Bukan kebiasaan saya —atau lebih tepatnya, saya tidak pernah mau membiasakan— memberi uang kepada pengamen cilik apalagi peminta-minta cil
ik. Saya punya pikiran, kalau anak-anak itu betah berada di jalanan —bergelantungan di pintu angkot, berkeliaran di pesimpangan-persimpangan jalan— hanya demi 500-1000 rupiah yang diberikan orang kepada mereka, maka selamanya mereka akan berada di jalanan, dengan serbaneka bisnis jalanan tentunya. Padahal, mereka sebenarnya masih bisa diselamatkan.
Akan tetapi suatu waktu, saya begitu terenyuh melihat seorang anak usia sekitar 9 tahun yang naik ke angkot yang saya tumpangi, dan duduk di tangga pintu angkot. Saya pikir dia akan segera mengeluarkan kecrekan-nya dan lalu mendendangkan lagu: “daripada jadi copet lebih baik jadi pengamen jalanan”, begitu kira-kira lagu “ancaman” para pengamen agar ibu-ibu penumpang angkot buru-buru merogoh recehan dari tasnya —daripada mereka jadi pencopet, mending tetep jadi pengamen aja lah (??).
Sepanjang perjalanan saya terus mengamati anak berkaos hijau dan berperawakan “sehat” ini. Dia tak juga mengamen padahal sudah 15 menitan dia menyumbat pintu angkot. Yang dilakukannya hanya duduk-duduk, dengan kepala seringkali menunduk, dan tangan kirinya—saya pikir tadinya—menyangga kepalanya: gaya manusia yang sedang galau. Matanya tampak seperti kurang tidur.
Benak saya sibuk menganalisis dan menginterpretasi pemandangan di depan mata saya ini. Betapa menyedihkan kalau anak kecil sudah mengerti galau. Galau bukan fitrah anak-anak. Mungkinkah anak ini sedang menginginkan sesuatu tapi tidak bisa didapatkannya?
Ajaib!! Dalam waktu setengah jarak perjalanan menuju lokasi yang akan saya tuju, saya pun merogoh-rogoh saku, mencari 1000-an (haha). Kupikir 1000-an ini akan cukup menghiburnya untuk sekedar bisa membeli “snack” murahan di warung-warung.
Tapi sodara-sodaraa… saking lekatnya saya mengamati gerak-gerik anak itu, akhirnya ketahuanlah. Rupanya, tangan si anak yang saya pikir sedang menyangga kepala bak orang sedang sedih itu, menggenggam suatu benda dengan ukuran sekepalan tangannya berprofil bahan metal, yang didekat-dekatkan ke hidungnya. Ampyyyuuun….ternyata dia sedang: ngelem! Pantas matanya sayu, rupanya dia sedang setengah teler oleh aroma lem aibon yang sedang dihirupnya.
Bersamaan dengan itu dia pun mulai beraksi, mungkin karena jumlah penumpang terutama ibu-ibu, mulai bertambah. Ibu-ibu memang paling gampang terketuk hatinya pada pengamen2 cilik begitu. Dua tiga menit kemudian, tanpa repot "berfilosofi" seperti saya, para ibu-ibu ini mulai sibuk merogoh-rogoh saku, dompet, atau celah-celah lainnya yang mungkin menyelipkan uang recehan. Di posisi lain, saya benar-benar syok (halah) oleh penipuan ini. Duit 1000-an yang sudah di genggaman pun, saya masukin saku celana lagi.
Entah karena kesal “tertipu” oleh style si anak atau karena ingin “menghukum” anak itu, begitu dia selesai ngamen, saya memberi tahu penumpang ibu-ibu (yang tak saya kenal itu) itu, agar tidak memberikan uang kepada anak itu. Saya bilang kira-kira begini, "Anak ini sedang ngelem, uang yang mereka berikan bisa saja nanti malah bakal dibelikan lagi lem aibon." Misi idealisnya adalah, apakah ibu-ibu itu mau alih-alih kasihan akhirnya malah berkontribusi merusak anak kecil yang sesungguhnya masih bisa “diselamatkan” ini (whew!). Para ibu itu pun sontak batal memberikan recehannya pada si anak.
Aksi saya ini, membuat muka “fly” si anak makin kelihatan kusut. Dia tidak mengumpatkan sepatah kata pun, melainkan hanya memandangi saya dengan ekspresi..... pengen nabok mungkin. Akhirnya dia turun di daerah Balubur, sambil mulutnya komat-kamit. Mungkin merapalkan “mantra-mantra” yang dia dapat secara autodidak dari anak jalanan lain yang lebih dewasa, agar penumpang macam saya enyah dari muka bumi.
Saya sendiri tidak berani menatap wajah marah si anak, juga tidak tega ditatap seperti itu oleh anak kecil. Saya hanya tahu dari komentar ibu-ibu sesama penumpang yang sudah saya provokasi itu, bahwa si anak katanya meureupan (mengacungkan kepalan tangannya) ke arah angkot yang baru dia turuni. Haha... ya pastinya “peureup“ (kepalan tangan) itu ditujukan ke saya. Ahamdulillaaaah, terimakasih atas "peureupnya" ya naaakk!!
***
Jika dilihat dari ukuran/luas kota, Bandung sebenarnya cukup kecil untuk diurusi. Namun ternyata, urusan “sektor informal” seperti pengamen jalanan (termasuk anak-anak), PKL, serta pengemis, kompleksitasnya tak kalah ruwetnya dengan kota-kota yang lebih metropolitan seperti Jakarta atau Surabaya.
Terlebih lagi karena kepemimpinan terhadap kota ini TERAMAT SANGAT LEMAH BANGET SEKALI!! Para pengelolanya seolah-olah lebih disibukkan oleh bagaimana mendatangkan "devisa" sebanyak mungkin untuk kas daerah (atau untuk kas di rumahnya juga kalee). Diperlukan kepemimpinan semacam Joko Widodo, Walikota Solo yang saat ini sedang digadang-gadang menjadi Gubernur DKI, untuk membenahinya.
Namun.... Bandung bahkan sudah seperti Indonesia kecil. Ingin melihat miniatur kebobrokan para pemimpin negeri ini dalam mengurus negara, lihatlah Bandung.(***)
6 comments:
alus euy feature-na..
alus nyak...hatur tengkyuw atuh neng (hiks). Ini mah tepatnya semacam esai lah, hehehe...
Hahahahahaha.... Mun teu wawuh moal pati ngeunah, I, seurina... Hahahahahhahahaha
Waaah, c opin mah da niatna nyeuseurikeun anu nulisna, heu!
Bandung kota angkot, kota sejuta spdmotor. Macet dimana-mana, kalah oleh jakarta utk tatakotanya!!
Disetiap perempatan jalan ada gembel!
Ongkos transportasi umum mahal, taksi gelap berkeliaran tanpa argo.
Pedagang kakilima gila2an banyaknya..:P ( me a visitor from JKT )
Hai, elu si hackersoleh ya? Berobatlah, biar makin soleh :P
Post a Comment