Friday, September 12, 2014

Confession



Salah satu hal pertama yang ingin saya lakukan di internet setelah ibu saya pulang ke rumah Allah adalah: meng-googling dengan kata/kalimat kunci seperti: bagaimana cara mendapatkan maaf dari orang tua yang sudah meninggal. Hal ini berangkat dari penyesalan (biasa lah manusia, atau biasa lah saya) karena ibu saya meninggal dengan cara yang tergolong cepat sekali, di tengah kondisi yang tampak sehat :'

Tak heran kalau saya kemudian begitu senewen, karena ditinggali perasaan dosa yang belum sempat termintakan maafnya, serta misteri-misteri kecil yang takkan pernah bisa terjawab lagi; dan ini menghantui di setiap detail rumah.

Saya tadinya agak cemas bahwa dosa terhadap ortu yang sudah meninggal, takkan termaafkan. Tapi di sisi lain, saya rasanya juga percaya, tak ada dosa yang tidak termaafkan di dalam agama saya sejauh manusia yang besangkutan menyatakan bertobat. Syukurlah, di internet bertebaran cara bagaimana menebus dosa terhadap orang tua yang sudah meninggal. Kuncinya ada di "amalan yang tidak terputus ketika manusia meninggal", yakni: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh. Kelihatannya peluang kita yang masih hidup ada di yang terakhir.

Dari sejumlah bacaan di internet, saya menyimpulkan, beberapa hal yang bisa dilakukan agar dosa kita kepada ortu dimaafkan adalah (semoga saya selalu diingatkan untuk melakukan keempat hal ini):
1. Mendoakannya
2. Bersedekah atas nama ortu
3. Tidak memutus silaturahim dengan saudara/teman/sahabat-sahabat ortu kita
4. Dan tentu saja tidak melakukan hal yang mempermalukan ortu

Maka sembilan bulan terakhir ini saya jadi "mendadak dangdut"; akrab dan banyak berbasa-basi dengan ibu-ibu mantan teman baik ibu saya semasa hidup. Saya juga melanjutkan tradisi menabung di tabungan/koperasi ibu-ibu komplek. Akibatnya, banyak misteri kecil bermunculan yang bmembuat saya penasaran: kenapa ibu saya melakukan ini dan melakukan itu.

Misalnya, salah seorang teman ibu saya “membocorkan” rahasia bahwa ibu saya pernah curhat suka membuang obat-obatan pribadinya jika sedang keluar rumah (ibu saya pernah dirawat di RS karena terkena stroke yang membuat  memorinya agak terganggu). Pantesan, saya sering dibikin heran kenapa obat-obatan yang harganya muahiiil itu kok cepat habis tapi tidak ada sampah bungkusnya. Ah…

Setiap Detail di Rumah, “Menghantui”
Seorang teman di fesbuk yang baru kehilangan ibunya menulis status agar jangan sampai mengalami penyesalan jika suatu saat mendapat giliran ditinggal ibu. Saya membaca, tapi tidak mengomentari karena kurang akrab dengannya. Saya teringatkan akan kemungkinan itu; saya juga pernah menyesal karena kurang “mendekatkan diri” pada bapak saya ketika beliau meninggal.

Atas dasar itu juga, kalau sedang eling saya biasanya sengaja duduk di dekat ibu saya yang sedang nonton acara kesukaannya di televisi yang tak saya sukai. Atau kadang kalau kelupaan asyik di kamar, buru-buru saya keluar kamar dan mencari-cari dimana beliau berada. Sayangnya, menjelang hari-hari “H” beliau, saya sedang tak ada yang mengingatkan (hiks).

Bahkan bisa dibilang, saya sedang dirundung galau sehingga terlalu fokus pada masalah saya sendiri. Dan ini rasa-rasanya berimbas pada temperamen saya yang jadi mudah tersinggung, mudah kesal—meskipun memang ada juga hal-hal yang selalu tak cocok antara saya dan ibu.

Misalnya, kalau saya habis bersih-bersih rumah dan mengatur posisi barang agar tak mudah kotor lagi, ibu saya akan mengembalikan posisi barang tersebut meskipun saya sudah mewartakan baik-baik.  Atau, ibu saya suka mencabuti tanaman-tanaman yang sengaja saya tanam, padahal saya sudah seringkali memohon agar jangan dicabuti. Saya sadar beliau sudah sepuh, tapi…. ah, biasalah manusia.

Itu hanya dua dari sekian banyak ketidakcocokan sepele yang bikin saya sering terjebak jadi anak durhaka. Ketidakcocokan sepele itu biasanya lebih sering berurusan dengan masalah bersih-bersih rumah doang, arrrgh… (ya Allah masukkan ibu saya ke surga-Mu).

Kalau sedang “rame” dengan ibu, maka sesuai karakter saya, saya suka ngambek dan gamau ngajak ibu saya ngobrol. Saya pun lebih tenggelam lagi di dalam kamar. Kalau sedang sadar, maka saya tiba-tiba ingat bahwa sesehat-sehatnya dan sebikin-bikin-kesalnya, beliauw ketika itu sudah 74.

Namun karena hampir seumur hidup saya bersamanya;  bertemu hampir setiap hari, maka saya merasa kehilangan sensitivitas. Apalagi secara tampak luar, ibu saya tergolong sangat bugar dibanding ibu-ibu seumurnya bahkan yang jauh di bawah umurnya pun. Jadi, saya sering membiarkan ibu “bermain” sendiri.

Maka, bagai termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi (ampuni saya ya Allah), sampai jugalah saya di fase hidup puenuh penyesalan ini. Setiap kali sedang bersih-bersih rumah, mata mendadak basah. Selain setiap sudut mengingatkannya, alat-alat bersih juga sebagian dibeli oleh beliau seperti sapu, kain pel, dll. Kadang suka menemukan detail-detail kecil hasil kerjaan ibu saya yang saya tidak mengerti untuk apa beliau melakukannya.

Banyak hal yang dikerjakan ibu saya baru terasa gunanya justru setelah H plus sekian hari kemudian; sesuatu yang pada awalnya seperti tidak terlalu penting, tiba-tiba menjadi terasa setelah beliau pergi. Misalnya, ibu sering ke belakang rumah, ke ruang terbuka sempit antara rumah kami dan rumah tetangga, yang mana  kadang saya tidak peduli pada apa yang sedang dikerjakan ibu di sana.

Hingga sekarang saya ditinggal, saya baru sadar. Di dapur yang posisinya di bagian belakang, sering tercium bau menyengat kotoran tikus. Padahal di masa ibu saya masih ada, hal ini nyaris tidak pernah terjadi :’) :’(

Sedikit “menghibur”, yakni ketika dini hari itu datang, untunglah saya sedang tidak kemana-mana, sedang bergadang malah, sehingga almarhumah tidak sedang sendiri ketika menghadapi jam-jam terakhinya; hal yang tidak ingin saya alami terjadi pada saya juga (aamiin yarobal alamiin).

Penyesalan, hal yang selalu datang terlambat. Kalau tidak terlambat, tidak akan pernah ada kata bernama “sesal, menyesal, penyesalan”. Tapi kenapa manusia bahkan seringkali lebih bodoh dari keledai yang (kata peribahasa) tidak terperosok ke lubang yang sama dua kali?

Maka, saya juga ingin meneruskan pesan teman saya yang sudah lebih dulu ditinggal ibunya itu, untuk siapa pun yang masih memiliki ibu (dan bapak), agar jangan sampai MENYESAL. Jika perlu, mungkin kita bisa meniru apa yang dilakukan Ding Zhu Ji terhadap ibunya seperti pada gambar di atas. Sanggupkah? **

No comments: