Salah satu hal pertama yang ingin saya lakukan di internet setelah ibu
saya pulang ke rumah Allah adalah: meng-googling dengan kata/kalimat kunci seperti:
bagaimana cara mendapatkan maaf dari orang tua yang sudah meninggal. Hal ini berangkat
dari penyesalan (biasa lah manusia, atau biasa lah saya) karena ibu saya meninggal
dengan cara yang tergolong cepat sekali, di tengah kondisi yang tampak sehat :'
Saya tadinya agak cemas bahwa dosa terhadap ortu yang sudah meninggal,
takkan termaafkan. Tapi di sisi lain, saya rasanya juga percaya, tak ada dosa yang tidak termaafkan di dalam agama saya sejauh manusia yang besangkutan menyatakan
bertobat. Syukurlah, di internet bertebaran cara bagaimana menebus dosa
terhadap orang tua yang sudah meninggal. Kuncinya ada di "amalan yang tidak terputus ketika
manusia meninggal", yakni: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang
saleh. Kelihatannya peluang kita yang masih hidup ada di yang terakhir.
Dari sejumlah bacaan di internet, saya menyimpulkan, beberapa hal yang bisa dilakukan agar dosa kita kepada ortu dimaafkan adalah (semoga saya selalu diingatkan untuk melakukan keempat hal ini):
Dari sejumlah bacaan di internet, saya menyimpulkan, beberapa hal yang bisa dilakukan agar dosa kita kepada ortu dimaafkan adalah (semoga saya selalu diingatkan untuk melakukan keempat hal ini):
1. Mendoakannya
2. Bersedekah atas nama ortu
3. Tidak memutus silaturahim dengan saudara/teman/sahabat-sahabat
ortu kita
4. Dan tentu saja tidak melakukan hal yang
mempermalukan ortu
Maka sembilan bulan terakhir ini saya jadi "mendadak
dangdut"; akrab dan banyak berbasa-basi dengan ibu-ibu mantan teman baik ibu
saya semasa hidup. Saya juga melanjutkan tradisi menabung di tabungan/koperasi
ibu-ibu komplek. Akibatnya, banyak misteri kecil bermunculan yang bmembuat saya
penasaran: kenapa ibu saya melakukan ini dan melakukan itu.
Misalnya, salah seorang teman ibu saya “membocorkan” rahasia bahwa ibu saya pernah curhat suka membuang obat-obatan
pribadinya jika sedang keluar rumah (ibu saya pernah dirawat di RS karena terkena stroke yang
membuat memorinya agak terganggu). Pantesan, saya sering dibikin heran kenapa
obat-obatan yang harganya muahiiil itu kok cepat habis tapi tidak ada sampah
bungkusnya. Ah…
Setiap Detail
di Rumah, “Menghantui”
Seorang teman di fesbuk yang baru kehilangan ibunya menulis status agar
jangan sampai mengalami penyesalan jika suatu saat mendapat giliran ditinggal
ibu. Saya membaca, tapi tidak mengomentari karena kurang akrab dengannya. Saya teringatkan akan kemungkinan itu; saya juga pernah
menyesal karena kurang “mendekatkan diri” pada bapak saya ketika beliau
meninggal.
Atas dasar itu juga, kalau sedang eling saya biasanya sengaja
duduk di dekat ibu saya yang sedang nonton acara kesukaannya di televisi yang
tak saya sukai. Atau kadang kalau kelupaan asyik di kamar, buru-buru saya keluar
kamar dan mencari-cari dimana beliau berada. Sayangnya, menjelang
hari-hari “H” beliau, saya sedang tak ada yang mengingatkan (hiks).
Bahkan bisa dibilang, saya sedang dirundung galau sehingga
terlalu fokus pada masalah saya sendiri. Dan ini rasa-rasanya berimbas pada
temperamen saya yang jadi mudah tersinggung, mudah kesal—meskipun memang ada juga hal-hal yang
selalu tak cocok antara saya dan ibu.
Misalnya, kalau saya habis bersih-bersih rumah dan mengatur posisi
barang agar tak mudah kotor lagi, ibu saya akan mengembalikan posisi barang
tersebut meskipun saya sudah mewartakan baik-baik. Atau, ibu saya suka mencabuti tanaman-tanaman
yang sengaja saya tanam, padahal saya sudah seringkali memohon agar jangan
dicabuti. Saya sadar beliau sudah sepuh, tapi…. ah, biasalah manusia.
Itu hanya dua dari sekian banyak ketidakcocokan sepele yang bikin saya
sering terjebak jadi anak durhaka. Ketidakcocokan sepele itu biasanya lebih sering berurusan dengan masalah bersih-bersih rumah doang, arrrgh… (ya Allah masukkan
ibu saya ke surga-Mu).
Kalau sedang “rame” dengan ibu, maka sesuai karakter saya, saya suka
ngambek dan gamau ngajak ibu saya ngobrol. Saya pun lebih tenggelam lagi di
dalam kamar. Kalau sedang sadar, maka saya tiba-tiba ingat bahwa
sesehat-sehatnya dan sebikin-bikin-kesalnya, beliauw ketika itu sudah 74.
Namun karena hampir seumur hidup saya bersamanya; bertemu hampir setiap hari, maka saya merasa kehilangan
sensitivitas. Apalagi secara tampak luar, ibu saya tergolong sangat bugar
dibanding ibu-ibu seumurnya bahkan yang jauh di bawah umurnya pun. Jadi, saya
sering membiarkan ibu “bermain” sendiri.
Maka, bagai termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi (ampuni
saya ya Allah), sampai jugalah saya di fase hidup puenuh penyesalan ini. Setiap
kali sedang bersih-bersih rumah, mata mendadak basah. Selain setiap sudut
mengingatkannya, alat-alat bersih juga sebagian dibeli oleh beliau seperti sapu, kain pel, dll. Kadang suka
menemukan detail-detail kecil hasil kerjaan ibu saya yang saya tidak mengerti
untuk apa beliau melakukannya.
Banyak hal yang dikerjakan ibu saya baru terasa gunanya justru setelah H plus sekian hari kemudian; sesuatu yang
pada awalnya seperti tidak terlalu penting, tiba-tiba menjadi terasa setelah
beliau pergi. Misalnya, ibu sering ke belakang rumah, ke ruang terbuka sempit antara
rumah kami dan rumah tetangga, yang mana
kadang saya tidak peduli pada apa yang sedang dikerjakan ibu di sana.
Hingga sekarang saya ditinggal, saya baru sadar. Di dapur yang
posisinya di bagian belakang, sering tercium bau menyengat kotoran tikus. Padahal
di masa ibu saya masih ada, hal ini nyaris tidak pernah terjadi :’) :’(
Sedikit “menghibur”, yakni ketika dini hari itu datang, untunglah saya
sedang tidak kemana-mana, sedang bergadang malah, sehingga almarhumah tidak
sedang sendiri ketika menghadapi jam-jam terakhinya; hal yang tidak ingin saya
alami terjadi pada saya juga (aamiin yarobal alamiin).
Penyesalan, hal yang selalu datang terlambat. Kalau tidak terlambat,
tidak akan pernah ada kata bernama “sesal, menyesal, penyesalan”. Tapi kenapa
manusia bahkan seringkali lebih bodoh dari keledai yang (kata peribahasa) tidak terperosok ke
lubang yang sama dua kali?
Maka, saya juga ingin meneruskan pesan teman saya yang sudah lebih
dulu ditinggal ibunya itu, untuk siapa pun yang masih memiliki ibu (dan bapak),
agar jangan sampai MENYESAL. Jika perlu, mungkin kita bisa meniru apa yang
dilakukan Ding Zhu Ji terhadap ibunya seperti pada gambar di atas. Sanggupkah? **

No comments:
Post a Comment