Tempatnya mepet-mepet jalan raya, sempit, agak kumuh—mirip warteg (maap
:D). Tapi area kerja si barista yag ditaruh di muka, agak sedikit menolong
citra kafe ini. Terlebih lagi, rasa kopinya—seenggaknya yang saya pesan—sangat
bisa bersaing dengan kopi-kopi di kafe besar yang menyediakan kopi dengan
teknik steam, bahkan mungkin dengan Starbucks pun (uhuy; jujur nih, gak
dibayar).
| Sang barista sibuk membuat kopi pesanan saya |
Cuma tetap saja, suasana kafe bernama “Kopi Panggang” ini seperti
sudah saya sebutkan di atas, buat saya mah sangat tak nyaman. Belum lagi, saat
naik ke lantai atas, selain para pengunjungnya bertampang masih mahasiswaan
gitu (problem saya ini mah, qeqeqeq),
asap rokok bersifat lintas batas. Jadi, mending “take away”, dan minum di dalam
mobil, di parkiran.
Ihwal harga, dengan kualitas rasa seperti yang saya cecap boleh dibilang standar, dengan volume yang
sedemikian. Untuk diketahui, saya memesan café au lait—kopi susu berbusa, mirip
cappucino—dengan cup ukuran kecil. Dalam 10 menit, dengan kondisi hangat
cenderung masih agak panas, sudah bisa habis.
| lumayan buat mahasiswa pada ngegalau |
Jika disesuaikan dengan daya beli saya yang menengah cenderung
nyungsep (wkwk), agak terasa mahal, apalagi jika disandingkan dengan suasana
kafenya. Perlu mahasiswa-mahasiswa yang lumayan agak tebal kantongnya jika
sasaran kafe ini adalah mahasiswa, mengingat lokasinya, Jalan Tubagus Ismail, adalah
wilayah kos-kosan mahasiswa di Bandung.
Tampaknya mahasiswa berkriteria seperti saya sebutkan itu lumayan
banyak. Pasalnya, saat saya dan teman ke kafe ini, lantai dua lumayan penuh,
padahal waktu itu hari Selasa jelang sore. Jika saya amati minuman pesanan
mereka, tampak tak banyak yang memesan kopi panas. Rata-rata kopi yang diolah
dingin. Dan sepertinya bagi sang barista pun membuat sajian dingin lebih mudah
ketimbang kopi panas.
Berhubung agak lama, saya sempat mengamati sang barista beraksi.
Tampak repot. Dia tampak memanaskan termos tertutup rapat berbahan semacam
stainless steel; saya menduga wadah tersebut untuk menghasilkan uap untuk
memanasi kopi dan juga membuat susu menjadi berbusa (cmiiw). Ini salah satu
cara yang saya tahu menghasilkan kopi hitam bercitarasa americano, bukan kopi
tubruk; dan ini menghasilkan rasa berbeda meskipun jenis kopinya bisa sama.
Hati-hati memilih menu bernama macchiato. Namanya terlihat
menggiurkan, tapi seperti teman saya yang coba-coba, terpaksa kecewa mendapati
isi cup-nya nyaris seperti kosong (dan saya pun tertawa). Rupanya setelah saya
googling, macchiato itu adalah espresso yang diberi susu. Yu kenow lah
espresso! Kalo gak kenow, silakan googling.
Sekilas melihat harganya, hampir sama dengan cake au lait; antara
10-11 ribuan. Americano, yang disebut Black Origin di kafe ini harganya dibanderol
Rp 8.000. Sajian kopi dingin biasanya lebih mahal, tapi jika saya tak salah
mengamati, masih dalam kisaran 15-20 ribuan.
Berhubung tak nyaman dengan suasananya tersebut, kopi kami bawa ke
tempat teman saya memarkir mobilnya di kafe Dapur Eyang, hanya sekitar 20-30 meter
jaraknya. Memang, sebelum ke Kopi Panggang, kami sempat makan-makan dan minum teh
di sini. What a life :P **
No comments:
Post a Comment