Friday, July 25, 2014

“Penghuni Terakhir”

(tulisan ini menyelang tulisan marathon mengenai pilpres)

Ini dua hari menjelang Idul Fitri 1435 Hijriyah. Ritual puasa Ramadan 2014 terasa sama saja, namun sekaligus sangat berbeda buat saya. Bagai melompat ke suatu fase baru kehidupan, yang seharusnya (sih) membuat saya merestrukturisasi kehidupan saya secara menyeluruh. Hidup tak pernah sama lagi!


Akhirnya, menjadi "penghuni terakhir" di rumah ini
Ibu saya, akhirnya mencapai masa akhir kehidupannya pada 29 Desember 2013. Hal yang saya sadar betul pasti terjadi, cepat atau lambat, tapi selalu aneh untuk membayangkannya bakal terjadi (semoga beliau dan bapak saya, dilapangkan dan diterangi alam kuburnya serta dimaafkan dosa-dosanya, aamiin :’ ). Dan karenanya, saya menjadi orang yang selalu meninggalkan masa lalu dengan penuh penyesalan.
Hingga usianya mencapai 74, saya selalu berpikir (meski tanpa logika apa pun) bahwa usia ibu saya masih akan panjang. Masih akan banyak Idul-Idul Fitri di depan bersama beliau. Makanya, saya hanya akan berpikir bahwa masih akan banyak waktu untuk “meminta maaf" sebelum beliau dipanggil Allah Swt. Kenapa minta maaf saja harus nunggu Lebaran? Beginilah keluarga saya--bukan keluarga yang terbiasa setiap saat berucap "maaf!".

Tapi, hari itupun datang. Tidak mengira beliau akan dipanggil dengan cara yang cepat; gak pake menyusahkan, baik untuk ibu saya sendiri maupun anak-anaknya yang ditinggalkan. Alhamdulillah, ibu saya tidak mengalami kesakitan berkepanjangan kecuali sakit di dada yang tak juga hilang hingga nyawa tercabut sekitar 13 jam kemudian sejak keluhan sakit terasa.

Tak disangka, hanya empat bulan berselang, kakak saya yang kedua menyusul almarhumah. Kakak saya memang sudah hampir 7 tahun menderita sirosis. Tapi ada yang sedikit mengganggu dari cara kakak saya meninggal. Bukan akibat sirosisnya, melainkan karena gegar otak setelah kepalanya membentur lantai ketika beliau kehilangan kesadarannya. Tuhan memang selalu memiliki caranya sendiri, sehebat apapun upaya yang sudah dilakukan manusia untuk bertahan hidup.

Dua hari menjelang Lebaran ini, tentu saja banyak yang berubah. Membandingkan dengan Lebaran 2013, dua hari menjelang lebaran, rak-rak biasanya sudah dipenuhi kue kering: hampir semua berstatus pemberian (heuheu), terutama dari para menantu ibuku. Sekarang, kebetulan baru ada dua toples pemberian seorang sohibku zaman masih kuliah; ini pun mulai terpereteli; LOL.

Perubahan lainnya, tentu saja secara kejiwaan: spirit Idul Fitri di masa masih menjadi anak (apalagi saat masih anak-anak), semakin hilang, tak teraba (sepertinya semua orang juga akan merasakan hal yang sama meskipun dengan kualitas berbeda). Tapi mungkin ini juga bukan sesuatu yang penting untuk dirasa-rasakan ketimbang kualitas menjalani ibadah puasanya itu sendiri.

Sekarang, yang tersisa hanya sekadar mengikuti arus: menjadi “penghuni terakhir” di rumah dinas peninggalan bapak yang penuh kenangan ini. Bagaimana tidak, hampir seumur hidup saya tinggal di rumah tua ini, bahkan ketika sang janda akhirnya pergi meninggalkan saya sendirian di rumah ini, dan mewariskan potensi sengketanya.

Ya, setiap saat bisa saja saya terusir dari "rumah dinas" bapak saya ini. Meskipun bisa jadi pula dapat meng-hakmiliki-nya sesuai dengan undang-undang yang ada, aamiin. Dan saya pun tak berani membayangkan bakal seperti apa saya di masa tua nanti. Apakah masih akan berada di rumah ini? Ah... jalani saja. Ada Allah. InsyaAllah.**

No comments: