Sunday, August 9, 2009

Di Balik Popularitas Si Wartawan "Tanpa Surat Kabar”

*Simpang Siur Pembuatan Film Tintin
*Herge Tidak Pernah Selesaikan Komik ke-24
*Mengapa Tintin Berprofesi Wartawan?

KETIKA dari mulut Kapten Archibald Haddock berhamburan sumpah serapah mulai thundering typhoons, blistering barnacles, hingga macrocephalic baboon, bagi orang Indonesia yang membaca komik “Petualangan Tintin”, tentunya dalam versi Bahasa Indonesia, terjemahan “Haddockisms” tersebut terbilang sukses. Siapa tak kenal teriakan “topan badai”, "bashi bazouk", "biang panu", “babon bulukan”, atau “sejuta setan belang”.
-
Tampaknya, pilihan kata dalam Bahasa (di) Indonesia cukup kaya (termasuk kata umpatannya, heuheu...), sehingga komik dengan terjemahan bahasa sendiri pun masih sanggup menciptakan fenomena Haddockisms. Bahkan sangat mungkin bahasa terjemahannya jadi lebih lucu buat kita ketimbang bahasa asli/rujukannya. Untuk diketahui, sang pencipta komik Tintin, Georges Remi alias Herge, membuat komik ini pertamakali dalam Bahasa Prancis dengan judul “Tintin et Milou” (Tintin dan Snowy), meskipun kemudian banyak negara yang menggunakan komik versi Inggris sebagai rujukan penerjemahan ke dalam bahasanya sendiri, termasuk Indonesia.
-
Omong-omong kesuksesan bahasa kita dalam menerjemahkan komik Tintin, ternyata di negara lain, komik terjemahannya tidak lebih bisa diterima oleh warganya sendiri. Sebut saja di salah satu negara di Asia Selatan bekas koloni Inggris. Translasinya ke bahasa lokal (urdu mungkin ya?) tampaknya kurang sukses, sehingga versi Inggris-nya tetap lebih disukai. Mungkin karena warga di negara-negara koloni Inggris juga lebih terbiasa dengan Bahasa Inggris ketimbang bahasanya sendiri. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Haddokisms bisa lucu jika diterjemahkan dalam bahasa orang Malaysia misalnya(???).
-
Namun toh hingga kini, komik “The Adventure of Tintin” sudah disadur ke dalam 58 bahasa. Maka, sebanyak itu pula komik ini telah dibaca warga dunia dengan interpretasi kelucuan berbeda-beda. Terlebih lagi, penamaan karakter tokohnya di tiap negara ternyata tidak sama semua. Misalnya saja nama detektif kembar yang "menderita" spoonerism (suka saling memutar balik kata-kata), Thomson dan Thompson, di beberapa negara ada yang menggunakan versi aslinya, yakni Dupont dan Dupond. Tapi ada juga negara yang "mengarang" sendiri, misalnya di negara-negara Arab menjadi Samir dan Tamir. Atau dalam bahasa mandarin menjadi Duben dan Dupeng (lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Dupont_dan_Dupond). Di Indonesia mungkin seharusnya menjadi Asep dan Acep, atau Maridjan dan Saridjan.
-
Begitu juga dengan nama Profesor Calculus. Penerbit baru komik "Petualangan Tintin" di Indonesia, entah dengan motif apa (mungkin juga karena copyright), mengembalikan nama-nama tokoh dalam komik tersebut ke versi aslinya yang berbahasa Prancis. Dengan begitu, kita tak akan menemukan kembali nama Profesor Calculus, Thomson dan Thompson, atau bahkan nama Snowy, yang sudah terlanjur ngetop di Indonesia. Pada komik-komik baru yang ukurannya pun berubah menjadi lebih kecil itu, nama mereka menjadi Profesor Lakmus, Dupont dan Dupond, dan... Milo.
-
Yeah... barangkali penggemar komik Tintin generasi mendatang di Indonesia akan mencatat perubahan itu sebagai bagian dari "sejarah" (halah!!). Namun yang menjadi masalah, anak-anak masa kini tampaknya juga kurang menggemari komik Tintin ketimbang komik-komik manga. Gaung komik Tintin, tampaknya tak akan pernah sama lagi dengan generasi kita dulu.
-
Terlepas dari urusan bahasa, komik Tintin memang menarik dari berbagai sisi, baik sisi pengarakteran tokoh-tokohnya, kelucuan dialog/monolog tokoh-tokohnya, ekspresi wajah dan tingkah laku sosok yang digambar, petualangan-petualangannya, berikut konspirasi yang menyelimutinya, dll. Hal-hal tersebut terutama makin terasa dalam komik-komik Tintin yang dibuat Herge belakangan, seiring makin luasnya wawasan Herge.
-
Formula yang dituangkan Herge pada komik ini –seperti dengan mengangkat isu-isu/tema-tema serius yang dibalut humoritas ringan namun cerdas sehingga justru jadi luar biasa dan tak henti-henti membikin kita terkekeh-kekeh— telah sanggup menimbulkan histeria dunia, hingga kini. Jika browsing di internet, ada seabrek cerita mengenai kefanatikan orang seputar komik Tintin. Penulis suatu artikel berbahasa Inggris di suatu situs misalnya, menyusun 10 alasan mengapa Tintin populer di seluruh dunia. Ada pula yang mengaku “ngefans” pada Haddockisms, sampai-sampai dia menyusun daftar sumpah serapah pelaut brewok yang doyan mabok itu.
-
Industri pun tumbuh. Di negara-negara Eropa, antara lain di Inggris, toko-toko penjual memorabilia Tintin “The Tintin Shop”, menjadi obyek wisata tersendiri. Pada waktu Tintin “ber-ultah” yang ke-75 pada 2004, pihak pemegang hak cipta Tintin, mengeluarkan koin bergambar Tintin dan anjing setianya Snowy. Koin edisi terbatas ini diperuntukkan khusus bagi para kolektor. Ini belum termasuk perangko dan medali bergambar Tintin dan Snowy, yang juga pernah dipublikasikan untuk memperingati ulang tahun penciptaan Tintin.
-
Tuduhan-tuduhan berbau SARA yang dialamatkan pada Herge dalam membuat komik Tintin, tampaknya tak sanggup membendung hasrat warga dunia untuk memuja Tintin. Ihwal tuduhan-tuduhan itu, Herge misalnya pernah dituduh anti semit karena dalam sejumlah komiknya ada kecenderungan “menyudutkan” Yahudi. Dia juga sempat dianggap anti Inggris Raya. Namun toh seperti dikutip situs Wikipedia, Israel tetap menerbitkan komik Petualangan Tintin melalui penerbit Mizrahi. Begitu juga Inggris lewat penerbit Methuen.
-
Syukurlah (kalau ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri..hehe) tak ada alasan tersinggung untuk Indonesia. Dalam seri Flight 714 (Penerbangan 714) yang mengambil seting Indonesia (versi aslinya menyebut Sondonesia), Herge tidak mengangkat isu budaya primitif yang biasanya diidentikkan para “bule” terhadap Indonesia. Setidaknya, kebetulan saja Herge tidak memasukan kata “Austronesia” sebagai salah satu daftar kutukan yang keluar dari mulut Kapten Haddock, seperti halnya kata “Polynesia”, atau “Aborigin”. (lihat http://www3.sympatico.ca/brooksdr/haddock/main.htm).
-
Beberapa wajah berkarakter melayu yang muncul dalam Penerbangan 714, dikisahkan disewa oleh Rastapopoulos, musuh bebuyutan Tintin. Dalam konteks Penerbangan 714 versi asli, Wikipedia.org menyebutkan, Herge menggambarkan wajah-wajah melayu itu sebagai pemberontak (rebels) Kamboja. Meski Sondonesia diambil dari kata Sunda-Indonesia, Herge mengambil nama pelesetan itu sekedar sebagai negara fiktif untuk menyindir rejim kejam yang berkuasa saat itu di negara Kamboja yang lokasi geografisnya sama-sama berada di Asia Tenggara.
-
Herge memang sering mereka-reka dan menamakan negara-negara fiktif dalam komik-komik Petualangan Tintin-nya. Contoh negara fiktif lain dalam komik Tintin adalah Borduria dan Syldavia. Meski fiktif, adat kebiasaan/tradisi negara fiktif yang digambarkannya itu terkadang identik dengan suatu negara nyata. Tapi setidaknya, bandara yang digambarkan Herge sebagai bandara internasional Sondonesia (dalam versi terjemahan Indonesia cetakan 1995 disebut Cengkareng, Jakarta, di Pulau Jawa. Versi terjemahan sebelumnya menyebut Kemayoran. Sementara dalam serial animasinya yang diproduksi Kanada, hanya menyebut Jakarta) tidak digambarkan Herge sebagai bandara terbelakang.
-
Jika benar demikian, boleh lah kita menganggap bahwa pengetahuan Herge tentang Indonesia, atau setidaknya tentang peta dunia, tidak sedangkal kebanyakan “bule” yang tahunya cuma Bali, dan bahwa orang Indonesia tinggal di pohon. Herge bahkan tahu bahwa di Indonesia ada Sunda sehingga melahirkan pemikiran menciptakan negara fiktif Sondonesia.
-
Jika kemudian muncul isu bahwa Herge “bias SARA”, mungkin karena pada dasarnya Herge berkecenderungan suka membela orang-orang tertindas dan teraniaya. Herge juga seringkali mengritik aksi-aksi yang mengacaukan perdamaian dunia seperti terhadap negara-negara yang banyak memperjualbelikan senjata. Misalnya seperti dikutip dari Wikipedia, Herge cenderung anti-Amerika karena Herge menganggap orang Amerika korup dan menindas Indian (dalam Tintin di Amerika), atau anti Inggris karena orang Inggris (dalam Lotus Biru) dianggap Herge suka menghina warga setempat dan tidak simpatik. Herge, dalam versi awal Negeri Emas Hitam yang tidak pernah diselesaikan, juga seolah-olah pro Arab dan anti Zionis Yahudi.

Selain itu, Herge juga banyak menyindir perilaku, ideologi, atau kebiasaan penduduk di negara-negara yang diangkatnya dalam komik Tintin. Ini sudah tampak pada komik Tintin-nya yang pertama, Tintin di Soviet : yakni banyak menyinisi ideologi komunis. Ini mungkin juga mencerminkan sinisme Herge –sebagai penganut katolik yang cukup taat-- pada ideologi komunis.
-
Namun sebagai seorang Eropa, Herge juga sempat dikritik cenderung mengunggulkan sosok-sosok kulit putih dalam komik Tintin. Namun seiring pertambahan usia dan meluasnya wawasan, Herge juga tampaknya kian humanis. Rasa humornya juga semakin cerdas baik dalam menggambar polah dan ekspresi tokoh-tokohnya, maupun dalam menulis dialog-dialognya (teks).
-
Dilihat dari dari sisi humanismenya itu, dalam Tintin di Tibet Herge seperti ingin mengingatkan, seorang Kapten Haddock yang kulit putih dan kaya, sah-sah saja ketika balik dibentak oleh seorang tukang panggul di Tibet tanpa harus merasa tersinggung. Atau Kapten Haddock yang begitu perhatian dan baik hati terhadap orang Gypsi dalam Zamrud Castafiore. Atau juga ketika dia meneteskan air mata setelah dia memberi uang pada seseorang yang dikiranya gelandangan di bandara, padahal dia seorang konglomerat bernama Laszlo Carreidas (Penerbangan 714).
-
Malah persahabatan Tintin dengan bocah asal negeri Cina, Chang, ternyata merupakan refleksi pertemanan nyata antara Herge dengan seorang Cina bernama Chang Chong-Jen. Chang Chong-Jen demikian dirindukan Herge sampai-sampai ketika puluhan tahun tak bertemu, Herge pada 1976 sengaja mencari jejak sahabat yang telah membukakan “dunia baru” baginya itu.
-
Simpang Siur Pembuatan Film
Tahun 2002, beredar kabar komik “Kisah Petualangan Tintin” akan difilmkan secara trilogi. Tak tanggung-tanggung, yang tertarik menggarapnya adalah sutradara kawakan, Stephen Spielberg, yang juga dikenal sukses memproduksi film-film dengan efek visual yang canggih. Spielberg sudah mengantongi hak memfilmkan “Kisah Petualangan Tintin” itu sejak 1984, setahun setelah Herge meninggal.
-
Akankah penggambaran Tintin dan konco dalam film akan semenarik komiknya? Tunggu punya tunggu, para penggemar Tintin tampaknya harus kecewa, atau mungkin harus lebih bersabar. Sebab sampai kini, belum jelas juga kapan film tersebut (yang katanya mengambil seri Rahasia Kapal Unicorn dan Rackham Merah) akan diputar.
-
Belakangan, ada isu bakal diputar tahun ini (2009), namun juga muncul gosip baru akan diputar pada 2011. Sementara, kabar pemeran Tintin-nya pun masih simpang siur, apakah Thomas Sangster atau Jamie Bell. Untuk saat ini, para penggemar tampaknya harus cukup puas hanya menonton animasinya yang dulu sempat diputar oleh beberapa stasiun televisi nasional, atau juga bisa dimiliki dalam bentuk CD. Dari sisi animasi, penggambaran tokoh-tokohnya cukup sesuai. Karakter suara masing-masing tokoh juga bisa diterima. Namun, tampaknya sulit untuk menjadi selucu komiknya.
-
Komik ke-24 Tak Pernah Selesai
HERGE
adalah nama samaran (pseudonim) Georges Remi. Pseudonim ini diambil dari inisial namanya yang dibalik, ”RG” (Remi, Georges) alias Herge. Lahir di Etterbeek, Brussels, Belgia, pada 22 Mei 1907. Disarikan dari free-tintin.net, bakat menggambar Herge sudah tampak sejak ia masih kecil. Untuk membuat Herge kecil diam, orang tuanya cukup memberinya sekotak krayon dan beberapa lembar kertas kosong.
-
Obsesi Herge terhadap sosok “boy hero” atau “little fellows” (yang kemudian mencapai pencitraan akhirnya pada Tintin) sebenarnya sudah tampak sejak Herge masih kecil. Di sela-sela belajar di tingkat sekolah dasar, dia seringkali menggambar di balik buku tulisnya mengenai petualangan bocah laki-laki kecil dengan seting suasana masa kecilnya pada zaman pendudukan Jerman di Belgia.
-
Selulus SMA (1925) Herge semakin produktif menggambar dengan obsesinya terhadap “boy hero” yang tidak pernah pudar. Salah satu karakter yang dihasilkannya adalah sosok pramuka Belgia bernama Totor. Herge juga sering membantu membuatkan ilustrasi untuk publikasi organisasi Action Catholique, tempat dimana dia kemudian berkenalan dengan Norbert Wallez, seorang pendeta, yang juga direktur surat kabar Le XXe Siecle. Di surat kabar ini juga Herge pertamakali bekerja, di divisi langganan.
-
Setahun kemudian, orang tua Herge memutuskan untuk mendukung sang anak mendalami bakat menggambarnya itu dengan melanjutkan sekolah di Saint Luc School. Namun harus terputus karena Herge harus mengikuti wajib militer. Meski begitu, Herge tetap menggambar Totor. Selepas menjalani wajib militer, Herge kembali ke Le XXe Siecle, dan kali ini mendapat kepercayaan dari Wallez di bidang yang sesuai dengan bakat Herge yakni selain fotografi, tata letak, ilustrasi, dan sejenisnya, juga sebagai kartunis.
-
Pada 1 November 1928, terbit majalah Le Petit Vingtieme. Masih di bawah bimbingan Wallez, Herge mendapat kepercayaan penuh di majalah tersebut sebagai editor in chief. Saat itu usia Herge baru 21 tahun. Di majalah ini, Herge juga mendapat “tugas” menggambar komik The Adventures of Flup, Nenesse, Pousette, and Cochonnet, yang tak begitu disukainya.
-
Pada terbitan ke-11, tepatnya pada 10 Januari 1929, Herge seolah mendapat alasan untuk tidak lagi melanjutkan proyek The Adventures of Flup, Nenesse, Pousette, and Cochonnet, yakni dengan meluncurkan debut komik kisah petualangan Tintin-nya dengan judul Tintin au pays des Soviets (Tintin di Soviet). Tak ada yang protes, bahkan Tintin “Si Jambul” ini mendapat sambutan hangat.
-
Setelah malang melintang di dunia pers, antara lain sempat menjadi chief editor untuk Soir Jeunesse, suplemen di harian Le Soir (1940), Herge berkali-kali mendapatkan penghargaan dan pengakuan dunia. Kartunis-kartunis ternama Amerika memberikan “official homage” (penghormatan resmi) pada Bapaknya Tintin ini (1972). Di tahun yang sama, Herge menjadi tamu kehormatan pada “Lucques Exhibition of Comics” ke-8 di Italia. Walt Disney, si pencipta Mickey Mouse, memberikan patung Mickey pada Herge (1979). Sementara dari negerinya sendiri, Belgia, Herge diganjar lifetime achievement pada ajang “St-Michel Grand Prize” (1973).
-
Bahkan pada ulang tahun Herge ke 75 pada 1982, masyarakat astronomi Belgia memberinya “hadiah” dengan menamakan sebuah planetoid kecil yang terletak antara Mars dan Jupiter dengan nama “Herge”. Planetoid itu sendiri ditemukan pada 1953 oleh seorang astronom bernama Sylvain Arend. Pemberian “hadiah” itu tampaknya berkaitan dengan seri komik Tintin berjudul Penjelajahan di Bulan yang terbit pada tahun yang sama.
-
Herge sempat menikah dua kali. Pernikahan pertamanya dengan Germaine Kieckens di usia ke-25 (1932) berakhir pada 1975. Dia kemudian menikah lagi pada 1977 dengan Fanny. Fanny-lah yang kemudian mengelola “Herge Foundations” sesudah Herge meninggal pada 1983 di Brussels. Herge meninggal setelah koma seminggu akibat sakit Leukemia yang diderita sejak 1980.
-
Hingga akhir hayatnya, Herge sempat menciptakan 24 judul komik Kisah Petualangan Tintin yang melegenda itu. Namun yang ke-24, berjudul Tintin et l’Alph-Art sebenarnya tak pernah sempat dituntaskannya. Meski begitu, di Eropa karya ini sudah diterbitkan pada 1986. Malah tahun 2004 sempat diterbitkan ulang dengan beberapa tambahan. Sayangnya, komik Herge yang terakhir ini tampaknya belum terbit di Indonesia.
-
Wartawan Tanpa Surat Kabar
DARI
sekian banyak literatur mengenai Tintin ataupun Herge, hampir tidak ditemukan pernyataan resmi yang menyebutkan mengapa Herge menggambarkan Tintin sebagai wartawan. Padahal, di ke-24 judul serinya, tak satupun digambarkan Herge bahwa Tintin sengaja melakukan petualangan untuk membuat tulisan atau meliput berita. Petualangan-petualangan Tintin selalu diawali dengan ketidaksengajaan (accident).
-
Jikapun disengaja bertualang, namun motivasi Tintin bukan untuk meliput suatu kejadian. Contohnya pada judul Tintin di Tibet. Di seri itu, motivasi Tintin pergi ke Tibet adalah untuk mencari sahabatnya, Chang. Atau dalam Penculikan Calculus, Tintin pergi ke Prancis untuk mencari si profesor pikun itu yang tiba-tiba menghilang dari rumah Kapten Haddock di Marlinspike.
-
Dalam beberapa seri lainnya, petualangan seru Tintin terjadi karena kebetulan. Misalnya saja dalam beberapa seri misalnya Cerutu Sang Faraoh, Penerbangan 714, atau Rahasia Pulau Hitam, petualangan terjadi karena keterlibatan tanpa disengaja. Malah seperti menjadi banyak “pertanyaan” penggemarnya, si tokoh utama ini justru lebih banyak menjadi bahan berita wartawan, menjadi headline di surat-surat kabar lengkap dengan foto si kepala balon ini beserta anjing setianya, Milou alias Snowy.
-
Namun demikian, Herge sepertinya tidak begitu saja menghilangkan kesan wartawan dalam diri Tintin. Pada seri Kepiting Bercapit Emas, sekali saja digambarkan “Si Jambul” ini tengah menanyai seorang pemilik toko sambil memegang notes dan pulpen. Itu pun sebenarnya masih tidak terlalu spesifik menggambarkan kegiatan kewartawanan. Seorang detektif bisa juga melakukan itu.
-
Mengapa Herge tidak mencitrakan Tintin sepenuhnya sebagai wartawan? Misalnya saja sedang mengetik, bekerja pada sebuah kantor surat kabar, memiliki bos yang tak henti-henti meminta beritanya dilengkapi, atau panik dikejar-kejar tenggat? Yah, Tintin memang bukan Clark Kent, si Superman yang juga selalu ditemani rekan wartawan yang cantik, dan dipenuhi kisah asmara.
-
Jika boleh beropini, pencitraan Tintin sebagai wartawan tampaknya lebih untuk mengambil karakteristik wartawan yang (seharusnya) bekerja atas dasar rasa ingin tahu yang besar, idealis, dan bergerak lebih cepat ketimbang kerja seorang detektif ataupun polisi, dll. (Herge malah lebih suka menggambarkan profesi detektif (polisi) pada duo kembar Thomson dan Thompson). Dalam diri Tintin, wartawan digambarkan sebagai penemu atau pembuat berita, bukan menunggu berita turun dari langit.
-
Bisa jadi pula Herge menempelkan identitas profesi wartawan pada Tintin karena dunia Herge dekat dengan profesi itu. Para penggemarnya pun telah dengan senang hati menerima Tintin sebagai wartawan daripada profesi lain. Pernyataan Ivo Vandekerckhove, Chief Editor surat kabar Het Belang van Limburg pada saat ulang tahun Tintin ke-75, mungkin dapat sedikit menjawab pertanyaan banyak orang. Jangan lupa, kata Ivo, Tintin lahir dari surat kabar, dia dibuat untuk surat kabar. Jadi Tintin adalah seorang jurnalis.
-
Meski dikisahkan “tanpa surat kabar”, namun Tintin bukan WTS alias wartawan tanpa suratkabar, yang bermodalkan tape recorder tanpa batere alias tape mati, dan suka ngaku-ngaku dari media lain. “Sejuta topan badai, setan laut, biang panu, kutu busuk, bashi bazouk, babon bulukan...” (naskah ini dibuat Januari 2007)

Courtesy:



4 comments:

Asri said...

interesting! I like its layout..

ruri andayani said...

Kabantuan as ku gambar keluarga besar Tintin. However, hatur nuhuuuun!!

ahyani said...

nice,.. nice,....

ruri andayani said...

Ehehe, matur nuwuun Bpk Ahyani sudah menengok blogku...