Nama tempat: Dunkin Donuts Dago
Lokasi: Jalan Dago, depan KFC Superindo
Harga: Rp 20
ribuan
![]() |
| Kopi tumpas, ngenet lanjoot :D (dipotret teman pake hp) |
Inilah
risiko tempat yang menyediakan layanan wifi, tapi seperti kurang rela
kursi-kursinya hanya dijejali pemburu sinyal. Entahlah, saya kok merasa ngenet
berjam-jam di tempat ini, hanya bermodalkan paket kopi susu dan seekor donat,
kurang direstui pengelolanya. Ah mungkin cuma perasaan Dik Saya saja :D
Waktu
itu, masih di 2012, tempat umum yang menyediakan wifi gratisan memang belum
umum di Bandung, di saat taman-taman di Surabaya dikabarkan sudah dilengkapi
wifi yang bisa diakses sepuasnya. Berbeda dengan sekarang; banyak taman di
Bandung disarati sinyal internet. Mungkin karena pada 2012 itu wali kotanya
masih kamseupay.
Sebelum
mengenal “modem instan”, saya bahkan menjadikan ketidakpunyaan modem sebagai
alasan menjadi pemburu wifi di kafe/resto. Bukan masalah memburu wifi-nya doang
sebenarnya, melainkan juga sekalian ingin menikmati suasana kota dan tentu saja
berikut kopi-kopinya.
Lama
kelamaan, kebutuhan berinternet-ria lebih menjajah ketimbang sekadar
alasan-alasan melankolis, maka saya pun memaksakan diri membeli modem. Apalagi
memang, kembang kempisnya kondisi kocek terasa banget kalau seminggu sekali
kudu berburu kafe/resto ber-wifi.
Dengan
membeli kartu perdana Rp 199.900 plus ngenet sebulan penuh, selanjutnya saya
hanya perlu keluar Rp 51 ribu/bulan (awalnya sempat hanya Rp 45 ribu/bulan).
Meskipun kecepatannya semakin ke sini semakin payah, namun kebutuhan saya untuk
browsing/googling dan memosting tulisan, masih bisa terpenuhi (lah). Jadi, yu dadah babay Dunkin Donuts Dago. Kalian tak
perlu sering-sering melihat muka “melas ngenet” saya lagi.
Tapi,
kenapa Dunkin Donut Dago yang paling sering menjadi pilihan saya waktu itu?
Meskipun saya sering terganggu oleh pengunjung yang merokok, namun secara umum
suasana Dunkin Donuts Dago lebih nyaman ketimbang lokasi lain yg juga ber-wifi
seperti McD misalnya (kecuali McD pengkolan Cipaganti-Setiabudi cukup nyaman;
tapi lokasinya rada sulit dijangkau dari rumah saya).
Nyaman
di sini antara lain karena lebih sering sepinya ketimbang ramai pengunjung yang
nongkrong. Dan yang juga tak kalah penting, dengan Rp 20 ribuan (bahkan dulu
banderolnya masih Rp 19 ribuan—saya belum cek lagi harga sekarang), saya bisa
dapat satu mug besar kopi susu; dengan kopi yang di-steam; sehingga memenuhi
rasa kopi favorit saya, plus satu donat.
Hanya
saja, yaitulah, pengelolanya bagai tak rela dikunjungi pemburu wi-fi macam
saya. Selain password-nya sering ganti (padahal nanya password sama
waitress-nya itu entah kenapa menyegankan), kadang sudah pesan kopi, eeeh…
sinyalnya—katanya—bermasalah; rugi bandaaar!
Tidak
ada juga upaya pengelolanya untuk minta maaf ketika saya bolak-balik nanya,
“Kok sinyalnya gak bisa diakses?” Dalam hati mereka mungkin ingin jawab: wooi,
paket ngopinya gak termasuk nongkrong berjam-jam dan nyolok listrik pula.
Maka
saya menyimpulkan, pemburu wifi seperti saya kurang diharapkan kehadirannya.
Faktanya, hal sama juga terasa di Dunkin Donuts di Jalan Merdeka. Di lokasi ini
yang internetnya hampir selalu macet, lucunya saya malah berhasil nyantol
sinyal internet "tetangga" yang tempaknya tak pakai
password-password-an: tulisan yang tertangkap adalah MELSA.
McD
sebenarnya lebih “welcome”, tapi saya gak suka suasananya yang seperti pasar.
Belum lagi banyak anak-anak yang tak malu-malu no'ong apa yang sedang saya
kerjakan. Selain itu, kopi di McD tidak istimewa. Rasanya hampir seperti
coffee-o Nescafe.
Laba
Dunkin Donuts jelas datang dari pembeli-pembeli yang datang dan pergi membawa
sekotak besar donat. Berbeda strategi dengan Seven Eleven (di Bandung rasanya
belum ada) yang justru mengundang pembeli dengan menyediakan wifi gretongan.
Jika pengelola Dunkin berpikir para pemburu wifi akan pulang dengan membeli
donat, mereka memang salah :D **

No comments:
Post a Comment