Saturday, September 6, 2014

Mencari Sunyi di Ciumbuleuit



Nama Kafe: Tungku
Lokasi: Jalan Neglasari, Ciumbuleuit
Harga: Rp 18 ribuan/pot (2012)

Akhir tahun, hampir semua tempat makan di Bandung rame pengunjung. Waktu itu tanggal 28 Desember 2012, kami; saya dan tiga teman saya, sempat mampir ke kafe Bunga di komplek Vila Istana Bunga, Parongpong, Lembang. Tapi, salah seorang teman saya rupanya merasa tak nyaman dengan suasana yang tersaji saat itu. Maka, kami pun; yang sudah sempat masuk dan diikuti seorang pencatan pesanan, keluar lagi.


Memang sih, suasana kafe saat itu tidak seindah saat terakhir saya ke sana. Dulu, saya disambut suasana asri, hijau, dan agak berkabut. Yup, lokasi kafe ini memang berada di kaki Gunung Burangrang yang sekaligus menjadi pemandangan kafe ini.

Tapi Desember 2012 itu rupanya cuaca kurang basah. Desember yang kering. Sehingga saat ke sana, suasana kafe yang memang agak berkonsep terbuka bahkan transparan ini, memang terasa panas dan gersang. Tanaman yang dulu terlihat hijau, tidak dominan lagi.

Kecewa di Kafe Bunga, kami lalu sempat  menjajal Kafe Kampung Daun, yang berlokasi di Cihideung (Jalan Sersan Bajuri), tak begitu jauh dari Kafe Bunga. Tapi booow, ini kafe atau tempat wisata!? Kami terjebak keharusan untuk antri menunggu pengunjung lain selesai makan-makan.  

Menyerah, akhirnya kami balik lagi ke Bandung kota. Soalnya kalau keukeuh nyari yang di sekitaran Lembang, hampir pasti kondisinya sama, padat pengunjung yang berlibur akhir tahun.

maap, "bogalakonnya" nongol :D
Sebegitu banyaknya pilihan kafe di Bandung, tapi rupanya saya sebagai orang Bandung kesulitan menerjemahkan keinginan teman saya. Saat itu, kondisi kami sudah saling tak enak, pokonya saya melihat gelagat bisa berakhir dengan pertumpahan darah. Sampai-sampai untuk mengatasinya, sempat mau masuk KFC. 

Akhirnya, masih dengan selera saya (hehe), saya bawa saja mereka ke kawasan Ciumbuleuit, tepatnya di Jalan Neglasari. Saya tahu, sajian makanan di kafe ini tidak sophisticated, rumahan banget, tapi berselera kolonial, dengan suasana bak di rumah-rumah pedesaan Eropa (halah). Camilan pilihannya antara lain panekuk dan poffertjes. Tapi ada yang lebih penting, sepi!

Saya pribadi tidak masalah dengan makanannya, karena buat pengopi seperti saya, ngopi-lah yang utama (huihihihi). Saya bahkan lupa waktu itu pesan makanan apa.

dua kali kunjungan, kucing ini selalu menemani, gak ganggu
Rasa kopi di kafe bernama Tungku ini, tidak istimewa. Dia tidak dibuat dengan teknik steam, melainkan hanya diseduh biasa. So, soal rasa hampir sama dengan kalau ngopi di rumah. Tapi penyajiannya saik punya (bahasa alay remaja 80-90-an).

Kopi disajikan dalam pot. Gula cair dan susu-nya disajikan dalam wadah terpisah. Jika orang Cina atau Jepang merasa lebih “agung” minum teh dengan tradisi yang ribet, dan karenanya rasa the menjadi lebih nikmat, maka mungkin kenikmatan kopi juga bukan sekadar pada jenis kopi dan cara membuatnya (steam atau tubruk), melainkan pada cara penyajiannya yang bergaya, hehehe. Dan ini “works for me” :D

No comments: