Dua hari terakhir sebelum 2015, inginnya ziarah ke makam ortu sambil
rada olah raga, tapi start-nya kejauhan: dari Pamoyanan (Pasirkaliki) setelah
sengaja naik angkot ke daerah ini. Untuk sambil sekadar menikmati hari-hari
terakhir 2014 (apa yang dinikmati ya pikir2, hihi…), saya nyempatin diri ngopi-ngopi
dulu di Dunkin Donut (DD) Pasirkaliki. Pesannya, paket sarapan.
Sempat hokcay karena tarifnya tidak seperti yang saya tahu semula, yakni
Rp 16.000. Cek punya cek, weleeeh… rupanya minuman yang saya pesan, coffee milk
(kopi susu!), ternyata ada tambahan Rp 10.000 untuk susunya. Cuma susu segitu
aja!? Terpaksa merogoh kocek lebih dalam.
Untunglah saya menikmati suasana yang masih sepi dan agak gerimis pagi
itu; sekitar pukul sembilan. Sandwich croissant-nya juga enak, meski rasa
kopinya agak berbeda dari yang saya pernah beli di DD cabang lain. Yang ini
rada hapeuk :D
Selesai ngopi sambil “ngelamun” (diwarnai pegawai Dunkin Donut-nya
yang sibuk sasapu di sekitar posisi saya duduk---apa maksudnya ini? Gak boleh
lama-lama, gitu???!! Padahal belum lama juga saya duduknya), sambil juga mengamati
lalu lintas Jalan Pasirkaliki, akhirnya saya beranjak pergi (saya lewati si
pegawai yang masih sibuk sasapu dengan agak sadis, gak sekadar permisi pun—heran
dengan DD dimana pun yang pernah saya kunjungi, adaaa aja kesan kurang
ramahnya. Apakah memang begitu “SOP”-nya di semua DD?).
| Kawasan sekitar Pandu: ah, sampaaah!!! |
Dari Pasirkaliki saya belok ke Jalan Dursasana. Rencananya, dari sini
saya akan mulai jalan kaki hingga ke pemakaman Sirnaraga. Di Jalan Dursasana
ada Pasar Pamoyanan. Bukan kebetulan karena saya memang berniat belanja di sini:
kol, bawang daun, seledri, terigu, cengek, plus cakwe. Usai belanja, saya
blusukan ke gang-gang sempit di sana, sambil sedikit tanya-tanya jalur yang
bisa tembus ke pemakaman Sirnaraga.
Tapi strategi saya buruk. Belanjaan terasa beraat. Apalagi gerimis
yang sempat mengerap bikin saya terpaksa buka payung. Ditambah kondisi badan yang
sebenarnya sedang agak kurang fit (tenggorokan sedang bermasalah), saya
akhirnya menyerah melanjutkan niat ke makam ortu yang masih cukup jauh. Belum
lagi membayangkan harus bertemu “calo” pemakaman yang mata duitan, hihihi...
Tak lebih 50 meter blusukan di gang (mungkin nama gangnya Dursasana
Dalam atau Pandu Dalam), jalan lebar sudah terlihat di depan, Jalan Pandu.
Karena sudah tidak berniat meneruskan ke Sirnaraga, maka saya memilih mencari Jalan
Sadewa atau Baladewa demi bertemu Jalan Pajajaran.
Di kawasan Pandu dan sekitarnya yang rumah-rumahnya berarsitektur
kolonial, saya sempat menikmati suasana teduh adem karena pohon-pohon
peneduhnya tinggi-besar, khas kawasan jadul. Tapi namanya Bandung, gak pernah
ajaa ada kawasan yang terbebas dari sampah.
Di salah satu ruas jalanan yang lengang, saya sempat membelanjai
seorang tukang sayur sepuh, tapi bersemangat. Saya membeli tahu dan cabe
kembung dari beliau. Tentengan pun semakin beraaat!
| Home sweet home: lengang, benar-benar mewaahhh!! |
Saya tahu, Jalan Baladewa itu ramai, banyak kaki lima, agak kumuh
karena di satu sisinya berdiri rumah-rumah yang mungkin sebenarnya liar karena
tak lebih 10 meter dari sempadan Sungai Citepus. Karena itu saya memilih
melalui Jalan Sadewa.
Dari ujung dalam Jalan Sadewa, saya akhirnya melihat jalan yang ramai. Saya sambut Jalan Pajajaran dengan lega, dimana tiga trayek
angkot yang mendekati posisi rumahku lewat di sana.
Semoga, meskipun tidak jadi ziarah ke makam ortu, doaku untuk mereka
tetap sampai: agar kuburnya diterangkan dan dilapangkan, serta dijauhkan dari
api neraka. Aamiin! Lantas saya pun
berkhayal, ibu, bapak, dan kakak keduaku yang dimakamkan berdekatan, sedang
ngobrol seru di sana.
Meskipun dengan "dada berat", tapi hari itu cukup menyenangkan.
Terlebih, kawasan rumahku juga sedang lengang. Sekolah Dasar yang dekat dengan
rumahku, biang ramai sehari-hari, sedang libur akhir tahun. Benar-benar
kemewahan.**
No comments:
Post a Comment