Ulasan Maraton Hiruk-Pikuk
Pilpres 2014 Via Facebook-ku (Bagian II)
Ternyata tak mudah menulis maraton terkait Pilpres 2014, meskipun bahan begitu melimpah. Mungkin karena terlalu melimpah pula makanya sulit menjadi fokus. Rencananya sebelum 9 Juli sudah posting tulisan lagi, tapi ternyata lewat. Ya sudah, sebelum 22 Juli deh (hari pengumuman resmi KPU), eeh…. lewat juga. Akhirnya baru kembali melanjutkan maraton nulis Pilpres setelah KPU resmi menyatakan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2014-2019. Kegemparan yang diciptakan kubu Prahara beberapa jam sebelum pengumuman oleh KPU, kian mendorong untuk meneruskan maraton nulis ini.
Inilah hiruk-pikuk yang terlihat di newsfeed facebook (fesbuk) saya,
jelang hari pencoblosan 9 Juli 2014. Jujur, saya “terhibur” mengamati interaksi
para netizen di sana. Saya bisa cekakakan, kadang disertai rasa miris, jika melihat
postingan berbagai komik “meme”. Di saat bersamaan, jantung rasanya “pedih
jendral” jika ada yang melempar isu
fitnah atau bersumpah serapah; bagai kebon binatang jebol.
Tempo melansir, fitnah alias blek kempen terhadap Jokowi dan kubunya
mencapai 90-an persen. Artinya, Jokowi digempur kabar-kabar yang sama sekali
baru, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sementara itu Prabowo
dan kubunya mendapatkan jumlah hampir sama, namun untuk serbuan kampanye negatif.
Kampanye negatif adalah sesuatu yang bersumber dari latar belakang atau
sejarah buruk/negatif para capres. Untuk kasus Prabowo, kampanye negatif
misalnya bersumber dari isu penculikan aktivis, atau sosoknya yang dekat dengan
Orde Baru/Suharto/Cendana. Sementara kampanye negatif kepada Jokowi yang paling
sering didengungkan adalah ihwal kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta yang belum genap lima tahun.
Ajaibnya, fitnah terhadap kubu Jokowi seperti diterima begitu saja seolah-olah
suatu kewajaran. Mungkin terkesan tidak obyektif jika yang mengatakannya adalah
pendukung Jokowi seperti saya, namun rasanya saya cukup sehat untuk menyatakan
itu.
Padahal dengan mengamati sekilas saja (misalnya fitnah yang dikemas
sebagai komik meme), fitnah yang bertebaran itu kerap telanjang sekali mengaku
sebagai fitnah. Manusia yang berpikir, setidaknya akan cek dan ricek jika
melihat postingan yang terlalu keji—too
bad to be true. Faktanya, histeria keberpihakan telah membuat mereka
ramai-ramai men-share, me-like, dan
berkomen dukungan pada postingan-postingan lek kempen tersebut.
Ada “kepentingan” apa di dalam dukung mendukung capres ini sehingga
motivasi menjatuhkan lawan lebih maju ketimbang akal sehat, tak peduli latar
belakang agama, pun pendidikan sang pendukung. Yang cerdas dan yang tidak
hampir tak terlihat bedanya. Mungkin akan lebih tepat jika disebutkan bahwa
mereka yang “to take it for granted” kabar-kabar 100% fitnah itu bukannya
bodoh, melainkan otak kirinya lebih dominan (hehe).
Fitnes Center, alias Pusat-pusat
Penebar Fitnah, hehe…
Sekadar mengamati dari seliweran postingan-postingan di newsfeed
fesbuk, aliran blek kempen teridentifikasi datang dari sejumlah situs yang
antara lain membawa-bawa nama agama (#tepokjidat): VOA-Islam, PKSPiyungan,
Asatunews, dan Suaranews. Situs lainnya meskipun tidak seintens VOA-Islam
menebar fitnah antara lain adalah situs bernama Dakwatuna (yang mengherankan,
situs Ammarah, eh Arrahmah, sepanjang masa kampanye kemarin belum sekalipun terpantau
sekadar numpang lewat pun di newsfeed saya).
Selain itu, ada juga akun-akun pribadi yang aktif menebar status dan
postingan yang seringkali menebar kebencian SARA-is, sebut saja: Jonru. Jonru bahkan
sempat “ngetop” gara-gara menyebut-nyebut (kembali) bahwa Quraish Shihab, seorang
intelektual muslim dan pernah menjadi menteri agama di era Gus Dur, adalah penganut
syiah (memang ada apa dengan syiah? Untuk hal ini sepertinya harus ada tulisan tersendiri,
atau silakan browsing saja).
Last but (not) least adalah
akun Twitter @Triomacan2000back. Akun dengan pengelola yang diduga masih yang
itu-itu juga ini sebenarnya pernah tersuspen, tapi selepas 9 Juli entah
bagaimana akun ini bak bangkit dari kubur, meskipun dengan akun baru, namun
isinya sama liarnya. Bagai membawa pesan baru dari nerakaaah!! :D (ini belum
termasuk beredarnya media off air
seperti tabloid “Obor Rakyat”).
Khusus kasus di newsfeed saya (mungkin juga terjadi di newsfeed orang
lain), modus teman fesbuk pendukung Prahara dalam menyebarkan
postingan-postingan fitnah/blek kempen ini adalah dengan pura-pura bego
(mungkin sebenarnya dia sadar itu fitnah). Seorang pendukung no.1 yang militan
di fesbuk saya misalnya menulis begini: “Bener
gak sih informasi ini? Kalau bener, hiiiiy sereeeem,” tulis dia, sok lugu, seraya
men-share link yang menyebut bahwa
Jokowi PKI. Komen-komen yang mem-bully sudah tak dia pedulikan.
Ihwal blek kempen ini bahkan membuat tokoh Muslim lainnya yang saya menaruh
respek padanya, Buya Syafii Maarif, merasa ngeri! Dia pulang ke kampungnya di
Sumatera Barat, dan mendapati warga di sana tidak memilih Jokowi dengan alasan
Jokowi cina, kafir, tidak solat, dan sejenisnya.
"Luar biasa ngeri di sana. Beredar isu Jokowi kafir," kata
Buya seperti dilansir Tempo (http://www.tempo.co/read/news/2014/07/03/078589971/Buya-Syafii-Ngeri-Lihat-Kampanye-Hitam-ke-Jokowi).
Menurut mantan pengurus pusat Muhammadiyah ini, warga pun menerima begitu saja
informasi fitnah tersebut.
Udah Fitnah, Gak Akurat Lagi
(LOL)
Dan entah tujuannya memang untuk memengaruhi masyarakat lugu semacam
di Sumbar tersebut, atau memang ceroboh sehingga menghasilkan informasi fitnah
yang tidak akurat, yang malah menjadi bahan tertawaan dan pem-bully-an? Dari
berbagai informasi yang berusaha memfitnah capres lawan atau justru ingin
menaikkan pamor capresnya sendiri, informasi begitu mudah dikorek kekonyolannya.
Satu informasi fitnah teranyar saya baca di Kompasiana, yakni tentang
adanya rekening-rekening Jokowi di sejumlah bank di luar negeri, salah satunya
di HSBC. Hanya saja dalam dokumen yang dijadikan (seolah-olah) bukti tersebut,
dokumen penting dari bank yang bersangkutan menuliskan nama bank-nya sendiri
dengan tak akurat: “Shangai”. Ayy ayyy… kalo ngetik di notebook aja segitu
ribetnya untuk akurat, kenapa gak pilih nama bank yang gampang-gampang aja
ateeeuuuh kayak Bank Miun!!! :D
Ketidakakuratan ini juga mengingatkan kita pada hasil quick count (QC) abal-abal mereka yang
menghasilkan persentase yang tidak pas. Ah plisss dueeeh, bukankah QC itu
sesuatu yang akademis dan ilmiah. Lalu, cek-lah situs penyelenggara QC
abal-abal tersebut, antara lain PUSKAPTIS. Di situs Puskaptis tersebut, quick count ditulis “quick qount”.
Ada lagi. Beberapa hari usai 9 Juli, PKS—partai yang ngaku-ngaku
berideologi Islam yang paling getol dukung Prahara (yang anehnya nyaris seperti
menghalalkan segala cara), mengeluarkan data yang seolah-olah merupakan real
count surat suara.
Sayangnya, mereka tampaknya menganggap remeh memori para netizen. Ketahuanlah
akhirnya bahwa data real count-nya
PKS ini rupanya pernah dimuat pada 5 Juli sebagai data prediksi perolehan suara
kubu Prahara.***
No comments:
Post a Comment