Setelah mengantungi hak memfilmkannya sejak 1984, akhirnya baru pada 2011 sutradara kawakan Stephen Spielberg berhasil mewujudkannya. Syukurlah kita masih hidup untuk bisa mengapresiasinya.
Kisah dimulai dengan seting suasana pasar loak. Seorang pelukis jalanan yang wajahnya mirip Georges Remi alias Herge, sang pencipta komik “Kisah Petualangan Tintin”, tampak sedang sibuk melukis—lukisan wajah si pemesan.
Saat sang pelukis menunjukkan hasil lukisannya pada si pemesan —lukisan wajah karakter Tintin yang selama ini kita kenal lewat komik “Kisah Petualangan Tintin— si pemesan bilang: lumayan. Di sini untuk pertama kalinya para penggemar Tintin diberikan alternatif karakter tokoh komik berjambul tersebut dalam sosok yang “manusiawi” versi layar lebar. Namun adegan ini sendiri sebenarnya tidak ada dalam cerita aslinya.
Tintin oleh Spielberg direpresentasikan dalam karakter ras kaukasian sejati yang sepertinya memang dimaui Herge: mata biru, hidung kecil mancung, kulit “bule”, dan rambut pirang (cuma tingginya aja yang gak dapet). Sementara selama ini kita mengenal Tintin dengan mata yang berupa dua titik hitam saja, dan hidung kecilnya yang mencuat semacam hidung pinokio sebelum berbohong.
Semula saya berpikir film Tintin akan benar-benar “dimanusiakan”, semacam Spiderman lah. Tapi ternyata Spielberg membuatnya menjadi (total) animasi, dengan karakter suara mengambil suara aktor Jamie Bell (akhirnya Jamie Bell, bukan Thomas Sangster).
Saya pribadi sangat puas dengan pengarakteran Tintin yang manusiawi ini. Dia (buat saya) sama keren dan cakepnya dengan Tintin versi kartun, begitu juga pengarakteran tokoh-tokoh lain secara keseluruhan. Akan tetapi, cara Spielberg mengaduk-aduk alur cerita menjadi nyaris berbeda sekali dengan komiknya, sesungguhnya agak mengganggu saya sebagai penggemar berat komiknya—topan badai!!! Meski memang dapat dimaklumi bahwa sesuatu yang tercetak dan sifatnya lebih detail, jika difilmkan yang durasinya hanya sekitar dua jam dan sekilas-sekilas, tentu akan memaksa terjadinya banyak perbedaan. Apalagi jika target penontonnya juga lebih universal, tak hanya dari generasi ’70-’80-an.
Maka, agak mengezutkan bahwa ternyata Spielberg mengambil ceritanya tak hanya dari seri “Rahasia Kapal Unicorn” dan sambungannya “Harta Karun Rackham Merah”, namun juga mencuplik beberapa adegan dari seri “Kepiting Bercapit Emas”. Padahal cerita pada seri yang disebut terakhir ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dua judul pertama….astaganaga!! bin great snake!!!
Tidak itu saja, Spielberg bahkan mengarang sendiri beberapa alur cerita, adegan, dan seting cerita (*kepiting rebus!!). Salah satunya adalah munculnya karakter Bianca Castafiore yang mengadakan konser di sebuah istana di kawasan suatu bendungan. Boleh jadi Spielberg beralasan, jika hanya terpaku pada cerita dan adegan aslinya pada komik, untuk film mah jadi nggak bakal seru! Dan jika itu yang menjadi alasan Spielberg, saya untungnya tidak terlalu keberatan. Sebab, animasi bikinan Om Spielberg ini benar-benar keren, meskipun jika Herge masih hidup dia mungkin yang akan keberatan.
Mari kita elaborasi sejumlah “kerancuan” alur cerita dan adegan pada film bikinan pembuat film fenomenal Extra Terestrial ini, jika dibandingkan komiknya.
Saat sang pelukis menunjukkan hasil lukisannya pada si pemesan —lukisan wajah karakter Tintin yang selama ini kita kenal lewat komik “Kisah Petualangan Tintin— si pemesan bilang: lumayan. Di sini untuk pertama kalinya para penggemar Tintin diberikan alternatif karakter tokoh komik berjambul tersebut dalam sosok yang “manusiawi” versi layar lebar. Namun adegan ini sendiri sebenarnya tidak ada dalam cerita aslinya.
Tintin oleh Spielberg direpresentasikan dalam karakter ras kaukasian sejati yang sepertinya memang dimaui Herge: mata biru, hidung kecil mancung, kulit “bule”, dan rambut pirang (cuma tingginya aja yang gak dapet). Sementara selama ini kita mengenal Tintin dengan mata yang berupa dua titik hitam saja, dan hidung kecilnya yang mencuat semacam hidung pinokio sebelum berbohong.
Semula saya berpikir film Tintin akan benar-benar “dimanusiakan”, semacam Spiderman lah. Tapi ternyata Spielberg membuatnya menjadi (total) animasi, dengan karakter suara mengambil suara aktor Jamie Bell (akhirnya Jamie Bell, bukan Thomas Sangster).
Saya pribadi sangat puas dengan pengarakteran Tintin yang manusiawi ini. Dia (buat saya) sama keren dan cakepnya dengan Tintin versi kartun, begitu juga pengarakteran tokoh-tokoh lain secara keseluruhan. Akan tetapi, cara Spielberg mengaduk-aduk alur cerita menjadi nyaris berbeda sekali dengan komiknya, sesungguhnya agak mengganggu saya sebagai penggemar berat komiknya—topan badai!!! Meski memang dapat dimaklumi bahwa sesuatu yang tercetak dan sifatnya lebih detail, jika difilmkan yang durasinya hanya sekitar dua jam dan sekilas-sekilas, tentu akan memaksa terjadinya banyak perbedaan. Apalagi jika target penontonnya juga lebih universal, tak hanya dari generasi ’70-’80-an.
Maka, agak mengezutkan bahwa ternyata Spielberg mengambil ceritanya tak hanya dari seri “Rahasia Kapal Unicorn” dan sambungannya “Harta Karun Rackham Merah”, namun juga mencuplik beberapa adegan dari seri “Kepiting Bercapit Emas”. Padahal cerita pada seri yang disebut terakhir ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dua judul pertama….astaganaga!! bin great snake!!!
Tidak itu saja, Spielberg bahkan mengarang sendiri beberapa alur cerita, adegan, dan seting cerita (*kepiting rebus!!). Salah satunya adalah munculnya karakter Bianca Castafiore yang mengadakan konser di sebuah istana di kawasan suatu bendungan. Boleh jadi Spielberg beralasan, jika hanya terpaku pada cerita dan adegan aslinya pada komik, untuk film mah jadi nggak bakal seru! Dan jika itu yang menjadi alasan Spielberg, saya untungnya tidak terlalu keberatan. Sebab, animasi bikinan Om Spielberg ini benar-benar keren, meskipun jika Herge masih hidup dia mungkin yang akan keberatan.
Mari kita elaborasi sejumlah “kerancuan” alur cerita dan adegan pada film bikinan pembuat film fenomenal Extra Terestrial ini, jika dibandingkan komiknya.
- Karakter Sakharine (dalam komik memiliki nama lengkap Ivan Ivanovich Sakharine) pada komik adalah sekedar seorang kolektor kapal model yang juga berminat mengumpulkan petunjuk harta karun tersebut, namun ia sendiri akhirnya menjadi korban pencurian kapal koleksinya. Sementara di film, Sakharine dibikin menjadi keturunan Rackham Merah, seteru moyangnya Kapten Haddock. Padahal pada komik, tokoh antagonisnya adalah kolektor barang antik lainnya, yang oleh Herge bahkan tidak pernah dimunculkan lagi sebagai musuh bebuyutan Tintin macam Alan atau Rastapopoulos.
- Beberapa karakter sebenarnya belum atau tidak muncul dalam seri “Rahasia Kapal Unicorn” dan “Harta Karun Rackham Merah”, namun oleh Spielberg dimunculkan di filmnya, seperti karakter Alan dan Bianca Castafiore.
- Pada komik, Tintin sudah mengenal Kapten Haddock, karena tujuan dia membeli kapal model Unicorn juga adalah untuk dihadiahkan pada Haddock. Sementara pada film, Tintin baru saling kenal dengan Haddock, dan adegan baru saling kenal ini sebenarnya ada di seri “Kepiting Bercapit Emas” yang tidak ada hubungan cerita dengan dua seri yang disebut di awal.
- Pada komik, Tintin tidak diculik ke kapal Karaboudjan, melainkan ke Marlinspike Hall yang kala itu masih dimiliki oleh kolektor barang antik jahat tersebut. Nama kapal Karaboudjan, sebenarnya muncul pada seri “Kepiting Bercapit Emas”.
- Sementara, adegan Tintin diculik ke kapal Karaboudjan kemudian bertemu pertama kali dengan Kapten Haddock, hingga berhasil melarikan diri dengan sekoci lalu membajak kapal terbang amfibi yang menembaki mereka untuk kemudian terdampar di Sahara yang membuat Kapten Haddock berhalusinasi tentang aksi moyangnya yang bertempur dengan Rackham Merah hingga Karaboudjan meledak, kemudian diselamatkan oleh semacam pangkalan militer Prancis, lalu ditolong pergi ke Kota Bagghar hingga bertemu dengan seorang “konglomerat” lokal yang seolah-olah disegani penduduk setempat,padahal seorang penyelundup ganja (*hah heh hoh...), sebenarnya ada dalam seri “Kepiting Bercapit Emas”. Ini pun masih dengan alur cerita yang juga berbeda dari komiknya…..ckckck!! Biang panu!!
- Nah, mulai adegan Tintin dan Haddock menonton konser Bianca Catafiore, lalu kemudian terlibat kejar-kejaran berebutan kertas petunjuk harta karun yang melibatkan burung elang di suatu kawasan bendungan, di sini rasanya Spielberg bener-bener ngarang….babon bulukan!!
- Dalam komik, ketiga lembar kertas warisan moyang Haddock itu menunjuk ke koordinat tempat karamnya kapal Unicorn, meskipun harta karun yang dimaksud ternyata tidak ada di dalam kapal karam tersebut, melainkan justru di Marlinspike Hall. Namun pada film, justru menunjuk langsung ke Marlinspike Hall.
Karena gosipnya Spielberg akan membuat film ini secara trilogi, jika melihat akhir cerita pada film, tampaknya Spielberg belum akan menuntaskan ceritanya dalam satu judul saja meskipun Tintin dan Haddock berhasil menemukan sebagian harta karun Kapal Unicorn dalam topi moyang Haddock yang tersimpan di dalam miniatur bola dunia (adegan ini ada juga di dalam komiknya). Nah, apakah Spielberg akan membalik-balikkan alur cerita menjadi sama sekali berbeda dengan komiknya? Kita tunggu saja, entah kapan. Mudah-mudahan sang sutradara diberi kesehatan dan umur panjang, begitu juga kita.(***)
1 comment:
ALUS EUY REVIEW-NA, CUKUP KOMPREHENSIF!! (Perlu pake kapital, sbg tanda laik this.) Btw, ternyata kalo ditulis oleh penggemar sesungguhnya mah beda euy, jerooo ma men!!! :)))
Post a Comment