agak nyampah dan kumuh. Mungkin karena kota bakpia patuk ini baru diserbu wisatawan. Tapi penilaian saya ini mungkin juga kurang obyektif, karena ukurannya hanya kawasan Malioboro dan sekitarnya.

Berikut ini foto-foto yang saya susun berdasarkan hari pertama sampai di sana pada Jumat malam, hingga hari terakhir, Senin (tanggal menyusul, lupa, heheh...).



STASIUN BANDUNG: Jumat pagi, berkumpul di Stasiun Utara (foto: Anti)


LODAYA WISATA: rangkaian kereta ini tambahan khusus di musim libur Lebaran. Sementara tiket Lodaya reguler masih ludes.




MERAYAPI JEMBATAN: Hal yang selalu menyenangkan buat saya sejak kecil kalau naik kereta adalah ketika melihat lokomotif ataupun buntut kereta sedang berada di belokan seperti pada foto ini. Berhubung kali ini kebagian gerbong kedua terakhir, maka yang terlihat adalah sang lokomotif yang tampak sedang merayapi satu jembatan di kawasan Tasikmalaya, dengan delapan gerbong di belakangnya (foto: Ruri)

CHECK IN @HOTEL NEO: Mural foto Jalan Malioboro di salah satu dinding di dalam Hotel Neo.





Deuuh, motor-motor yang parkir ini merusak pemandangan. Meskipun sudah di akhir masa libur Lebaran, namun suasana liburan masih sangat terasa di Yogyakarta. Risikonya, Yogyakarta tampak nyampah dan agak kumuh (foto: Anti)


OBELISK YOGYA: tanpa blitz, pencahayaan seadanya, menggunakan kamera poket Casio Exilim. Setelah check-in di Hotel Neo, di Jalan Pasar Kembang, kami jalan-jalan malam, antara lain ke obelisk-nya Yogya ini.


ALL YOU CAN EAT: Sarapan pertama "all you can  eat" di Hotel Neo. Paket sarapan hanya berlaku untuk dua orang, jika nambah satu orang, pihak hotel men-charge seharga Rp 30.000-- biaya yang murah untuk sarapan yang bisa meng-"habek" semua yang disajikan. Sarapan "all you can eat" ini menjadi salah satu yang paling berkesan bagi saya selama di Yogyakarta :D


TUR MERAPI

Gunung Merapi yang meletus 2010 silam, menumbuhkan peluang usaha baru, yakni tur Merapi dengan menyewa motor trail atau mobil jeep, semacam di Bromo. Kawasan Merapi saat kami datang sedang puanaass dan gersang; kegersangan yang tampaknya masih tersisa sejak letusan yang menewaskan Mbah Maridjan. Kemarau 2015 memang belum berakhir. Jadinya kami, khususnya saya, kurang menikmati tur ini karena yang terasa hanya debu yang tebal, terlebih debu ini dikocok oleh roda-roda jeep. Saking teriknya, saya bahkan malas ikut mengunjungi fenomena "batu alien". Obyek berupa bentukan batu yang tidak sengaja menjadi bagai muka "alien" ini produk khas kenorakan orang Indonesia.
Kaliopak dengan dam-nya yang hancur


BUNKER yang tak sanggup menyelamatkan nyawa dua relawan dari sergapan wedhus gembel Merapi. Gumpalan tanah yang tampak adalah material Merapi yang masuk ke dalam bunker. Saat dipotret menggunakan blitz, tampak sejumlah orbs. Ah tapi bisa saja ini cuma orbs debu. Tapi coba lihat orbs kecil di dekat tangan pria berpakaian biru, sangat tebal, hiiyyy... :D


Ah, umat manusia...



Agak kecewa, sang Merapi tak menampakan dirinya saat kami ke sana. Padahal jika kabut/awan tak tebal, dia bakal menjadi latar belakang foto ini.


BERFOTO MAINSTREAM DI STASIUN: Sebelum sarapan, di hari kedua (minggu) saya sempat mampir ke Stasiun Jogjakarta dan "ber-main-stream-ria". Hari kedua ini jadwal wisata adalah ke Tamansari, Museum Dirgantara, dan ke pantai Baron. Pantai Baron agak mengecewakan: kumuh! Padahal saya maunya ke Parangtritis/Gumuk, karena saya belum pernah ke sana: ada isu Gumuk ditutup sehingga pilihan kami jadi ke Pantai Baron. Tapi buat saya wisata ke pantai (apalagi kumuh dan renyek sama pengunjung seperti Baron), bukan aktivitas wisata yang mengesankan. Saya lebih suka ke gunung, tapi juga bukan gunung yang sedang gersang dan berdebu seperti Merapi sekarang :P (pemotret: Rini)



BOROBUDUR


Saya, butuh 10 tahun untuk kembali ke Yogyakarta. Lebih parah lagi, butuh 29 tahun untuk menapaki lagi Borobudur. 

Sepuluh tahun lalu, menenteng kamera poket manual berisi rol film negatif berkapasitas 36 frame (biasanya ada bonus dua), masih cukup keren. Sekarang bawa-bawa kamera poket digital saja sudah mulai terasa ketinggalan kereta. Rata-rata sekarang seenggaknya sudah menggenggam ponsel android dengan kualitas kamera yang bahkan bisa mengalahkan kualitas kamera digital poket.

Bayangkan, saya baru kembai lagi ke Borobudur setelah 29 tahun, dan saya membawa kamera digital poket berusia enam tahun yang sudah pernah terendam air sungai (tapi entah kenapa bisa selamat). Alhasil, hampir 60 persen hasil jepretan saya di Borobudur, BUREM!

Juli 2015 saya memang belum punya ponsel pinter, saya merasa belum butuh. Kapasitas ponsel Nokiyem yang saya punya saat itu rasanya masih bisa memenuhi kebutuhan komunikasi saya. Tapi tak saya duga, kinerja kamera digital Casio Exilim saya sudah benar-benar payah. 

Borobudur yang waktu itu sedang sangat cerah untuk tak menyebut terik, tak membuat hasil jepretan Casio Exilim-ku ini menjadi baik. Anehnya, saat memotret tugu obelisk Yogya pada malam hari malah hasilnya lumayan.

Tentu saja saya jadi senewen. Saya jadi merasa kurang bisa menikmati Borobudur karena sibuk mengutak-atik kamera. Saya perlu berkali-kali menjepret obyek yang sama agar bisa memperoleh gambar yang jelas, belum termasuk keinginan untuk ikut menjadi obyek foto menggunakan kamera sendiri--ego seorang blogger yang ingin mengaplod foto dengan kredit nama sendiri, hehehe...

Hari itu Senin pertama seusai libur Lebaran, tapi Borobudur masih sangat ramai. Sebelum masuk area candi, pengunjung diminta mengenakan kain batik khusus yang disediakan pengelola Borobudur. Harga tiket masuk sebesar Rp 30.000.



Add caption





Kembali ke Borobudur, setelah 1988. Peraturan di Borobudur sekarang lebih ketat, terlebih (kalau tak salah) sejak peringatan yang mendatangkan Richard Gere ke sana. Pengunjung dilarang menaiki stupa apalagi berfoto bersama patung-patung Buddha. Padahal tadinya saya ingin berfoto di patung Buddha yang kepalanya hilang, lalu diganti kepala saya, hehe... maaf. Toh selama di sana kemarin itu, selain pengunjung diminta menggunakan kain yang dililitkan seperti rok, juga ada petugas-petugas yang mengingatkan agar jangan bersikap seenaknya (termasuk memanjat-manjat stupa) seraya mengingatkan bahwa Borobudur adalah tempat ibadah. (foto: Anti)







BERSAMBUNG...



No comments: