Friday, August 8, 2014

Mencari Kelebihan Prabowo, yang Ada Malah Aroma Menyengat Orba (2)



Ulasan Maraton Hiruk-Pikuk Pilpres Indonesia 2014 di Akun Facebook-ku (Bagian IV)

Saat tulisan ini ditulis, Prabowo dan kroninya sedang dalam proses mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam sidang lanjutan setelah para Hakim MK mempreteli berkas gugatannya dua hari sebelumnya, gedung MK dikepung massa Prabower.

Meme dpt dr newsfeed: kasihan Owo (hihi)
Dari berita-berita yang terpantau melalui newsfeed facebook, muncullah antara lain berita mengenai massa pengepung yang membawa spanduk bertuliskan: TangkapKomisioner KPU. Bahkan di media lain, terucap kata "culik komisioner KPU). Mereka juga mengancam akan membakar istana negara.

Lalu, AM Ngabalin ingin mendesak Allah agar memenangkan Prabowo. Kubu ini juga minta MK mendiskualifikasi
Jokowi-JK, padahal saksi-saksi yang dihadirkannya pun memancing kesal Hamdan Zoelva, Pimpinan/Hakim MK. Fiuuuh!! Aksi-aksi yang bikin negeri ini dalam 2-3 bulan ini selalu penuh kejutan, dan ini, anehnya, menghibur. Tapi terkait sosok Prabowo, rasanya pola-pola seperti ini tidak asing lagi. Ya nggak? :D

Ini sesudah pengumuman resmi KPU. Saat masih masa kampanye, bagi saya belangnya Prabowo sebagai kroni Soeharto/Cendana, sang penguasa Orde Baru, sudah mulai kelihatan. Aroma Orba demikian menyengat, seperti yang selalu saya khawatirkan sejak Soeharto “mangkat”. Apalagi ketika (mantan) menantunya ini mulai memunculkan diri lagi sekitar 10 tahun silam, dengan menggunakan kendaraan partai politik: Gerindra.

Rakyat Indo Kini Sibuk Menuai Badai
Beberapa yang saya catat sebagai bau Orba yang menyengat tersebut, misalnya ketika Prabowo tanpa takut dikritik dan diprotes keras; atau menimbulkan kecemasan, menyatakan akan menjadikan Soeharto sebagai PahlawanNasional jika dia terpilih sebagai Presiden RI. Pernyataan ini diucapkannya di depan orang-orang yang mengaku dari komunitas “Piye Kabare”. Aha!!!

Buat saya, kalaupun Soeharto memiliki jasa terhadap Indonesia, namun jasanya itu tertimbun oleh dosanya yang menggunung (lihat tulisan di sini: The New Rulers of the World). Menurut saya, budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang begitu mendarah daging pada banyak orang Indonesia ini, adalah warisan 32 tahun Soeharto menabur angin, dan kini negeri ini sibuk menuai badainya.

Kalau saja Soeharto tak silau kekusaan dan menyerahkan tampuknya pada tahun ke-10, saya pikir bangsa ini masih bisa diselamatkan dari praktik KKN yang sistemastik dan merusak seperti sekarang ini (korupsi menjadi terstruktur, bahkan seolah terorganisasi, saling sepakat, tak merasa bersalah, mubah kalau kata Islam ah, yang menolak malah jadi terasing dan dianggap sok alim).

Pada 2004, Forbes pernah melansir laporan Transparency International yang menempatkan Soeharto sebagai salah seorang dari “The World’s All-Time MostCorrupt Leaders”, bersama dengan Ferdinand Marcos dan Mobutu Seseseko.

Saking mendarahdagingnya sehingga praktik KKN di berbagai lini ini seperti bukan dosa lagi. KKN, khususnya korupsi, menjadi tidak ada hubungannya dengan kereligiusan, apalagi sekadar dengan kecerdasan dan kekayaan (status sosial). Bahkan orang yang kekayaannya sudah melimpah pun, masih mungkin terjerat korupsi!! Menaikkan gaji hingga 100% dengan alasan supaya tidak korupsi, gak ngaruuh! Ampuuuun!!

Saya ingat seorang teman Facebook saya yang suaminya orang Denmark, menulis status. Sang suami tulis dia, benar-benar tidak mengerti kenapa satu hal tertentu di Indonesia harus dikorupsi dan dengan cara-cara (taktik/strategi/dsb) yang benar-benar tak dia kenal sepanjang hidupnya. Denmark? Negeri ini memang dikenal juga sebagai negara paling minim praktik korupsi.

Masih mengenai aroma menyengat Orba, sebulanan sebelum masa kampanye, saya pernah menulis status di Facebook; cuma untuk seru-seruan, tapi juga keluar dari hati yang cemaaas. Kira-kira begini (saya lupa tepatnya): Orde Baru tak malu-malu lagi. Titik melenggang ke senayan. Prabowo nyalonin diri jadi capres. Kalau Prabowo terpilih jadi presiden, dia butuh “first lady” dunks. Naga-naganya bakal rujuk.

Selama masa kampanye, berkali-kali saya membaca berita yang berseliweran di newsfeed bahwa Prabowo dan Titik akan rujuk; tinggal tunggu waktu. Anehnya, sampai sekarang belum ada kabar mereka sudah rujuk. Bahkan pihak timsesnya pernah bilang bahwa sebenarnya mereka tidak pernah bercerai. Membusa-busakan ihwal ini, mungkin bagian dari strategi kampanye juga.

Prabowo: Pemilihan Langsung Tak Cocok untuk Indonesia (Damang Om?)
Lalu setelah membaca berita ini: http://nasional.kompas.com/read/2014/06/29/0824212/Prabowo.Sebut.Indonesia.Produk.Barat.yang.Susah.Diperbaiki, saya benar-benar dibuat melongo. Baiklah saya kutipkan kalimat yang bikin muka saya (tambah) o’on ini: “Mantan Danjen Kopassus ini menambahkan, Indonesia telah menerapkan budaya dan politik Barat kepada budaya Indonesia. "Padahal tidak cocok. Tapi sudah telanjur. Seperti pemilihan langsung, ini juga sudah telanjur," imbuh Prabowo”.

Wow, Prabowo tidak setuju pemilihan langsung!! Memang sih, demokrasi Indonesia seperti yang disiratkan Pancasila sebenarnya adalah demokrasi “musyawarah dan mufakat”. Namun asas ini pernah  disalahgunakan dan disistematiskan oleh Soeharto bersama para penjilatnya, untuk terus dan terus mendudukan Soeharto kembali sebagai presiden; hingga tiga periode! (senilai dengan enam kali pemilu). Kondisi ini didukung tiga partai dagelan yang anggotanya menyebar di DPR yang tak kalah dagelannya.

Nah nah, apakah Prabowo sebegitu ge-ernya bahwa dia akan menang, dan bersiap menerapkan kembali cara-cara Orba tersebut? Kita ingat, setiap usai pemilu legislatif  lima tahun sekali, anggota DPR akan  melakukan koor: SETUJUUUUU!!! Mungkin Prabowo, jika menang, akan membutuhkan sosok asal babeh senang (ABS) macam Harmoko, yang akan menyampaikan kepada big boss orba ini bahwa rakyat masih menghendaki Soeharto menjadi presiden.**

No comments: