Sunday, September 21, 2014

Ketika Tempat Tak Senikmat Kopinya



Tempatnya mepet-mepet jalan raya, sempit, agak kumuh—mirip warteg (maap :D). Tapi area kerja si barista yag ditaruh di muka, agak sedikit menolong citra kafe ini. Terlebih lagi, rasa kopinya—seenggaknya yang saya pesan—sangat bisa bersaing dengan kopi-kopi di kafe besar yang menyediakan kopi dengan teknik steam, bahkan mungkin dengan Starbucks pun (uhuy; jujur nih, gak dibayar).

Sang barista sibuk membuat kopi pesanan saya
Cuma tetap saja, suasana kafe bernama “Kopi Panggang” ini seperti sudah saya sebutkan di atas, buat saya mah sangat tak nyaman. Belum lagi, saat naik ke lantai atas, selain para pengunjungnya bertampang masih mahasiswaan gitu  (problem saya ini mah, qeqeqeq), asap rokok bersifat lintas batas. Jadi, mending “take away”, dan minum di dalam mobil, di parkiran.

Ihwal harga, dengan kualitas rasa seperti yang saya cecap  boleh dibilang standar, dengan volume yang sedemikian. Untuk diketahui, saya memesan café au lait—kopi susu berbusa, mirip cappucino—dengan cup ukuran kecil. Dalam 10 menit, dengan kondisi hangat cenderung masih agak panas, sudah bisa habis.

lumayan buat mahasiswa pada ngegalau
Jika disesuaikan dengan daya beli saya yang menengah cenderung nyungsep (wkwk), agak terasa mahal, apalagi jika disandingkan dengan suasana kafenya. Perlu mahasiswa-mahasiswa yang lumayan agak tebal kantongnya jika sasaran kafe ini adalah mahasiswa, mengingat lokasinya, Jalan Tubagus Ismail, adalah wilayah kos-kosan mahasiswa di Bandung.

Tampaknya mahasiswa berkriteria seperti saya sebutkan itu lumayan banyak. Pasalnya, saat saya dan teman ke kafe ini, lantai dua lumayan penuh, padahal waktu itu hari Selasa jelang sore. Jika saya amati minuman pesanan mereka, tampak tak banyak yang memesan kopi panas. Rata-rata kopi yang diolah dingin. Dan sepertinya bagi sang barista pun membuat sajian dingin lebih mudah ketimbang kopi panas.

Berhubung agak lama, saya sempat mengamati sang barista beraksi. Tampak repot. Dia tampak memanaskan termos tertutup rapat berbahan semacam stainless steel; saya menduga wadah tersebut untuk menghasilkan uap untuk memanasi kopi dan juga membuat susu menjadi berbusa (cmiiw). Ini salah satu cara yang saya tahu menghasilkan kopi hitam bercitarasa americano, bukan kopi tubruk; dan ini menghasilkan rasa berbeda meskipun jenis kopinya bisa sama.

Hati-hati memilih menu bernama macchiato. Namanya terlihat menggiurkan, tapi seperti teman saya yang coba-coba, terpaksa kecewa mendapati isi cup-nya nyaris seperti kosong (dan saya pun tertawa). Rupanya setelah saya googling, macchiato itu adalah espresso yang diberi susu. Yu kenow lah espresso! Kalo gak kenow, silakan googling.

Sekilas melihat harganya, hampir sama dengan cake au lait; antara 10-11 ribuan. Americano, yang disebut Black Origin di kafe ini harganya dibanderol Rp 8.000. Sajian kopi dingin biasanya lebih mahal, tapi jika saya tak salah mengamati, masih dalam kisaran 15-20 ribuan.

Berhubung tak nyaman dengan suasananya tersebut, kopi kami bawa ke tempat teman saya memarkir mobilnya di kafe Dapur Eyang, hanya sekitar 20-30 meter jaraknya. Memang, sebelum ke Kopi Panggang, kami sempat makan-makan dan minum teh di sini. What a life :P **

No comments: