Monday, July 7, 2014

Unfriend! Unfollow! Block! Atau... Nikmati Saja



Ulasan Maraton Hiruk-Pikuk Pilpres 2014 Via Facebook-ku (Bagian I)


Salah satu "meme" yang beredar di fb di awal2 masa kampanye
Masa kampanye Pilpres RI 2014, usai 5 Juli lalu. Saat tulisan ini diposting, pemerintah sedang memberlakukan masa tenang jelang hari pencoblosan pada 9 Juli. Tenang? Meskipun beberapa friendlist saya di Facebook sudah “menurunan” atribut kampanye dari penampakan akun-akunnya (taat sekali ya mereka, wkwk…), namun tampaknya provokasi (atau apapun namanya) dari kedua kubu sama sekali tidak berakhir. Lucunya, saya termasuk yang terprovokasi: karena menurut saya ada isu yang harus saya “delivery-kan. Kalau itu bisa memengaruhi orang lain, saya akan sangat bersyukur :D

Saya memiliki dua akun media sosial (medsos): Facebook dan Twitter. Namun saya memperlakukan keduanya berbeda. Ini lebih karena saya terlanjur lebih nyemplung di Facebook (fesbuk) dan menggalang banyak teman. Sedangkan di Twitter (yang akunnya saya buat dengan motif penasaran saja) saya sengaja membatasi koneksi pertemanan.

Saya pikir apa bedanya dengan fesbuk kalau di twitter saya terkoneksi dengan teman yang itu-itu juga  (meskipun lama-lama saya bisa mulai merasakan perbedaan karakter kedua medsos tersebut--mengenai ini, perlu dibuat tulisan khusus tampaknya).

Maka, di Twitter, saya lebih suka hanya mem-follow  akun situs-situs media massa serta akun figur-figur publik—yang ajaibnya hampir semua figur publik yang saya follow memilih capres yang sama, kecuali Fadli Zon :D

Karakteristik Fesbuker di Akunku Terkait Pilpres
Dalam Pilpres 2014 ini, peran medsos memang sangat senter, berbeda dengan Pilpres 2009 di mana kepemilikan akun medsos belum semassal sekarang. Tanpa dikomando, netizen di medsos mendadak menjadi juru kampanye sukarela. Sebenarnya ini bukan soal sukarela atau tidak, melainkan karena sebagian netizen, termasuk saya, beranggapan bahwa ada sosok baik yang perlu dan penting untuk didorong jika negeri ini tak ingin terpuruk kembali ke  baying-bayang masa lalu yang kelam.

Saya sendiri mulai sering apdet status terkait pilpres (atau terkait kedua capres) sejak pertengahan Mei 2014. Berhubung saya bukan pendukung capres no.2, saya ingat status pertama saya terkait capres adalah ihwal melenggangnya Titiek Suharto ke Senayan, dihubungkan dengan pencapresan sang (mantan) suami: “naga-naganya bakal rujuk, secara sang capres butuh firs lady”. Salah seorang kawan saya lalu berkomentar kocak: CLBK!!!

Memasuki masa kampanye, newsfeed memanas dong. Bahkan mengamati seliweran apdet status di newsfeed, secara mengejutkan banyak akun yang semula sepi, pasif, tidur, mulai “hidup”, terpancing isu pilpres, guatel pengen nyetatus karena terprovokasi akun lain yang melempar isu negatif bahkan fitnah bin blek kempen terhadap capres jagoannya.

Akun Militan

Meski begitu, tak sedikit juga yang menanggapi hiruk-pikuk isu pilpres di newsfeed dengan sinis; merasa terganggu. Padahal sih, apa sulitnya men-skip isu-isu yang tidak kita sukai, seperti halnya saya bisa melewatkan status-status tentang Piala Dunia @Brasil. Meskipun memang perlu diakui, perang status dengan saling menjelekkan dan me-link-an berita fitnah, juga bikin saya geleng-geleng kepala.

Sudah di luar nalar bagaimana seorang pendukung capres seolah tanpa pikir panjang lagi melempar status ke panggung newsfeed tentang sesuatu yang dibaca judulnya saja semua orang bisa langsung ngeh: ini fitnah! Atau apakah sebagai pendukung Jokowi saya menjadi tidak obyektif juga dalam menilai? Rasanya sih saya cukup sehat, hehehe…

Ketika teman-teman sehaluan pada curhat di “inbox” mengenai akun-akun macam ini, yang melempar isu-isu fitnah bermuatan SARA (suku, agama, ras, antar-golongan), mereka mengaku sudah meng-unfollow bahkan sampai memblok sejumlah akun penebar kebencian terkait SARA.

Namun gerakan saya sungguh berbeda dengan teman-teman dekat saya ini; “hasrat masokis!” seru seorang teman, dan saya menyetujui :D Yakni, alih-alih meng-unfollow/memblok, saya justru lebih suka mengamati aktivitas harian akun-akun militan ini.

Apdet-apdet status yang dilakukan akun-akun militan ini bagi saya malah menjadi semacam “studi” tentang psikis manusia yang menjadi irasional tak peduli latar belakang pendidikannya, terkait dukung-mendukung capres. Mereka bahkan lulusan-lulusan perguruan tinggi ternama di Bandung. Benar-benar menarik!

Kepada teman yang memblok sejumlah akun, saya mengatakan: “Bukannya justru menarik melihat bagaimana reaksi akun-akun militan ini kalau capres jagoannya nanti keok?” (mengaca pada diri sendiri bagaimana kalau capres jagoan saya yang keok, pait pait paiiiit… heuheuuuw!).

Akan tetapi, banyak pula fesbuker yang sama sekali tak terpengaruh: anteng dan setia meng-apdet-status tentang hal di luar isu pilpres (kok bisa ya, hihi!). Sementara sebagian lainnya yang pendiam, memosisikan diri sebagai sekadar “liker”. Bagi saya, liker masih jauh lebih bagus ketimbang mereka yang apatis. Saya jadi ingat kutipan milik Dante Alighieri yang saya dapat dari novel “Inferno” yang kebetulan masih sedang sedang saya baca. Kata Dante:

“Neraka terdalam, disediakan bagi mereka yang tetap netral,  di tengah krisis moral”

Ramadan “Sedikit” Meredam
Datangnya Bulan Suci Ramadan, cukup mengurangi intensitas apdet status tentang pilpres. Seorang teman bahkan secara khusus mengapdet statusnya untuk “izin” tak aktif fesbukan memasuki bulan puasa ini. Memang sih, ada kesan hina dina jika di bulan suci masih juga sibuk menulis status provokatif apalagi yang isinya fitnah. Namun beberapa akun, hanya mengubah pola provokasinya “lebih halus” dari semula tak malu-malu menjadi penyampai isu-isu fitnah, lengkap dengan link abal-abalnya, entah disadarinya atau tidak.

Lebih dari itu, tak bisa dimungkiri, perbedaan capres dukungan telah mengharu-biru hubungan pertemanan bahkan saudara, wheew!!! Intensitas un-friend-meng-unfriend, blok-memblok, kelihatannya meningkat di Juni 2014 ini. Kepada salah seorang teman dekat, yang syukurlah memiliki pilihan sama, saya sampai harus mengatakan bahwa entah bagaimana hubungan kami jika kami berbeda pilihan; tak terbayangkan.

Namun begitu, tak semua pertemanan menjadi puanas karena perbedaan haluan ini. Bagi saya, ini tergantung bagaimana masing-masing menyikapinya. Saya sendiri tetap lebih suka serius tapi santai. Dan pada sebagian teman, kemistri ini berjalan. Dia ejek capres saya, saya ejek balik, dia menebar akun fitnah, saya counter dengan link fakta, tapi toh kami tetap bisa berhahahehe dan berwkwkwkwk… Yeah, kita memang tak bisa berharap semua teman akan bersikap sesuai dengan apa yang kita harapkan. Salam Dua Jari!

No comments: