Wednesday, August 6, 2014

Mencari Kelebihan Prabowo, Tak Kunjung Dapat (1)



Ulasan Maraton Hiruk-Pikuk Pilpres Indonesia 2014 di Akun Facebook-ku (Bagian III) 

Mungkin saya harus minta maaf kepada korban penculikan yang yakin Prabowo-lah dalang kasus penculikan 1998. Pasalnya, bukan kasus penculikan aktivis yang terutama  membuat saya tidak mau memilih Prabowo sebagai presiden. Ada hal yang buat saya lebih mendasar dan purba untuk tak memilihnya, yakni menyengatnya aroma Orde Baru, Soeharto, atau Keluarga Cendana, dalam diri Prabowo.
"Meme" yg beredar di facebook Juli 20014, LOL! (apa hub-nya?)
Kasus penculikan tentu menjadi pelengkap buruk sosok yang satu ini. Dan yang juga menjadi penting adalah, tak adanya sosok panutan di gerbong Prabowo. Saya bahkan hampir yakin bahwa gerbong ini tak mungkin dipertukarkan dengan gerbong di balakang Jokowi. Seolah-olah hukum kimia bekerja: yang baik mendukung yang baik... dan sebaliknya.

Munculnya sosok Jokowi sebagai pesaing tunggal Prabowo, makin memudahkan saya untuk tak memilih Prabowo. Bayangkan kalau pesaing Prabowo misalnya Aburizal Bakrie, hampir pasti saya akan golput. Meskipun jujur saja, wacana Jokowi yang “mabal di tengah jalan” dari posisinya sebagai Gubernur Jakarta, agak mengganggu juga; idealnya Jokowi menuntaskan dulu lima tahun tugas Gubernurnya. Belum lagi, kekurangrespekan saya pada PDI-P (sebagai parpol) dan Megawati, mengurangi skor saya terhadap Jokowi.

Akan tetapi, saya juga rasanya tak akan sabar menunggu lima tahun lagi untuk menjajal jenis presiden yang agak berbeda, bahkan berbeda, ketimbang presiden-presiden sebelumnya ini. Saya sudah cukup tua untuk menunggu lima tahun lagi memiliki presiden yang aplikatif seperti Jokowi saat mengurus Jakarta dan Solo, selain juga bersih dari dosa pemerintahan masa lalu. Atas dasar ini juga, saya coba menafikan bayang-bayang Megawati (dan Puan Maharani).

Syukurlah, di belakang Jokowi, berjejer tokoh-tokoh terpercaya yang selama ini saya favoritkan karena integritasnya dan kekritisannya, seperti Buya Syafii Maarif, Quraish Shihab, Todung Mulya Lubis, Faisal Basri, Anis Baswedan, Teten Masduki, Kurtubi. Tokoh agama yang tidak terlalu saya favoriti tapi berpengaruh, Din Syamsudin dan Hasyim Muzadi, juga makin memantapkan saya bahwa tak salah mendukung Jokowi dengan segala kekurangannya. Belum lagi hampir semua selebriti “pinter” juga mendukung Jokowi.

Ada juga yang, meski tidak menyatakan secara langsung mendukung Jokowi (JK), namun kecenderungannya terbaca lewat pernyataan-pernyataannya/tulisan-tulisannya termasuk di media sosial. Setidaknya, meski tidak eksplisit menyatakan mendukung Jokowi, namun jelas tak mendukung Prabowo; mereka misalnya AS Hikam dan Imam Prasodjo.

Keberadaan mereka buat saya menjadi obat kekecewaan saya terhadap kehadiran sosok-sosok lainnya yang saya kurang respek, mungkin karena mereka partisan kutu loncat, seperti Akbar Faisal dan Ferry Mursidan Baldan. Saya memang sulit bersimpati pada Partai Politik atau Politisi DPR/DPRD, meskipun untuk kasus Pilpres kali ini ada sedikit respek untuk partai yang mau berkoalisi dengan Jokowi, karena Jokowi menyatakan tak menjanjikan posisi apapun kepada mereka.

Buat saya, sikap Jokowi yang satu ini benar-benar menjawab kekecewaan saya selama ini juga, yang mana presiden terpilih setelah resmi dinyatakan sebagai presiden, sibuk kasak-kusuk bagi-bagi posisi (dan ini membuat saya enek) sehingga muncullah menteri-menteri yang tak kompeten. Akhirnya, Jokowi mau tak mau menjadi Paket Komplit bagi saya.


Mecari Kelebihan Prabowo Melalui Tokoh Masyarakat: Nihil
Masa tak ada kelebihan sama sekali dalam sosok Prabowo? Jawabannya, menurut saya, nyaris “YA!!!”, pakai huruf besar, pakai tanda kutip, dan pakai tanda seru.

"Dia mengukir prestasi dan berjasa ketika menjadi Danjen Kopassus, loh!" Bagus lah, itu memang sudah tugasnya, seperti juga tugas Jokowi ngurus Jakarta sebagai Gubernur Jakarta. Tapi yang saya persoalkan bukan saja soal prestasi dan jasa sesuai tugasnya, melainkan juga karakter, catatan masa lalunya, dan latar belakang keluarganya.

Masih berbicara tentang para pendukungnya, saya rada heran bahwa Ratna Sarumpaet, kritikus cukup wahid terhadap status quo, ternyata berada di belakang barisan pendukung Prabowo--meskipun tidak ada kekecewaan sama sekali atas keberpihakan dia pada no.1. 

Tapi saya agak sedih dengan dukungan Ridwan Kamil (Emil), Walikota kota saya, terhadap Prabowo. Setahu saya, saat mencalonkan diri sebagai Cawalkot Bandung, Emil independen, hanya saja diusung oleh Gerindra dan PKS (sambil nyimpen kuda troyanya di posisi Wakil Walikota). Lalu saya simpulkan saja bahwa Emil sedang membalas budi (*aiih).

Syukurlah setelah Jokowi dinyatakan presiden terpilih oleh KPU, Emil termasuk yang segera mengeluarkan pernyataan dukungannya seperti ditulisnya juga di akun Facebook “Ridwan kamil untuk Bandung”. Dia tidak ikut galau seperti kade-kader parpol pendukung Prabowo-Hatta lainnya.

Lebih terkesan lagi terhadap Basuki “Ahok” Cahaya Purnama. Meskipun jelas-jelas kader Gerindra, namun dia bahkan tak pernah tampak turut serta dalam acara-acara kampanye Prabowo. Dia bahkan sesuai gayanya yang lugas, ceplas ceplos, seringkali mengeluarkan pernyataan yang bersifat menguntungkan "mantan" boss-nya itu, meskipun dalam pernyataan resminya, dia memilih Prabowo. Ya nggak etis juga lah kalau berada dalam gerbong Gerindra tapi malah menyatakan mendukung Jokowi.

Misalnya pria berdarah Cina yang ketiban tugas menjadi PLT Gubernur Jakarta ini bilang bahwa sebaiknya Jokowi memenangkan Pilpres sekarang (http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/22/ahok-lebih-baik-jokowi-menang-pilpres-sekarang). Atau pernyataannya yang menyebutkan bahwa jika Jokowi jadi presiden, birokrasi pusat dan daerah akan lancar (http://www.suarapembaruan.com/home/ahok-jika-jokowi-presiden-birokrasi-pusat-dan-daerah-lebih-lancar/54785).

Lalu ada Ustad Aa Gym dan Arifin Ilham, atau Rhoma Irama. Bagi saya mereka tak bisa disejajarkan dengan Buya Syafii, Quraish Shihab, atau bahkan Din Syamsudin. Aa Gym, buat saya dia dulu hanya pimpinan santri-santri yang suka menggerebek tempat hiburan malam menjelang Ramadan, dan okelah... dia sempat jadi pengusaha sukses. Terakhir, popularitasnya terjun bebas gara-gara menikah lagi.

Arifin Ilham? Saya bahkan kurang mengenal dia, ketimbang Yusuf Mansur misalnya. Sementara Rhoma Irama, sosoknya entah mengapa sejak zaman sering main film, selalu bikin saya geli, selain saya juga tak suka dangdut. Kepribadiannya belakangan bahkan menjadi bahan olok-olok saja, terlebih dengan reputasinya yang suka menikahi artis-artis gak jelas tapi mulus dan seksi.

Syukurlah, kemistri mereka seolah kompak ke Prabowo; membuat makin tak sulit buat saya untuk semakin tak ada alasan mendukung Prabowo, hehehe. Belum lagi, ketiga orang ini juga kompak dalam hal main “volley” (LOL).

Adanya sosok Marwah Daud dan Dradjad Wibowo di kubu no.1, cukup membuat saya tercenung. Mereka sempat saya anggap sosok-sosok berintegritas. Tapi menjadi tak heran kalau melihat latar belakang mereka ber-parpol-ria. Aaah… tak sulit juga menepis orang-orang yang mencari eksistensi melalui parpol.

Hidayat Nurwahid? Haduuuwh… Ini cukup mengecewakan. Sejak namanya mulai dikenal, dia sudah partisan Partai Keadilan (serkarang PKS), tapi dia berhasil meluluhkan saya, bahkan saya (sampai tertipu) mencoblos partai ini saat pertama kali pemilu multipartai 1999. Tapi dengan cepat dia turun pamornya di mata saya seiring terpuruknya reputasi PKS.

Terlebih dia akhirnya menjadi politisi "pada umumnya"; yang secara menyedihkan, permisif membela rekan-rekannya di PKS yang terbukti korupsi macam Lutfi Hasan Ishaq, sebesar apapun bukti yang berhasil dibongkar KPK. Bahkan dia lalu menuduh KPK bagian dari suatu skenario "teori konspirasi"; hahaayy! Tidakkah dia mengamati, rakyat Indo lebih membela KPK ketimbang PKS. KPK bagi rakyat adalah harapan, sementara PKS hanya suatu kecenderungan standar dengan modus yang mudah tertebak--mengejar kekuasaan.

#tepokjidat untuk Amien Rais
Sosok yang satu ini nih yang sangat AJAIB bagi saya: Amien Rais. Saya bahkan tertawa-tawa miris mengamati fenomena beliau ini. Dulu, saya sangat amat mengidolakan beliau pisan. Setiap acara di televisi yang menghadirkan beliau, sudah pasti saya anggap tayangan yang (sangat) menghibur; karena ucapan-ucapannya membangkitkan harapan.

Saya pun tak ragu mencoblos dia dalam Pilpres 2004 meskipun di putaran pertama pun sudah tersandung. Rakyat kebanyakan rupanya kurang mengenal Amien yang terlalu ngakademis, duduk di menara gading. Beberapa tahun terakhir, secara mengejutkan karakternya berubah, terpicu oleh mulai naiknya popularitas Jokowi sebagai Walikota Surakarta. Sejak itu juga, Amien bawaannya mengritik terus pria kerempeng ini, hingga klimaksnya: mendukung Prabowo.

Amien menjadi sosok yang cenderung berada di belakang para “bad guy” (meminjam istilah Wimar Witoelar); #tepokjidat. Tak pernah dia merespon positif sekali pun kerja Jokowi. Komentar-komentarnya bikin saya melongo; tak percaya pernah sangat mengidolakannya.

Dia benar-benar menjadi politisi “sejati”; sama sekali tidak memedulikan kemana aspirasi rakyat condong; hanya kepentingan dia dan partainya saja yang dikedepankan. Reaksi positifnya terkait Jokowi hanya saat dia mewacanakan memasangkan Jokowi sebagai wakil presiden-nya Hatta Rajasa (kalau saya tak salah ingat; atau mungkin sebaliknya).

Terakhir, 6 Agustus 2014, saya sungguh masygul (untuk kesekian kalinya) melihat sosoknya duduk anteng di belakang Prabowo dan Hatta Rajasa saat kubu no.1 ini mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Luar biasa menyedihkannya *seraya terngaga takjub.

Tokoh-tokoh yang “bangkrut” integritasnya di mata saya ini, membuat saya makin yakin dengan jargon: TAK ADA TEMAN YANG ABADI; YANG ABADI HANYA KEPENTINGAN.**

No comments: