Thursday, January 15, 2015

Kopi dan Sandwich Croissant di Ujung 2014



Dua hari terakhir sebelum 2015, inginnya ziarah ke makam ortu sambil rada olah raga, tapi start-nya kejauhan: dari Pamoyanan (Pasirkaliki) setelah sengaja naik angkot ke daerah ini. Untuk sambil sekadar menikmati hari-hari terakhir 2014 (apa yang dinikmati ya pikir2, hihi…), saya nyempatin diri ngopi-ngopi dulu di Dunkin Donut (DD) Pasirkaliki. Pesannya, paket sarapan.

Sempat hokcay karena tarifnya tidak seperti yang saya tahu semula, yakni Rp 16.000. Cek punya cek, weleeeh… rupanya minuman yang saya pesan, coffee milk (kopi susu!), ternyata ada tambahan Rp 10.000 untuk susunya. Cuma susu segitu aja!? Terpaksa merogoh kocek lebih dalam.

Untunglah saya menikmati suasana yang masih sepi dan agak gerimis pagi itu; sekitar pukul sembilan. Sandwich croissant-nya juga enak, meski rasa kopinya agak berbeda dari yang saya pernah beli di DD cabang lain. Yang ini rada hapeuk :D

Selesai ngopi sambil “ngelamun” (diwarnai pegawai Dunkin Donut-nya yang sibuk sasapu di sekitar posisi saya duduk---apa maksudnya ini? Gak boleh lama-lama, gitu???!! Padahal belum lama juga saya duduknya), sambil juga mengamati lalu lintas Jalan Pasirkaliki, akhirnya saya beranjak pergi (saya lewati si pegawai yang masih sibuk sasapu dengan agak sadis, gak sekadar permisi pun—heran dengan DD dimana pun yang pernah saya kunjungi, adaaa aja kesan kurang ramahnya. Apakah memang begitu “SOP”-nya di semua DD?).

Kawasan sekitar Pandu: ah, sampaaah!!!
Dari Pasirkaliki saya belok ke Jalan Dursasana. Rencananya, dari sini saya akan mulai jalan kaki hingga ke pemakaman Sirnaraga. Di Jalan Dursasana ada Pasar Pamoyanan. Bukan kebetulan karena saya memang berniat belanja di sini: kol, bawang daun, seledri, terigu, cengek, plus cakwe. Usai belanja, saya blusukan ke gang-gang sempit di sana, sambil sedikit tanya-tanya jalur yang bisa tembus ke pemakaman Sirnaraga.

Tapi strategi saya buruk. Belanjaan terasa beraat. Apalagi gerimis yang sempat mengerap bikin saya terpaksa buka payung. Ditambah kondisi badan yang sebenarnya sedang agak kurang fit (tenggorokan sedang bermasalah), saya akhirnya menyerah melanjutkan niat ke makam ortu yang masih cukup jauh. Belum lagi membayangkan harus bertemu “calo” pemakaman yang mata duitan, hihihi...

Tak lebih 50 meter blusukan di gang (mungkin nama gangnya Dursasana Dalam atau Pandu Dalam), jalan lebar sudah terlihat di depan, Jalan Pandu. Karena sudah tidak berniat meneruskan ke Sirnaraga, maka saya memilih mencari Jalan Sadewa atau Baladewa demi bertemu Jalan Pajajaran.

Di kawasan Pandu dan sekitarnya yang rumah-rumahnya berarsitektur kolonial, saya sempat menikmati suasana teduh adem karena pohon-pohon peneduhnya tinggi-besar, khas kawasan jadul. Tapi namanya Bandung, gak pernah ajaa ada kawasan yang terbebas dari sampah.

Di salah satu ruas jalanan yang lengang, saya sempat membelanjai seorang tukang sayur sepuh, tapi bersemangat. Saya membeli tahu dan cabe kembung dari beliau. Tentengan pun semakin beraaat!

Home sweet home: lengang, benar-benar mewaahhh!!
Saya tahu, Jalan Baladewa itu ramai, banyak kaki lima, agak kumuh karena di satu sisinya berdiri rumah-rumah yang mungkin sebenarnya liar karena tak lebih 10 meter dari sempadan Sungai Citepus. Karena itu saya memilih melalui Jalan Sadewa.

Dari ujung dalam Jalan Sadewa, saya akhirnya melihat jalan yang ramai. Saya sambut Jalan Pajajaran dengan lega, dimana tiga trayek angkot yang mendekati posisi rumahku lewat di sana.

Semoga, meskipun tidak jadi ziarah ke makam ortu, doaku untuk mereka tetap sampai: agar kuburnya diterangkan dan dilapangkan, serta dijauhkan dari api neraka. Aamiin! Lantas  saya pun berkhayal, ibu, bapak, dan kakak keduaku yang dimakamkan berdekatan, sedang ngobrol seru di sana.

Meskipun dengan "dada berat", tapi hari itu cukup menyenangkan. Terlebih, kawasan rumahku juga sedang lengang. Sekolah Dasar yang dekat dengan rumahku, biang ramai sehari-hari, sedang libur akhir tahun. Benar-benar kemewahan.**

No comments: