(tulisan ini menyelang tulisan marathon mengenai
pilpres)
Ini dua hari menjelang Idul Fitri 1435 Hijriyah. Ritual puasa Ramadan 2014 terasa
sama saja, namun sekaligus sangat berbeda buat saya. Bagai melompat ke suatu
fase baru kehidupan, yang seharusnya (sih) membuat saya merestrukturisasi kehidupan
saya secara menyeluruh. Hidup tak pernah sama lagi!
| Akhirnya, menjadi "penghuni terakhir" di rumah ini |
Ibu saya, akhirnya mencapai masa akhir kehidupannya pada 29 Desember
2013. Hal yang saya sadar betul pasti terjadi, cepat atau lambat, tapi selalu
aneh untuk membayangkannya bakal terjadi (semoga beliau dan bapak saya,
dilapangkan dan diterangi alam kuburnya serta dimaafkan dosa-dosanya, aamiin :’ ).
Dan karenanya, saya menjadi orang yang selalu meninggalkan masa lalu
dengan penuh penyesalan.
Hingga usianya mencapai 74, saya selalu berpikir (meski tanpa logika apa pun) bahwa
usia ibu saya masih akan panjang. Masih akan banyak Idul-Idul Fitri di depan
bersama beliau. Makanya, saya hanya akan berpikir bahwa masih akan banyak waktu untuk “meminta maaf" sebelum beliau dipanggil Allah Swt. Kenapa minta maaf saja harus nunggu Lebaran? Beginilah keluarga saya--bukan keluarga yang terbiasa setiap saat berucap "maaf!".
Tapi, hari itupun datang. Tidak mengira beliau akan dipanggil dengan
cara yang cepat; gak pake menyusahkan, baik untuk ibu saya sendiri maupun
anak-anaknya yang ditinggalkan. Alhamdulillah, ibu saya tidak mengalami
kesakitan berkepanjangan kecuali sakit di dada yang tak juga hilang hingga
nyawa tercabut sekitar 13 jam kemudian sejak keluhan sakit terasa.
Tak disangka, hanya empat bulan berselang, kakak saya yang kedua menyusul
almarhumah. Kakak saya memang sudah hampir 7 tahun menderita sirosis. Tapi ada
yang sedikit mengganggu dari cara kakak saya meninggal. Bukan akibat sirosisnya, melainkan karena gegar otak setelah kepalanya membentur lantai ketika beliau kehilangan kesadarannya. Tuhan memang selalu memiliki
caranya sendiri, sehebat apapun upaya yang sudah dilakukan manusia untuk bertahan hidup.
Dua hari menjelang Lebaran ini, tentu saja banyak yang berubah.
Membandingkan dengan Lebaran 2013, dua hari menjelang lebaran, rak-rak
biasanya sudah dipenuhi kue kering: hampir semua berstatus pemberian (heuheu),
terutama dari para menantu ibuku. Sekarang, kebetulan baru ada dua toples
pemberian seorang sohibku zaman masih kuliah; ini pun mulai terpereteli; LOL.
Perubahan lainnya, tentu saja secara kejiwaan: spirit Idul Fitri di
masa masih menjadi anak (apalagi saat masih anak-anak), semakin hilang, tak teraba (sepertinya semua orang
juga akan merasakan hal yang sama meskipun dengan kualitas berbeda). Tapi
mungkin ini juga bukan sesuatu yang penting untuk dirasa-rasakan ketimbang kualitas menjalani ibadah
puasanya itu sendiri.
Sekarang, yang tersisa hanya sekadar mengikuti arus: menjadi “penghuni
terakhir” di rumah dinas peninggalan bapak yang penuh kenangan ini. Bagaimana tidak,
hampir seumur hidup saya tinggal di rumah tua ini, bahkan ketika sang janda
akhirnya pergi meninggalkan saya sendirian di rumah ini, dan mewariskan potensi sengketanya.
Ya, setiap saat bisa saja saya terusir dari "rumah dinas" bapak saya ini. Meskipun bisa jadi pula dapat meng-hakmiliki-nya sesuai dengan undang-undang yang ada, aamiin. Dan saya pun tak berani membayangkan bakal seperti apa saya di masa tua nanti. Apakah masih akan berada di rumah ini? Ah... jalani saja. Ada Allah. InsyaAllah.**
Ya, setiap saat bisa saja saya terusir dari "rumah dinas" bapak saya ini. Meskipun bisa jadi pula dapat meng-hakmiliki-nya sesuai dengan undang-undang yang ada, aamiin. Dan saya pun tak berani membayangkan bakal seperti apa saya di masa tua nanti. Apakah masih akan berada di rumah ini? Ah... jalani saja. Ada Allah. InsyaAllah.**
No comments:
Post a Comment