Wednesday, August 13, 2014

“D.A.R.Y.L.” Aku Padamu… (1)



Tahun 1985 sepertinya, ketika saya membaca ulasan Hilman Hariwijaya tentang film “D.A.R.Y.L” di majalah Hai. Saya lupa seperti apa ulasan Hilman tepatnya ketika itu, yang saya ingat penulis cerita "Lupus" ini memuji film tersebut sebagai seru dan layak tonton. Tentu saja saya yang ketika itu masih SMP, jadi ngiler. Padahal saya bukan tipe yang mudah tertarik nonton film.

Gambar dari: www.teenidols4you.com
Namun kesadaran saya akan kemampuan ekonomi ortu yang biasa-biasa saja ketika itu, membuat saya mudah saja meredam keinginan itu. Sama sekali tidak merengek-rengek minta duit buat nonton, karena kemungkinan gagalnya besar (haha). Meski begitu, sejak itu saya tak pernah melupakan film ini. 

Nonton bioskop pada masa itu memang masih tergolong hiburan mewah. Perumpamaannya bisa dilihat dari: antara keluarga yang memiliki sambungan telepon di rumahnya dengan yang tidak, dan keluarga kami termasuk yang tidak. Kelas sosial-ekonomi pada masa Orde Baru memang mudah sekali dibedakan.

Bagi bapak saya yang PNS, kemewahan yang lebih diprioritaskannya adalah dengan masih bisa berlangganan Kompas, Bobo, dan Hai (sempat juga dari Bobo jadi Ananda, dan dari Hai jadi Gadis). Dengan berlangganan majalah-majalah itu sebenarnya bikin jadi banyak hal yang hanya bisa kami baca dan lihat, tapi tidak bisa (sulit) kami miliki. Syukurlah kami tetap tumbuh normal.

Sebenarnya sekali-kali bisa saja nonton ke bioskop, tapi tidak bisa setiap saat ada film baru lalu kita nonton seperti zaman sekarang. Boleh jadi juga meskipun tak sanggup setiap saat nonton ke bioskop, namun hiburan nonton film terpuaskan karena sejak 1983 kami punya alat pemutar video, merk-nya Fischer.

Pada waktu itu, setiap bulan selalu ada koko-koko yang kami panggil "Koh" (Koh siapa gitu namanya, lupa), yang berkeliling menggunakan motor bebek dengan membawa tas traveling berisi video-video sewaan; kebanyakan bajakan. Karena bajakan, tak semua film yang kami sewa berkualitas baik. 

Salah satu film hasil menyewa dari si kokoh yang kualitasnya cukup baik adalah film “Extra Terrestrial” (E.T.). Waktu itu, hampir 1 atau 2 tahunan rasanya sejak film ini resmi diputar di bioskop. Mungkin mengusahakan video bajakan juga ada etikanya waktu itu :D


Karena itu, sebelum tergila-gila pada anak kecil pemeran Daryl (Barret Oliver), saya malah  sempat terobsesi pada anak kecil pemeran Elliot (Henry Thomas). Hampir setiap hari saya memutar “E.T.”, sampai malu dan takut kalau ketahuan ortu, hihih. Anehnya (heu), saya kok lupa di mana saya menonton D.A.R.Y.L. untuk pertama kali, apakah juga dari video sewaan atau lewat stasiun televisi (TV) swasta? 

Tahun 1994, saya ingat SCTV selalu menayangkan film-film box office Amrik setiap Minggu pukul 9 pagi. Saya berharap sekali SCTV (stasiun televisi swasta kedua yang beroperasi di Indonesia) akan memutar D.A.R.Y.L, meskipun tidak terlalu yakin karena waktu itu film ini berarti sudah berumur 9 tahun. Satu waktu, SCTV menayangkan “iklan” mengenai film yang akan diputar Minggu pagi berikutnya. Gayung bersambut, judulnya: D.A.R.Y.L.

Ibarat bakal kedatangan pacar baru, saya catat hari dan jam H-nya di tempat yang mudah dilihat, lalu meyakinkan diri bahwa saya tidak harus pergi kemana-mana pada harin dan jam itu. Tidak ada yang lebih penting daripada bersiap duduk manis di depan TV pada waktu tersebut, sudah mandi, dan dengan posisi duduk yang paling nyaman.
Begitu menikmatinya nonton (lagi) film ini, dua jam dan diselang iklan bagaikan naik kereta shinkansen, cepat banget selesainya. Waktu itu saya rasanya ingat bukan untuk pertama kalinya nonton D.A.R.Y.L, karena saya hapal beberapa adegan favoritnya. 

Tapi saya tetap tak yakin, dimana pertamakali menontonnya. Apakah lewat video sewaan? Atau boleh jadi tayangan 1994 tersebut diulang SCTV, hanya saja saat tayangan pertama saya belum puas karena nonton di pertengahan. Au ah gelap (penting gak sih dibahas, wkwk). Selepas nonton di SCTV itu... ah entah kapan saya bisa nonton lagi film ini. 

Gara-gara Youtube
Hingga pada 2010, saya membuat sambungan Speedy di rumah. Begitu banyak waktu yang saya miliki untuk mengeksplorasi apapun yang terdapat di internet, hingga larut malam--makleum freelancer. Keasyikan menonton Youtube lah yang membuat akhirnya saya ingat lagi film D.A.R.Y.L. Dengan sekali klik kata “daryl”, buruduuul video-video mengenai film D.A.R.Y.L. bermunculan (gak sebanyak film ET sih). Waah, harta karun!

Saya bahkan dengan mudah menemukan satu akun yang mengaplod film ini dalam sekitar 10 seri. Wow... cihuyyy! (tampaknya sekarang sudah dihapus). Dengan bantuan “dwhelper”, saya pun akhirnya bisa memiliki film ini. Kualitasnya, untuk ukuran mendonlod dari Youtube, lumayan lah. Saya pun bagai bertemu kembali dengan si “anak yang hilang”, Daryl-ku (LOL). Dengan begitu, setiap adegan favorit bisa seenaknya diulang-ulang: terimakasih teknologi.

Sejak itu juga saya bisa mendonlod film-film dan juga film TV yang diperankan Barret Oliver lainnya, seperti “Never Ending Story (NES)” (1984), “Frankenweenie” (1984), Twilight Zone: Gramma (1986), dan “Higway to Heaven: To Touch the Moon” (1984). 
Lalu entah masih 2010 atau 2011, dari seorang teman yang punya teman jagoan utak-atik internet, saya malah berhasil mendapatkan video utuh D.A.R.Y.L., tentu saja dengan kualitas yang juauh lebih baik, audio maupun visualnya. Air mata Turtle yang mewek waktu ditinggal Daryl, atau air mata Daryl saat adegan si “penciptanya” meninggal di pangkuannya, jelas terlihat ketimbang dari hasil donlodan Youtube. 


Sayang, hingga kini saya belum bisa mendapatkan film "Coccoon". Di film ini, Barret Oliver bahkan muncul dalam dua masa. Di "Coccoon", dia masih sebesar saat main di D.A.R.Y.L. Sedangkan di "Coccon the Return", Barret sudah remaja. 

Tapi pada 2013, saya dapat kejutan baru. Rupanya pada 2011, saat saya puasa nge-net, ada yang mengaplod di Youtube film televisi "Secret Garden" (1987) dan "Spot Marx the X" (1986).

Di kedua film ini, Barret  Oliver sudah lebih besar. Wajah kiutnya saat di D.A.R.Y.L. sudah agak hilang. Barret sudah mulai abege. Padahal dalam "Spot Marx the X", Barret hanya satu tahun lebih tua dari saat di D.A.R.Y.L. Di "Secret Garden", suaranya bahkan sudah berubah. Jujur, di dua film ini saya mulai kehilangan wajah lucunya

Sayangnya, dia mengakhiri karir aktornya dengan main di film yang tampaknya menyedihkan: Class Struggle of Beverly Hills (1989). Perannya? Remaja yang memiliki gangguan psikis fantasi seks. Oww, jangan pernah saya menemukan film ini di Youtube, heuheu... Sejak film terakhirnya ini, Barret menghilang dari dunia layar lebar.

Namun kemudian muncul "misteri" menarik dari menghilangnya aktor cilik 80-an ini dari dunia gemerlap Holiwut. Alih-alih sedih, saya malah sangat respek dan mendukung pilihan hidupnya ini. Terlebih jika membandingkan kehidupan para mantan bintang cilik yang gone bad di masa dewasanya, semisal Macaulay Culkin hingga Justin Bieber. 

Barret pernah diisukan bergabung dengan gereja Scientology, mengikuti ayahnya.Terakhir, si lucu yang pastinya sudah tak lucu lagi ini karena sudah berusia 40-an, dikabarkan memelihara brewok plus rambut "dreadlock" (booo!). 

Namun dia kini disebut-sebut eksis sebagai fotografer akademis, bahkan telah menulis satu buku berjudul "The History of Woodburry Type". Menariknya, di buku ini disebutkan bahwa Barret membahas kiprah Walter Bentley Woodburry saat menjadi fotografer "wet plate" di Jawa, di tahun 1800-an.

2012, Lokasi Film Tidak Berubah
Saya sempat tidak memiliki akses internet karena Speedy terasa muahiiil, lagipula kualitasnya tetap jelek; baru hujan rintik-rintik saja jaringan sudah goyang, apalagi kalau disambar petir. So, dengan senang hati saya memutusnya, dan saya berpuasa internetan di rumah.

Tahun 2012 saya memutuskan berlangganan Smartfren, karena saya mulai tidak nyaman ke warnet, atau bahkan kalau harus mencari wi-fi gratisan (dengan makanan yang tetep bayar). Maka, kembalilah masa-masa bablas internetan. Apalagi 2012 itu, kualitas sinyal Smartfren unlimited 50 rebuan masih jauh lebih bagus daripada sekarang. 

Saya pun kembali teringat si Daryl. Maka saya kembali sibuk mengeksplorasi Youtube dan Google. Saking entah kenapa terhipnotis oleh film tersebut, saya sampai mencari-cari lokasi film tersebut dibuat. Bahkan berwisata di Google Earth hingga ke lokasi bernama Orlando.

Rumah Daryl 2012 (smbr: www.kickbright.net)
Di Youtube bahkan ada kejutan baru. Seorang tukang bikin video “filming location” rupanya melakukan pencarian lokasi film D.A.R.Y.L 2012, hingga sampailah dia ke lokasinya di Jalan Euclid, Orlando, Amrik. Ya ampuuun, bangunan bergaya kolonial yang menjadi "rumah orangtua angkat Daryl", masih berdiri, tak berubah sama sekali. Begitu juga dengan rumah kediaman sobat sekaligus tetangga Daryl, Turtle, masih sama. 

Hanya saja suasananya lebih rindang; makin banyak pohon. Pepohonan yang ketika itu masih sebatang, sudah meraksasa. Si pembuat video juga mendatangi lokasi tempat Turtle dan Daryl mengobrol di tepi danau. Luar biasa, sama benar. Bahkan bebatuan tempat Daryl dan Turtle duduk, masih sama. Lokasi lapangan bisbol tempat Daryl diceramahi Turtle soal “grown-ups” (Delaney Park) pun, secara umum tidak berubah. Hal yang hampir tak mungkin terjadi di kota-kota di Indonesia. 

Kalau di Indonesia, lokasi yang sama mungkin sudah jadi ruko, atau banyak dipenuhi kios-kios liar. Kenapa bisa begitu? Selain mungkin karena orang-orang AS sudah mapan sejak lama, dari satu sumber hasil saya menggugling, kedua rumah itu juga tampaknya merupakan cagar budaya.

Tapi ini juga menunjukkan kekonsistenan tata kota negara-negara maju. Jika tata kota sudah fix, sampai kapan pun peruntukan satu wilayah, misalnya sebagai perumahan, tak akan berubah. Memangnya Indonesia. Memangnya Bandung :P Aiih melantur. **


No comments: