Pernahkah anda merasa sibuk tertib
sendiri di tengah kekacauan? Memasukan sampah sendiri ke dalam tas (sendiri)
padahal di sekitar kita sampah bertebaran. Menunggu lampu hijau untuk penyeberang
jalan menyala, sementara pejalan kaki lainnya main potong lalu lintas begitu saja.
Membawa tas sendiri saat belanja di pasar swalayan, sementara orang lain datang
bawa duit doang. Dan banyak pengalaman “berasa tertib sendiri” lainnya lagi. Rasanya
kok jadi seperti agak-agak bloon sendiri, bukan?
| Sampah berserakan di dalam angkot: "City of Pigs" |
Jarang banget ada penumpang angkot yang kedapatan makan-makan terus sampahnya
dia masukan ke dalam tasnya. Semakin menyedihkan,
penumpang macam ini tak kenal umur, “kasta”, dan penampilan, bahkan pendidikan: mulai
anak-anak hingga orang dewasa, yang berpakaian seksi hingga yang menutupkan
kain ke kepalanya, yang tampak terawat dan tidak terawat (yang tampak terawat mungkin
kantongnya lebih tebal).
Eh tapi soal gender, mungkin agak kenal. Pasalnya, penumpang laki-laki
jarang yang makan-makan di dalam angkot (kecuali merokok).
Bayangkan, betapa lelahnya jiwa si “tertib sendiri” ini di tengah
kesemrawutan perilaku orang lain. Kadang jadi suka frustrasi dan nyaris
menyerah dengan ingin berperilaku sama semrawutnya: apalah artinya buang sampah
plastik pembungkus permen sementara si sekeliling kita sampah bertebaran.
Tapi: TETTOW!! Seolah-olah ada kepingan DNA di tubuh yang tiba-tiba berbunyi
dan menyala dengan lampu merah menyilaukan; seperti di acara-acara kuis kalau
salah menjawab. Ah DNA, kau bikin saya jadi merasa susah sendiri: saya tidak
akan pernah bisa menjadi sembarangan seperti orang lain kalau begini. Ya, perilaku saya terhadap lingkungan seolah bukan datang dari alam sadar, melainkan sudah terformat dalam salah satu keping atau rangkaian DNA di tubuh saya (:D).
Akhirnya, demi berkopromi dengan sang seolah-olah DNA ini—karena
ternyata menentangnya juga sama-sama bikin jiwa cape—maka tak ada cara lain,
saya harus mengikuti maunya. Ketika saya akhirnya hidup sendiri karena orang
tua sudah meninggal dan saya belum menikah, saya bebas menentukan mengatur
sampah-sampah antara organik dan non organik.
Jujur saja, ketika ibu saya (almarhumah)
masih ada, sulit benar mengatur hal ini. Pasalnya bagi ibu saya, sampah adalah
sampah, mau organik kek mau non kek. Dan dari sini saya belajar “memahami”
masyarakat pada umumnya, khususnya masyarakat Indonesia. Perlu sosialisasi
menerus untuk mengubah kebiasaan ini.
Sadar sesadar-sadarnya sebenarnya bahwa apa yang saya lakukan ini
sulit dilihat ukuran kontribusinya terhadap perbaikan lingkungan, tapi
entahlah, kupikir mungkin malah energi positifnya; semacam energi quantum; yang
akan meluruskan upaya ini. Entahlah. Saya setuju dengan ungkapan: mulai dari diri
sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai saat ini juga. Bukan soal
kuantitasnya, melainkan kemauan untuk melakukannya.
Memulai dari yang Kecil
Apabila membaca postingan WWF mengenai lomba nge-blog ini, loh kok
sepertinya WWF meniru cukup banyak yang sudah saya lakukan. Rinci ah:
1. Hemat energi: Kalau hemat energi yang dimaksud di sini listrik,
saya sudah terdepan. Terdepan dalam upaya mengirit tagihan sebenarnya. Lumayan
loh, apa yang saya lakukan bisa mengirit hingga Rp 25 ribu per bulan. Namun
memang harus cukup ketat mengatur mana yang menyala mana yang tidak.
2. Mengurangi penggunaan plastik: Ibu-ibu masa kini kalau belanja di tukang
sayur yang lewat depan rumah, tetap saja belanjaannya diplastikin. Nah, saya
coba ala ibu-ibu zaman baheula, bawa baskom (soalnya dulu komoditas yang dijual
tukang sayur dibungkusnya pakai daun jati, bukan plastik). Takjub, kebiasaan
ini membuahkan hasil. Tukang tahu langganan di pagi hari buta, malah balik bertanya,
“Gak pake baskom Bu?” ketika saya keluar rumah, dengan mata masih sepet, karena
kebelet kangen tahu, tanpa bawa baskom.
3. Memakai transportasi umum: Sejak SMP, saya memang pengguna “setia” angkutan
umum. Mungkin karena sampai sekarang belum bisa beli mobil (hehe). Kenapa mobil,
karena saya benci sepeda motor; kendaraan yang memberi “semangat” para pengendaranya
untuk gampang melanggar segala aturan (heran).
4. Hemat kertas: hemat kertas tidak sesulit hemat plastik. Sejak
selepas jadi mahasiswa pun sudah tak banyak menggunakan kertas. Apalagi
sekarang aktivitas kerja kebanyakan di dunia internet yang mainannya unduh dan
unggah (tanpa print). Jadi soal sampah kertas, statusnya aman terkendali.
5. Mengelola limbah dan sampah: Untuk hal ini, saya terpaksa masih
sebatas tertarik, namun belum menemukan “jalannya”. Yang bisa saya lakukan
hanya mengubur sampah-sampah organik saya di halaman, tanpa perlakuan khusus.
Namun saya sudah melihat hasilnya, tanah jadi subur—kebetulan saya penyuka
tanaman. Yang sulit adalah sampah plastik: masih melakukan kebiasaan umum;
menyerahkan bulat-bulat ke tukang sampah, namun sudah dalam keadaan tersortir
dari sampah organik.
6. Hemat air? Sebelum saya berhemat, PDAM di kota saya sudah lebih
dulu bikin saya hemat, soalnya mengalirnya hanya pada jam-jam tertentu, kecil
pula debitnya. Untuk air, saya malah berharap PDAM agak boros kepada kami.
7. Soal sumber pangan, syukurlah saya bukan tipe yang “harus makan
nasi”. Yang masih agak mengganggu saya adalah, saya suka makanan yang digoreng,
dan minyak goreng yang harganya sesuai isi kocek saya cuma minyak kelapa sawit.
Ah, maafkan untuk yang ini. Semoga minyak kelapa sawit yang saya beli termasuk
yang sudah menerapkan perkebunan ramah lingkungan dan semoga para orang utan dan
harimau Sumatra terselamatkan.
Berharap pada Calon Pemimpin
Untuk ini, saya hanya bisa menyebut tiga “role model” pemimpin ideal yang
ada saat ini (setidaknya sampai saat tulisan ini saya buat): tirulah gaya Joko
Widodo (sebagai Gubernur DKI Jakarta), Tri Rismaharini (sebagai Wali Kota Surabaya), dan Ridwan Kamil (sebagai Wali Kota Bandung), dalam berpihak pada lingkungan. Jika
tak bisa melakukan hal yang sama minimal seperti yang dilakukan ketiga orang
ini, sebaiknya mundur saja.**


No comments:
Post a Comment