Nama Kafe: Tungku
Lokasi: Jalan Neglasari,
Ciumbuleuit
Harga: Rp 18 ribuan/pot (2012)
Memang sih, suasana kafe saat itu tidak seindah saat terakhir saya ke
sana. Dulu, saya disambut suasana asri, hijau, dan agak berkabut. Yup, lokasi
kafe ini memang berada di kaki Gunung Burangrang yang sekaligus menjadi
pemandangan kafe ini.
Tapi Desember 2012 itu rupanya cuaca kurang basah. Desember yang
kering. Sehingga saat ke sana, suasana kafe yang memang agak berkonsep terbuka
bahkan transparan ini, memang terasa panas dan gersang. Tanaman yang dulu
terlihat hijau, tidak dominan lagi.
Kecewa di Kafe Bunga, kami lalu sempat
menjajal Kafe Kampung Daun, yang berlokasi di Cihideung (Jalan Sersan
Bajuri), tak begitu jauh dari Kafe Bunga. Tapi booow, ini kafe atau tempat
wisata!? Kami terjebak keharusan untuk antri menunggu pengunjung lain selesai
makan-makan.
Menyerah, akhirnya kami balik lagi ke Bandung kota. Soalnya kalau
keukeuh nyari yang di sekitaran Lembang, hampir pasti kondisinya sama, padat
pengunjung yang berlibur akhir tahun.
![]() |
| maap, "bogalakonnya" nongol :D |
Sebegitu banyaknya pilihan kafe di Bandung, tapi rupanya saya sebagai
orang Bandung kesulitan menerjemahkan keinginan teman saya. Saat itu, kondisi
kami sudah saling tak enak, pokonya saya melihat gelagat bisa berakhir dengan
pertumpahan darah. Sampai-sampai untuk mengatasinya, sempat mau masuk KFC.
Akhirnya, masih dengan
selera saya (hehe), saya bawa saja mereka ke kawasan Ciumbuleuit, tepatnya di Jalan
Neglasari. Saya tahu, sajian makanan di kafe ini tidak sophisticated, rumahan
banget, tapi berselera kolonial, dengan suasana bak di rumah-rumah pedesaan
Eropa (halah). Camilan pilihannya antara lain panekuk dan poffertjes. Tapi ada yang lebih penting, sepi!
Saya pribadi tidak masalah dengan makanannya, karena buat pengopi
seperti saya, ngopi-lah yang utama (huihihihi). Saya bahkan lupa waktu itu
pesan makanan apa.
| dua kali kunjungan, kucing ini selalu menemani, gak ganggu |
Rasa kopi di kafe bernama Tungku ini, tidak istimewa. Dia tidak dibuat
dengan teknik steam, melainkan hanya diseduh biasa. So, soal rasa hampir sama
dengan kalau ngopi di rumah. Tapi penyajiannya saik punya (bahasa alay remaja
80-90-an).
Kopi disajikan dalam pot. Gula cair dan susu-nya disajikan dalam wadah
terpisah. Jika orang Cina atau Jepang merasa lebih “agung” minum teh dengan
tradisi yang ribet, dan karenanya rasa the menjadi lebih nikmat, maka mungkin
kenikmatan kopi juga bukan sekadar pada jenis kopi dan cara membuatnya (steam
atau tubruk), melainkan pada cara penyajiannya yang bergaya, hehehe. Dan ini “works
for me” :D

No comments:
Post a Comment