Ulasan Maraton Hiruk-Pikuk
Pilpres Indonesia 2014 di Akun Facebook-ku (Bagian IV)
Saat tulisan ini ditulis, Prabowo dan kroninya sedang dalam proses
mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam sidang lanjutan setelah
para Hakim MK mempreteli berkas gugatannya dua hari sebelumnya, gedung MK
dikepung massa Prabower.
![]() |
| Meme dpt dr newsfeed: kasihan Owo (hihi) |
Dari berita-berita yang terpantau melalui newsfeed facebook, muncullah
antara lain berita mengenai massa pengepung yang membawa spanduk bertuliskan: TangkapKomisioner KPU. Bahkan di media lain, terucap kata "culik komisioner KPU). Mereka juga mengancam akan membakar istana negara.
Lalu, AM Ngabalin ingin mendesak Allah agar memenangkan Prabowo. Kubu ini
juga minta MK mendiskualifikasi
Jokowi-JK, padahal saksi-saksi yang dihadirkannya pun memancing kesal
Hamdan Zoelva, Pimpinan/Hakim MK. Fiuuuh!! Aksi-aksi yang bikin negeri ini dalam 2-3 bulan ini selalu penuh
kejutan, dan ini, anehnya, menghibur. Tapi terkait sosok Prabowo, rasanya pola-pola
seperti ini tidak asing lagi. Ya nggak? :D
Ini sesudah pengumuman resmi KPU. Saat masih masa kampanye, bagi saya
belangnya Prabowo sebagai kroni Soeharto/Cendana, sang penguasa Orde Baru,
sudah mulai kelihatan. Aroma Orba demikian menyengat, seperti yang selalu saya
khawatirkan sejak Soeharto “mangkat”. Apalagi ketika (mantan) menantunya ini
mulai memunculkan diri lagi sekitar 10 tahun silam, dengan menggunakan
kendaraan partai politik: Gerindra.
Rakyat
Indo Kini Sibuk Menuai Badai
Beberapa yang saya catat sebagai bau Orba yang menyengat tersebut,
misalnya ketika Prabowo tanpa takut dikritik dan diprotes keras; atau
menimbulkan kecemasan, menyatakan akan menjadikan Soeharto sebagai PahlawanNasional jika dia terpilih sebagai Presiden RI.
Pernyataan ini diucapkannya di depan orang-orang yang mengaku dari komunitas
“Piye Kabare”. Aha!!!
Buat saya, kalaupun Soeharto memiliki jasa terhadap Indonesia, namun
jasanya itu tertimbun oleh dosanya yang menggunung (lihat tulisan di sini: The New Rulers of the World).
Menurut saya, budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang begitu mendarah daging
pada banyak orang Indonesia ini, adalah warisan 32 tahun Soeharto menabur angin, dan kini negeri ini sibuk menuai badainya.
Kalau saja Soeharto tak silau kekusaan dan menyerahkan tampuknya pada
tahun ke-10, saya pikir bangsa ini masih bisa diselamatkan dari praktik KKN
yang sistemastik dan merusak seperti sekarang ini (korupsi menjadi terstruktur,
bahkan seolah terorganisasi, saling sepakat, tak merasa bersalah, mubah kalau
kata Islam ah, yang menolak malah jadi terasing dan dianggap sok alim).
Pada 2004, Forbes pernah melansir laporan Transparency International
yang menempatkan Soeharto sebagai salah seorang dari “The World’s All-Time MostCorrupt Leaders”, bersama dengan Ferdinand Marcos dan Mobutu Seseseko.
Saking mendarahdagingnya sehingga praktik KKN di berbagai lini ini seperti
bukan dosa lagi. KKN, khususnya korupsi, menjadi tidak ada hubungannya dengan
kereligiusan, apalagi sekadar dengan kecerdasan dan kekayaan (status sosial).
Bahkan orang yang kekayaannya sudah melimpah pun, masih mungkin terjerat korupsi!!
Menaikkan gaji hingga 100% dengan alasan supaya tidak korupsi, gak ngaruuh! Ampuuuun!!
Saya ingat seorang teman Facebook saya yang suaminya orang Denmark, menulis
status. Sang suami tulis dia, benar-benar tidak mengerti kenapa satu hal
tertentu di Indonesia harus dikorupsi dan dengan cara-cara (taktik/strategi/dsb)
yang benar-benar tak dia kenal sepanjang hidupnya. Denmark? Negeri ini memang
dikenal juga sebagai negara paling minim praktik korupsi.
Masih mengenai aroma menyengat Orba, sebulanan sebelum masa kampanye,
saya pernah menulis status di Facebook; cuma untuk seru-seruan, tapi juga
keluar dari hati yang cemaaas. Kira-kira begini (saya lupa tepatnya): Orde Baru
tak malu-malu lagi. Titik melenggang ke senayan. Prabowo nyalonin diri jadi
capres. Kalau Prabowo terpilih jadi presiden, dia butuh “first lady” dunks.
Naga-naganya bakal rujuk.
Selama masa kampanye, berkali-kali saya membaca berita yang
berseliweran di newsfeed bahwa Prabowo dan Titik akan rujuk; tinggal tunggu
waktu. Anehnya, sampai sekarang belum ada kabar mereka sudah rujuk. Bahkan
pihak timsesnya pernah bilang bahwa sebenarnya mereka tidak pernah bercerai.
Membusa-busakan ihwal ini, mungkin bagian dari strategi kampanye juga.
Prabowo: Pemilihan Langsung Tak
Cocok untuk Indonesia (Damang Om?)
Lalu setelah membaca berita ini: http://nasional.kompas.com/read/2014/06/29/0824212/Prabowo.Sebut.Indonesia.Produk.Barat.yang.Susah.Diperbaiki, saya benar-benar dibuat melongo. Baiklah saya kutipkan kalimat
yang bikin muka saya (tambah) o’on ini: “Mantan Danjen Kopassus ini menambahkan,
Indonesia telah menerapkan budaya dan politik Barat kepada budaya Indonesia.
"Padahal tidak cocok. Tapi sudah telanjur. Seperti pemilihan langsung, ini juga sudah telanjur," imbuh
Prabowo”.
Wow, Prabowo tidak setuju pemilihan
langsung!! Memang sih, demokrasi Indonesia seperti yang disiratkan Pancasila
sebenarnya adalah demokrasi “musyawarah dan mufakat”. Namun asas ini
pernah disalahgunakan dan
disistematiskan oleh Soeharto bersama para penjilatnya, untuk terus dan terus
mendudukan Soeharto kembali sebagai presiden; hingga tiga periode! (senilai
dengan enam kali pemilu). Kondisi ini didukung tiga partai dagelan yang anggotanya
menyebar di DPR yang tak kalah dagelannya.
Nah nah, apakah Prabowo sebegitu ge-ernya
bahwa dia akan menang, dan bersiap menerapkan kembali cara-cara Orba tersebut?
Kita ingat, setiap usai pemilu legislatif lima tahun sekali, anggota DPR akan melakukan koor: SETUJUUUUU!!! Mungkin Prabowo,
jika menang, akan membutuhkan sosok asal babeh senang (ABS) macam Harmoko, yang
akan menyampaikan kepada big boss
orba ini bahwa rakyat masih menghendaki Soeharto menjadi presiden.**

No comments:
Post a Comment