Wednesday, July 23, 2014

PKS-Piyungan hingga Triomacan2000: Gak Ada Kalian Gak Ramee....


Ulasan Maraton Hiruk-Pikuk Pilpres 2014 Via Facebook-ku (Bagian II)

Ternyata tak mudah menulis maraton terkait Pilpres 2014, meskipun bahan begitu melimpah. Mungkin karena terlalu melimpah pula makanya sulit menjadi fokus. Rencananya sebelum 9 Juli sudah posting tulisan lagi, tapi ternyata lewat. Ya sudah, sebelum 22 Juli deh (hari pengumuman resmi KPU), eeh…. lewat juga. Akhirnya baru kembali melanjutkan maraton nulis Pilpres setelah KPU resmi menyatakan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2014-2019. Kegemparan yang diciptakan kubu Prahara beberapa jam sebelum pengumuman oleh KPU, kian mendorong untuk meneruskan maraton nulis ini.


Inilah hiruk-pikuk yang terlihat di newsfeed facebook (fesbuk) saya, jelang hari pencoblosan 9 Juli 2014. Jujur, saya “terhibur” mengamati interaksi para netizen di sana. Saya bisa cekakakan, kadang disertai rasa miris, jika melihat postingan berbagai komik “meme”. Di saat bersamaan, jantung rasanya “pedih jendral”  jika ada yang melempar isu fitnah atau bersumpah serapah; bagai kebon binatang jebol.


Tempo melansir, fitnah alias blek kempen terhadap Jokowi dan kubunya mencapai 90-an persen. Artinya, Jokowi digempur kabar-kabar yang sama sekali baru, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sementara itu Prabowo dan kubunya mendapatkan jumlah hampir sama, namun untuk serbuan kampanye negatif.

Kampanye negatif adalah sesuatu yang bersumber dari latar belakang atau sejarah buruk/negatif para capres. Untuk kasus Prabowo, kampanye negatif misalnya bersumber dari isu penculikan aktivis, atau sosoknya yang dekat dengan Orde Baru/Suharto/Cendana. Sementara kampanye negatif kepada Jokowi yang paling sering didengungkan adalah ihwal kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta yang belum genap lima tahun.

Ajaibnya, fitnah terhadap kubu Jokowi seperti diterima begitu saja seolah-olah suatu kewajaran. Mungkin terkesan tidak obyektif jika yang mengatakannya adalah pendukung Jokowi seperti saya, namun rasanya saya cukup sehat untuk menyatakan itu.

Padahal dengan mengamati sekilas saja (misalnya fitnah yang dikemas sebagai komik meme), fitnah yang bertebaran itu kerap telanjang sekali mengaku sebagai fitnah. Manusia yang berpikir, setidaknya akan cek dan ricek jika melihat postingan yang terlalu keji—too bad to be true. Faktanya, histeria keberpihakan telah membuat mereka ramai-ramai men-share, me-like, dan berkomen dukungan pada postingan-postingan lek kempen tersebut.

Ada “kepentingan” apa di dalam dukung mendukung capres ini sehingga motivasi menjatuhkan lawan lebih maju ketimbang akal sehat, tak peduli latar belakang agama, pun pendidikan sang pendukung. Yang cerdas dan yang tidak hampir tak terlihat bedanya. Mungkin akan lebih tepat jika disebutkan bahwa mereka yang “to take it for granted” kabar-kabar 100% fitnah itu bukannya bodoh, melainkan otak kirinya lebih dominan (hehe).

Fitnes Center, alias Pusat-pusat Penebar Fitnah, hehe…
Sekadar mengamati dari seliweran postingan-postingan di newsfeed fesbuk, aliran blek kempen teridentifikasi datang dari sejumlah situs yang antara lain membawa-bawa nama agama (#tepokjidat): VOA-Islam, PKSPiyungan, Asatunews, dan Suaranews. Situs lainnya meskipun tidak seintens VOA-Islam menebar fitnah antara lain adalah situs bernama Dakwatuna (yang mengherankan, situs Ammarah, eh Arrahmah, sepanjang masa kampanye kemarin belum sekalipun terpantau sekadar numpang lewat pun di newsfeed saya).

Selain itu, ada juga akun-akun pribadi yang aktif menebar status dan postingan yang seringkali menebar kebencian SARA-is, sebut saja: Jonru. Jonru bahkan sempat “ngetop” gara-gara menyebut-nyebut (kembali) bahwa Quraish Shihab, seorang intelektual muslim dan pernah menjadi menteri agama di era Gus Dur, adalah penganut syiah (memang ada apa dengan syiah? Untuk hal ini sepertinya harus ada tulisan tersendiri, atau silakan browsing saja).

Last but (not) least adalah akun Twitter @Triomacan2000back. Akun dengan pengelola yang diduga masih yang itu-itu juga ini sebenarnya pernah tersuspen, tapi selepas 9 Juli entah bagaimana akun ini bak bangkit dari kubur, meskipun dengan akun baru, namun isinya sama liarnya. Bagai membawa pesan baru dari nerakaaah!! :D (ini belum termasuk beredarnya media off air seperti tabloid “Obor Rakyat”).

Khusus kasus di newsfeed saya (mungkin juga terjadi di newsfeed orang lain), modus teman fesbuk pendukung Prahara dalam menyebarkan postingan-postingan fitnah/blek kempen ini adalah dengan pura-pura bego (mungkin sebenarnya dia sadar itu fitnah). Seorang pendukung no.1 yang militan di fesbuk saya misalnya menulis begini: “Bener gak sih informasi ini? Kalau bener, hiiiiy sereeeem,” tulis dia, sok lugu, seraya men-share link yang menyebut bahwa Jokowi PKI. Komen-komen yang mem-bully sudah tak dia pedulikan.

Ihwal blek kempen ini bahkan membuat tokoh Muslim lainnya yang saya menaruh respek padanya, Buya Syafii Maarif, merasa ngeri! Dia pulang ke kampungnya di Sumatera Barat, dan mendapati warga di sana tidak memilih Jokowi dengan alasan Jokowi cina, kafir, tidak solat, dan sejenisnya.

"Luar biasa ngeri di sana. Beredar isu Jokowi kafir," kata Buya seperti dilansir Tempo (http://www.tempo.co/read/news/2014/07/03/078589971/Buya-Syafii-Ngeri-Lihat-Kampanye-Hitam-ke-Jokowi). Menurut mantan pengurus pusat Muhammadiyah ini, warga pun menerima begitu saja informasi fitnah tersebut.

Udah Fitnah, Gak Akurat Lagi (LOL)
Dan entah tujuannya memang untuk memengaruhi masyarakat lugu semacam di Sumbar tersebut, atau memang ceroboh sehingga menghasilkan informasi fitnah yang tidak akurat, yang malah menjadi bahan tertawaan dan pem-bully-an? Dari berbagai informasi yang berusaha memfitnah capres lawan atau justru ingin menaikkan pamor capresnya sendiri, informasi begitu mudah dikorek kekonyolannya.

Satu informasi fitnah teranyar saya baca di Kompasiana, yakni tentang adanya rekening-rekening Jokowi di sejumlah bank di luar negeri, salah satunya di HSBC. Hanya saja dalam dokumen yang dijadikan (seolah-olah) bukti tersebut, dokumen penting dari bank yang bersangkutan menuliskan nama bank-nya sendiri dengan tak akurat: “Shangai”. Ayy ayyy… kalo ngetik di notebook aja segitu ribetnya untuk akurat, kenapa gak pilih nama bank yang gampang-gampang aja ateeeuuuh kayak Bank Miun!!! :D

Ketidakakuratan ini juga mengingatkan kita pada hasil quick count (QC) abal-abal mereka yang menghasilkan persentase yang tidak pas. Ah plisss dueeeh, bukankah QC itu sesuatu yang akademis dan ilmiah. Lalu, cek-lah situs penyelenggara QC abal-abal tersebut, antara lain PUSKAPTIS. Di situs Puskaptis tersebut, quick count ditulis “quick qount”.

Ada lagi. Beberapa hari usai 9 Juli, PKS—partai yang ngaku-ngaku berideologi Islam yang paling getol dukung Prahara (yang anehnya nyaris seperti menghalalkan segala cara), mengeluarkan data yang seolah-olah merupakan real count surat suara.

Sayangnya, mereka tampaknya menganggap remeh memori para netizen. Ketahuanlah akhirnya bahwa data real count-nya PKS ini rupanya pernah dimuat pada 5 Juli sebagai data prediksi perolehan suara kubu Prahara.***


No comments: