Monday, September 8, 2014

Beli Kopi 20 Rebuan, Nongkrong Berjam-jam


Nama tempat: Dunkin Donuts Dago
Lokasi: Jalan Dago, depan KFC Superindo
Harga: Rp 20 ribuan

Kopi tumpas, ngenet lanjoot :D (dipotret teman pake hp)
Inilah risiko tempat yang menyediakan layanan wifi, tapi seperti kurang rela kursi-kursinya hanya dijejali pemburu sinyal. Entahlah, saya kok merasa ngenet berjam-jam di tempat ini, hanya bermodalkan paket kopi susu dan seekor donat, kurang direstui pengelolanya. Ah mungkin cuma perasaan Dik Saya saja :D

Waktu itu, masih di 2012, tempat umum yang menyediakan wifi gratisan memang belum umum di Bandung, di saat taman-taman di Surabaya dikabarkan sudah dilengkapi wifi yang bisa diakses sepuasnya. Berbeda dengan sekarang; banyak taman di Bandung disarati sinyal internet. Mungkin karena pada 2012 itu wali kotanya masih kamseupay.

Sebelum mengenal “modem instan”, saya bahkan menjadikan ketidakpunyaan modem sebagai alasan menjadi pemburu wifi di kafe/resto. Bukan masalah memburu wifi-nya doang sebenarnya, melainkan juga sekalian ingin menikmati suasana kota dan tentu saja berikut kopi-kopinya.

Lama kelamaan, kebutuhan berinternet-ria lebih menjajah ketimbang sekadar alasan-alasan melankolis, maka saya pun memaksakan diri membeli modem. Apalagi memang, kembang kempisnya kondisi kocek terasa banget kalau seminggu sekali kudu berburu kafe/resto ber-wifi.

Dengan membeli kartu perdana Rp 199.900 plus ngenet sebulan penuh, selanjutnya saya hanya perlu keluar Rp 51 ribu/bulan (awalnya sempat hanya Rp 45 ribu/bulan). Meskipun kecepatannya semakin ke sini semakin payah, namun kebutuhan saya untuk browsing/googling dan memosting tulisan, masih bisa terpenuhi (lah). Jadi,  yu dadah babay Dunkin Donuts Dago. Kalian tak perlu sering-sering melihat muka “melas ngenet” saya lagi.

Tapi, kenapa Dunkin Donut Dago yang paling sering menjadi pilihan saya waktu itu? Meskipun saya sering terganggu oleh pengunjung yang merokok, namun secara umum suasana Dunkin Donuts Dago lebih nyaman ketimbang lokasi lain yg juga ber-wifi seperti McD misalnya (kecuali McD pengkolan Cipaganti-Setiabudi cukup nyaman; tapi lokasinya rada sulit dijangkau dari rumah saya).

Nyaman di sini antara lain karena lebih sering sepinya ketimbang ramai pengunjung yang nongkrong. Dan yang juga tak kalah penting, dengan Rp 20 ribuan (bahkan dulu banderolnya masih Rp 19 ribuan—saya belum cek lagi harga sekarang), saya bisa dapat satu mug besar kopi susu; dengan kopi yang di-steam; sehingga memenuhi rasa kopi favorit saya, plus satu donat.

Hanya saja, yaitulah, pengelolanya bagai tak rela dikunjungi pemburu wi-fi macam saya. Selain password-nya sering ganti (padahal nanya password sama waitress-nya itu entah kenapa menyegankan), kadang sudah pesan kopi, eeeh… sinyalnya—katanya—bermasalah; rugi bandaaar!

Tidak ada juga upaya pengelolanya untuk minta maaf ketika saya bolak-balik nanya, “Kok sinyalnya gak bisa diakses?” Dalam hati mereka mungkin ingin jawab: wooi, paket ngopinya gak termasuk nongkrong berjam-jam dan nyolok listrik pula.

Maka saya menyimpulkan, pemburu wifi seperti saya kurang diharapkan kehadirannya. Faktanya, hal sama juga terasa di Dunkin Donuts di Jalan Merdeka. Di lokasi ini yang internetnya hampir selalu macet, lucunya saya malah berhasil nyantol sinyal internet "tetangga" yang tempaknya tak pakai password-password-an: tulisan yang tertangkap adalah MELSA.

McD sebenarnya lebih “welcome”, tapi saya gak suka suasananya yang seperti pasar. Belum lagi banyak anak-anak yang tak malu-malu no'ong apa yang sedang saya kerjakan. Selain itu, kopi di McD tidak istimewa. Rasanya hampir seperti coffee-o Nescafe.

Laba Dunkin Donuts jelas datang dari pembeli-pembeli yang datang dan pergi membawa sekotak besar donat. Berbeda strategi dengan Seven Eleven (di Bandung rasanya belum ada) yang justru mengundang pembeli dengan menyediakan wifi gretongan. Jika pengelola Dunkin berpikir para pemburu wifi akan pulang dengan membeli donat, mereka memang salah :D **

No comments: